TKA SMP 2026 Ubah Persepsi: Dari Ujian Menegangkan Jadi Instrumen Penguatan Pembelajaran

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP tahun 2026 mulai menunjukkan perubahan signifikan dalam cara pandang murid, guru, hingga satuan pendidikan. Perubahan ini terlihat di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Pelalawan dan Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; PEKANBARU – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP tahun 2026 mulai menunjukkan perubahan signifikan dalam cara pandang murid, guru, hingga satuan pendidikan. Jika sebelumnya dipersepsikan sebagai ujian yang menegangkan, kini TKA dipahami sebagai sarana refleksi untuk mengukur kemampuan sekaligus memperkuat proses belajar.

Perubahan ini terlihat di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Pelalawan dan Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Para murid yang semula cemas, perlahan mulai melihat TKA sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar tes penentu.

Dari Rasa Cemas ke Percaya Diri


Fidelia Noviyanti Hutagaol, murid kelas IX SMP Negeri Bernas, mengaku sempat deg-degan saat pertama kali mendengar tentang TKA.

“Awalnya takut karena belum pernah ada sebelumnya. Tapi setelah dikerjakan, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan,” ujar Fidelia.

Pengalaman serupa dirasakan murid lain di sekolah tersebut. Mereka menilai tingkat kesulitan soal berada pada level menengah dan masih dapat dikerjakan dengan baik, terutama setelah melakukan latihan dan pembahasan di kelas.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyatakan bahwa perubahan persepsi itu memang menjadi esensi TKA.

“TKA itu seperti medical check-up dalam pendidikan. Kita perlu mengetahui kondisi sebenarnya, apa yang perlu diperkuat dan diperbaiki. Dari situ kebijakan disusun berbasis data, bukan perkiraan,” ujar Wamen Fajar saat berdialog dengan pihak sekolah, seperti dalam siaran pers yang diterima pada Senin (13/4/2026).

Pembelajaran Lebih Terarah dan Terintegrasi

Dari sisi guru, pendekatan yang digunakan juga berubah. Persiapan TKA tidak dilakukan secara terpisah, melainkan diintegrasikan ke dalam pembelajaran reguler.

“Kami membahas soal-soal TKA di jam pelajaran. Jadi anak-anak tetap belajar tanpa merasa terbebani,” kata Savitri Oktavia, guru SMP Bernas.

Kepala SMP Negeri Bernas, Marisah, menilai TKA justru mendorong peningkatan motivasi belajar murid. Menurutnya, kehadiran asesmen ini membuat siswa lebih serius mempersiapkan diri.

“TKA sangat baik karena menguji potensi murid sekaligus kemampuan sekolah. Anak-anak menjadi lebih giat belajar,” ujar Marisah.

Di SMP Negeri 4 Pekanbaru, pelaksanaan TKA juga berjalan lancar dengan partisipasi 100 persen. Kepala sekolah Rukiah menyebut materi yang diujikan sejalan dengan penguatan numerasi dan literasi yang telah diterapkan di sekolah.

“TKA menjadi instrumen penting untuk mengukur kemampuan individu murid, termasuk sebagai bekal dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB),” jelas Rukiah.

Soal Berbasis Literasi dan Numerasi

Muhammad Gafasyarianto, murid kelas IX SMP Negeri 4 Pekanbaru, mengaku awalnya takut menghadapi TKA. Namun, setelah berlatih dan memahami pola soal, rasa khawatir itu berubah menjadi motivasi.

“Soalnya menuntut pemahaman, bukan sekadar hafalan. Banyak yang menggabungkan literasi dan numerasi,” kata Gafasyarianto.

Guru Bahasa Inggris sekaligus Ketua Panitia TKA 2026 di sekolah tersebut, Sri Romadona, menyebut tantangan awal justru datang dari kekhawatiran orang tua dan guru karena ini merupakan pelaksanaan perdana.

“Setelah diberikan contoh soal dan kisi-kisi, anak-anak jadi lebih siap. Kekhawatiran perlahan hilang,” ujar Sri.

Pendekatan ini selaras dengan arah kebijakan asesmen nasional yang menekankan penguatan kompetensi dasar literasi dan numerasi sebagaimana direkomendasikan berbagai studi internasional, termasuk kerangka Programme for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-operation and Development.

Kolaborasi Jadi Kunci

Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Riau, Nilam Suri, menegaskan bahwa kelancaran pelaksanaan TKA tidak lepas dari kolaborasi satuan pendidikan dan pemerintah daerah.

“Pelaksanaan TKA di Riau berjalan lancar. Ini menunjukkan kesiapan sekolah sekaligus komitmen bersama untuk memastikan asesmen ini benar-benar memberi manfaat bagi peningkatan mutu pembelajaran,” ujar Nilam.

Secara teknis, pelaksanaan TKA juga didukung infrastruktur memadai seperti komputer, jaringan internet, dan listrik yang stabil. Namun yang lebih penting, terjadi pergeseran paradigma: asesmen tidak lagi dipandang sebagai momok, melainkan bagian dari proses tumbuh dan berkembang murid.

Perubahan cara pandang ini menjadi fondasi penting dalam membangun budaya belajar yang lebih sehat, reflektif, dan berkelanjutan. TKA, pada akhirnya, bukan sekadar tes—melainkan cermin untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran telah berjalan dan ke mana arah perbaikannya.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "TKA SMP 2026 Ubah Persepsi: Dari Ujian Menegangkan Jadi Instrumen Penguatan Pembelajaran"