Bukan Sekadar Ganti Nama: Kenapa Kemdiktisaintek Ubah "Teknik" Jadi "Rekayasa"? Ini Daftar Lengkap 57 Prodi yang Berubah

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengubah nomenklatur program studi dari "Teknik" menjadi "Rekayasa" untuk seluruh jenjang pendidikan akademik dan profesi. (Foto: Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA – Pernah membayangkan seorang sarjana teknik dipanggil "insinyur rekayasa" alih-alih "insinyur teknik"? Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar perbedaan kosakata. 

Namun di balik perubahan istilah itu, ada arah kebijakan pendidikan tinggi yang lebih dalam dan serius. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengubah nomenklatur program studi dari "Teknik" menjadi "Rekayasa" untuk seluruh jenjang pendidikan akademik dan profesi.

Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek Nomor 96/B/KPT/2025 tentang Nama Program Studi pada Jenis Pendidikan Akademik dan Pendidikan Profesi. Meski surat keputusan ini diterbitkan tahun lalu, implementasi dan diskusi publiknya baru terasa signifikan memasuki pertengahan 2026, terutama setelah berbagai kampus mulai menyesuaikan nama-nama program studi mereka.

Lantas, apa sebenarnya yang melatarbelakangi perubahan ini? Apakah sekadar pergantian label, atau ada fondasi filosofis yang lebih kokoh?

Bukan Sekadar Terjemahan

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Kemdiktisaintek, Dr. Andi Setyo Pranowo, M.Si., yang dihubungi melalui sambungan telepon, perubahan nomenklatur ini bukanlah tindakan administratif serampangan. 

"Istilah 'rekayasa' lebih mencerminkan esensi dari keilmuan teknik itu sendiri, yaitu proses merancang, membangun, dan menciptakan solusi berbasis sains," ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Dr. Andi menjelaskan bahwa kata "teknik" dalam bahasa Indonesia kerap dipersempit maknanya menjadi keterampilan praktis atau vokasional. Sementara "rekayasa" memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup aktivitas intelektual berupa perancangan (design), inovasi, dan pemecahan masalah kompleks.

Senada dengan itu, pengamat pendidikan tinggi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met., menilai perubahan ini sejalan dengan tren global. 

"Secara internasional, kita mengenal istilah 'engineering' yang lebih dekat ke 'rekayasa' ketimbang 'teknik'. Di negara-negara maju, engineering dipahami sebagai profesi yang memadukan sains, matematika, dan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat," jelas Prof Muhammad Anis.

Kampus Bebas Memilih, tapi Ada Catatan

Menariknya, meski aturan sudah diterbitkan, Kemdiktisaintek tidak memaksa perguruan tinggi untuk serta-merta mengganti seluruh nama prodi yang sudah eksis. Dalam surat keputusan tersebut disebutkan bahwa perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN-BH) dapat menggunakan nama program studi yang sepadan dengan nama dalam keputusan ini, dengan kewajiban melaporkan kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Fakta di lapangan menunjukkan respons yang beragam. Institut Teknologi Bandung (ITB) masih mempertahankan nama "Teknik" untuk mayoritas program studi lamanya. Istilah "Rekayasa" baru digunakan pada prodi-prodi yang lebih baru seperti Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Infrastruktur Lingkungan.

Pola serupa juga terlihat di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kampus ini tetap mempertahankan nama "Teknik" untuk prodi-prodi klasiknya. Adapun "Rekayasa" digunakan pada program studi yang lebih kontemporer seperti Rekayasa Kecerdasan Artifisial, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Rekayasa Keselamatan Proses.

Pakar linguistik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Nani Darmayanti, M.Hum., menilai fleksibilitas ini tepat. "Bahasa itu organik, tidak bisa dipaksakan secara revolusioner. Perguruan tinggi yang sudah memiliki reputasi dengan nama 'Teknik' tentu memiliki ekuitas merek yang perlu dipertimbangkan. Perubahan bertahap lebih bijak daripada pemaksaan serentak," ujarnya.

Implikasi bagi Calon Mahasiswa

Bagi calon mahasiswa yang tengah bersiap mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi, perubahan nomenklatur ini penting dicermati. Jangan sampai niat mendaftar Teknik Informatika justru kebingungan saat menemukan nama "Rekayasa Komputer" di formulir pendaftaran.

Dr. Andi Setyo Pranowo mengimbau agar para calon mahasiswa lebih jeli membaca deskripsi dan kurikulum program studi, bukan hanya terpaku pada nama. "Yang paling penting adalah memahami kompetensi lulusan dan profil pekerjaan yang akan digeluti setelah lulus. Nama boleh berubah, tetapi esensi keilmuannya tetap sama," pesannya.

