Wamendikdasmen Fajar: Sertifikasi dan Mentalitas Global Jadi Senjata Lulusan SMK Tembus Pasar Kerja Dunia

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Bantuan Pemerintah Program Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Bahasa Asing Murid SMK 2026 di Tangerang, Banten, Selasa (7/4/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; TANGERANG – Pemerintah kian serius mendorong lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar mampu bersaing di level internasional. Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), anggaran ratusan miliar rupiah digelontorkan untuk memperkuat sertifikasi kompetensi dan penguasaan bahasa asing siswa SMK pada 2026.

Komitmen itu ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Bantuan Pemerintah Program Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Bahasa Asing Murid SMK 2026 di Tangerang, Banten, Selasa (7/4/2026).

Menurut Wamen Fajar, pemerintah mengalokasikan lebih dari Rp112,5 miliar untuk sertifikasi kompetensi dan Rp75 miliar untuk sertifikasi bahasa asing. Kebijakan ini disebut sebagai bentuk keberpihakan nyata negara terhadap pendidikan vokasi, terutama di tengah tekanan ekonomi dan dinamika global.

“Lulusan SMK harus memiliki hard skill dan soft skill yang kuat, mentalitas kompetitif, serta daya adaptasi tinggi. Dunia kerja kini bergerak cepat dan lintas negara,” ujar Wamen Fajar.

Wamen Fajar menekankan perubahan cara pandang menjadi kunci. Meski bekerja di daerah, lulusan SMK harus memiliki perspektif global. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan siswa vokasi masuk dalam rantai pasok talenta global, baik sebagai tenaga profesional, teknisi industri, maupun wirausaha.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyebut penguasaan bahasa asing sebagai pintu utama menembus pasar kerja internasional. Program sertifikasi 2026 tidak hanya mencakup bahasa Inggris, tetapi juga Jepang, Mandarin, Prancis, dan Jerman—bahasa yang relevan dengan kebutuhan industri global.

Tahun ini, target penerima manfaat meningkat signifikan. Jika sebelumnya menjangkau sekitar 100 ribu siswa, pada 2026 program ditargetkan menyasar hingga 250 ribu peserta dari berbagai daerah. Langkah ini diharapkan memperluas akses sertifikasi dan menciptakan pemerataan kualitas lulusan SMK di seluruh Indonesia.

Dorongan penguatan vokasi sejalan dengan agenda revitalisasi SMK yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi prioritas nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lulusan SMK kerap menghadapi tantangan dalam transisi ke dunia kerja. Karena itu, sertifikasi berbasis kompetensi dan pengakuan kemampuan bahasa asing dinilai penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus mobilitas kerja lintas negara.

Selain membuka peluang kerja formal di luar negeri, pemerintah juga mendorong lulusan SMK memperkuat kelas menengah melalui kewirausahaan. Sertifikasi dinilai dapat meningkatkan kredibilitas usaha sekaligus memperluas jejaring bisnis global.

Bimtek ini juga menjadi forum strategis bagi kepala sekolah untuk menyelaraskan pelaksanaan teknis bantuan agar sesuai standar nasional. Praktik baik antar-SMK dibagikan guna menciptakan ekosistem pembelajaran yang produktif dan adaptif terhadap kebutuhan industri.

Dengan kombinasi kompetensi teknis, penguasaan bahasa asing, serta mentalitas global, pemerintah berharap lulusan SMK Indonesia mampu mengisi posisi strategis di sektor industri internasional dan berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "Wamendikdasmen Fajar: Sertifikasi dan Mentalitas Global Jadi Senjata Lulusan SMK Tembus Pasar Kerja Dunia"