Editor: Endro Yuwanto
GEBRAK.ID; MAJALENGKA – Transformasi pendidikan nasional tidak cukup hanya dengan perubahan kebijakan. Kualitas pembelajaran di ruang kelas harus menjadi pusat perhatian jika Indonesia ingin menyiapkan Generasi Emas 2045.
Hal itu ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat menghadiri Seminar Pendidikan Nasional yang digelar Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) di Universitas Majalengka, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).
Dalam forum tersebut, Wamen Fajar menekankan bahwa transformasi pendidikan harus bertumpu pada penguatan kompetensi dasar siswa, terutama literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis.
“Transformasi pendidikan perlu ditopang oleh pemahaman yang utuh terhadap capaian belajar peserta didik, sehingga langkah perbaikan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran,” ujar Wamen Fajar dalam keterangan resminya, Rabu (22/4/2026).
Asesmen Jadi Fondasi Perbaikan
Menurut Wamen Fajar, penguatan sistem asesmen pembelajaran menjadi instrumen penting dalam membaca kondisi riil kemampuan siswa. Data yang diperoleh dari asesmen tersebut menjadi dasar dalam merancang kebijakan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Wamen Fajar menilai, tanpa data yang akurat, transformasi pendidikan berisiko berjalan tanpa arah yang jelas.
“Data capaian belajar membantu sekolah dan pemerintah mengambil langkah yang tepat. Transformasi tidak bisa berbasis asumsi,” tegas Wamen Fajar.
Kepala Sekolah Sebagai Penggerak Utama
Dalam paparannya, Wamen Fajar juga menyoroti peran strategis kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran atau instructional leader. Ia menyebut kepala sekolah sebagai aktor sentral dalam menentukan arah perubahan di satuan pendidikan.
“Peran kepala sekolah sangat menentukan arah transformasi pendidikan di sekolah. Kepala sekolah adalah penggerak utama ekosistem pembelajaran,” kata Wamen Fajar.
Kepala sekolah, lanjut Wamen Fajar, perlu memperkuat fungsi pembinaan terhadap guru, mendorong pengembangan profesional berkelanjutan, serta memastikan terciptanya lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi siswa.
Guru dan Budaya Kolaborasi
Tak kalah penting, transformasi pendidikan juga menuntut peningkatan kompetensi guru secara konsisten. Guru didorong untuk terus memperbarui kapasitas profesionalnya melalui pelatihan, komunitas belajar, serta berbagi praktik baik.
Wamen Fajar mengapresiasi peran organisasi profesi seperti AKSI yang menjadi wadah kolaborasi kepala sekolah.
“Transformasi pendidikan membutuhkan budaya belajar bersama. Kepala sekolah perlu saling berbagi pengalaman dan solusi untuk meningkatkan mutu pembelajaran,” ujar Wamen Fajar.
Wamen Fajar menilai, kolaborasi antarpendidik akan mempercepat penyebaran inovasi dan praktik baik di berbagai daerah.
Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Lebih jauh, Wamen Fajar mengingatkan bahwa transformasi pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Dukungan keluarga dan masyarakat menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun fondasi pendidikan yang kuat,” jelas Wamen Fajar.
Di akhir sambutannya, Wamen Fajar mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergotong royong mewujudkan sistem pendidikan yang lebih berkualitas dan berdaya saing global.
“Dengan penguatan kualitas pembelajaran, kepemimpinan pendidikan yang efektif, dan kolaborasi yang solid, kita optimistis dapat mewujudkan Generasi Emas Indonesia yang unggul dan berdaya saing,” pungkas Wamen Fajar.
Seminar Pendidikan Nasional ini menjadi salah satu forum strategis untuk menyamakan visi antara pemerintah dan para kepala sekolah dalam mendorong transformasi pendidikan nasional yang berkelanjutan.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Wamendikdasmen Fajar: Transformasi Pendidikan tak Bisa Sendiri, Kepala Sekolah dan Guru Jadi Kunci"