Berikut daftar perubahan nomenklatur selengkapnya yang perlu diketahui:

Daftar Lengkap Perubahan Nama Prodi Teknik Menjadi Rekayasa

1.  Rekayasa Berkelanjutan (Sustainability Engineering)
2.  Rekayasa Bioenergi dan Kemurgi (Bioenergy Engineering and Chemurgy)
3.  Rekayasa Biomedis (Biomedical Engineering)
4.  Rekayasa Biosistem (Biosystem Engineering)
5.  Rekayasa Pertanian dan Biosistem (Agricultural and Biosystem Engineering)
6.  Rekayasa Pertanian (Agricultural Engineering)
7.  Rekayasa Dirgantara (Aerospace Engineering)
8.  Rekayasa Aeronautika (Aeronautics Engineering)
9.  Rekayasa Elektro (Electrical Engineering)
10. Rekayasa Energi Terbarukan (Renewable Energy Engineering)
11. Rekayasa Energi Panas Bumi (Geothermal Energy Engineering)
12. Rekayasa Tenaga Listrik (Electrical Power Engineering)
13. Rekayasa Sistem Energi (Energy System Engineering)
14. Rekayasa Fisika (Physics Engineering)
15. Rekayasa Geodesi (Geodetic Engineering)
16. Rekayasa Geofisika (Geophysical Engineering)
17. Rekayasa Geologi (Geological Engineering)
18. Rekayasa Geomatika (Geomatics Engineering)
19. Rekayasa Pengindraan Jauh (Remote Sensing Engineering)
20. Rekayasa Industri (Industrial Engineering)
21. Manajemen Rekayasa (Engineering Management)
22. Rekayasa Logistik (Logistic Engineering)
23. Rekayasa Industri dan Manajemen (Industrial Engineering and Management)
24. Rekayasa Industri Pertanian (Agro-industrial Engineering)
25. Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (Instrumentation and Control Engineering)
26. Rekayasa Instrumentasi dan Automasi (Instrumentation and Automation Engineering)
27. Rekayasa Kelautan (Ocean Engineering)
28. Rekayasa Perkapalan (Naval Architecture Engineering)
29. Rekayasa Sistem Perkapalan (Marine Engineering)
30. Rekayasa Transportasi Laut (Marine Transport Engineering)
31. Rekayasa Keselamatan (Safety Engineering)
32. Rekayasa Keselamatan Kebakaran (Fire Safety Engineering)
33. Rekayasa Kimia (Chemical Engineering)
34. Rekayasa Bioproses (Bioprocess Engineering)
35. Rekayasa Komputer (Computer Engineering)
36. Rekayasa Kosmetik (Cosmetics Engineering)
37. Rekayasa Lingkungan (Environmental Engineering)
38. Rekayasa Material (Materials Engineering)
39. Rekayasa Metalurgi (Metallurgical Engineering)
40. Rekayasa Material dan Metalurgi (Metallurgical and Materials Engineering)
41. Rekayasa Mesin (Mechanical Engineering)
42. Rekayasa Manufaktur (Manufacturing Engineering)
43. Rekayasa Mekatronika (Mechatronics Engineering)
44. Rekayasa Nuklir (Nuclear Engineering)
45. Rekayasa Perminyakan (Petroleum Engineering)
46. Rekayasa Minyak dan Gas (Oil and Gas Engineering)
47. Rekayasa Pertambangan (Mining Engineering)
48. Rekayasa Perumahsakitan (Hospital Engineering)
49. Rekayasa Sipil (Civil Engineering)
50. Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan (Infrastructure and Environmental Engineering)
51. Rekayasa Transportasi (Transportation Engineering)
52. Rekayasa Sumber Daya Air (Water Resources Engineering)
53. Rekayasa Perkeretaapian (Railway Engineering)
54. Rekayasa Telekomunikasi (Telecommunications Engineering)
55. Rekayasa Hayati (Bioengineering)
56. Rekayasa Tekstil (Textile Engineering)
57. Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (Robotics Engineering and Artificial Intelligence).

Perubahan ini menjadi penanda bahwa dunia pendidikan tinggi Indonesia terus berevolusi, menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan global. 

Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa, memahami substansi di balik perubahan nama adalah langkah awal untuk tidak sekadar mengejar gelar, melainkan menguasai keilmuan yang sesungguhnya.

(Sumber: Kemendiktisaintek)

Posting Komentar untuk "Bukan Sekadar Ganti Nama: Kenapa Kemdiktisaintek Ubah "Teknik" Jadi "Rekayasa"? Ini Daftar Lengkap 57 Prodi yang Berubah"