Haji tanpa Bagasi Resmi Diluncurkan, Jemaah Indonesia Bakal Dimanja? Ini Skema dan Keuntungannya

Hajj without luggage diluncurkan Arab Saudi sebagai bagian dari pelayanan kepada jamaah haji (Foto: Freepik) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA--Arab Saudi meluncurkan terobosan besar dalam layanan haji 2026 dengan menghadirkan program “Hajj Without Luggage” atau Haji Tanpa Bagasi. Sistem ini memungkinkan koper jemaah dikirim langsung dari negara asal ke hotel di Arab Saudi, sehingga jemaah bisa langsung menuju bus transportasi setibanya di bandara tanpa perlu menunggu atau mengurus bagasi.

Skema Sistem Haji Tanpa Bagasi

Berdasarkan informasi dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi serta maskapai Saudia, berikut alur layanan ini:

1. Pengumpulan bagasi di bandara keberangkatan – Koper jemaah dikumpulkan sejak di bandara asal melalui perusahaan logistik khusus yang telah ditunjuk.

2. Pengiriman ke Arab Saudi – Bagasi dikirim secara terpisah dari penumpang, menggunakan sistem logistik terpadu.

3. Penerimaan di bandara tujuan (Jeddah atau Madinah) – Petugas di sisi kargo menangani bagasi tanpa keterlibatan jemaah.

4. Distribusi langsung ke hotel – Koper diantar ke hotel tempat jemaah menginap di Makkah atau Madinah.

5. Jemaah langsung ke bus – Setelah turun dari pesawat, jemaah bisa langsung menuju bus transportasi tanpa antre di karusel bagasi.

Layanan ini dijalankan bersama General Authority of Civil Aviation, Matarat Holding, platform Nusuk, sistem HalaBag, dan Saudi Post. Target pengiriman bagasi ke hotel di Makkah adalah dalam waktu 24 jam sejak pesawat mendarat.

Keuntungan Sistem Ini

Aspek Keuntungan

• Kenyamanan Jemaah, terutama lansia dan rombongan besar, tidak perlu memanggul koper berat di bandara yang padat.

• Efisiensi waktu Memangkas antrean dan waktu tunggu bagasi, percepat proses keluar bandara.

• Pengurangan kepadatan Menekan penumpukan massa di area kedatangan bandara saat puncak musim haji.

• Fokus ibadah Jemaah bisa lebih konsentrasi pada ritual haji tanpa beban logistik.

• Integrasi digital Pelacakan bagasi terhubung dengan sistem informasi haji, meminimalkan risiko kehilangan koper.

Layanan ini diproyeksikan menangani sekitar 1,1 juta bagasi dari tujuh negara peserta program Makkah Route Initiative.

Apakah Ini Baru Pertama Kali?

Bukan. Gagasan ini pertama kali diuji coba pada 2017 dalam skala terbatas melalui Makkah Route Initiative untuk sebagian jemaah asal Malaysia. Kini, pada 2026, skema tersebut berkembang menjadi program besar yang mencakup lebih dari 400.000 jemaah melalui jaringan Saudia yang menjangkau 145 destinasi.

Anggota komite penasihat hospitality King Abdulaziz University, Bader Al-Juaid, menyebut ini sebagai perubahan mendasar dalam konsep pelayanan haji. “Pendekatan ini tak lagi sekadar memindahkan jemaah, tetapi juga mengurangi beban operasional yang mengganggu kenyamanan ibadah,” ujarnya.

Apakah Jemaah Indonesia Termasuk?

Sampai berita ini diturunkan (21 Mei 2026), belum ada pengumuman resmi apakah Indonesia menjadi salah satu negara peserta program Hajj Without Luggage 2026. Namun, mengingat jumlah jemaah Indonesia adalah terbesar di dunia, sangat mungkin skema ini akan diimplementasikan secara bertahap. Jemaah disarankan memantau informasi dari Kemenag RI dan maskapai penerbangan haji.

Program Hajj Without Luggage adalah lompatan besar dalam logistik ibadah haji. Meski baru berjalan penuh tahun ini, akarnya sudah diuji coba sejak 2017. Jemaah yang beruntung menikmati layanan ini bisa lebih fokus beribadah dan terhindar dari kepadatan bandara. Bagi jemaah Indonesia, kita tunggu kabar resmi apakah layanan ini juga berlaku untuk tanah air.

(berbagai sumber)