GEBRAK.ID -- Indonesia kembali mencuri perhatian panggung seni internasional lewat kehadiran Paviliun Indonesia dalam ajang bergengsi Venice Biennale 2026. Mengusung tema “Printing the Unprinted”, partisipasi Indonesia tahun ini tidak hanya menghadirkan karya seni rupa kontemporer, tetapi juga membawa narasi besar tentang sejarah, identitas, dan imajinasi Nusantara ke hadapan publik global.
Paviliun Indonesia resmi dibuka di kawasan Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio, Venesia, Italia, dan akan berlangsung hingga 22 November 2026. Kehadiran Indonesia dalam pameran seni paling prestisius di dunia itu menjadi bagian dari strategi diplomasi budaya sekaligus upaya memperkuat posisi seni rupa Indonesia di tingkat internasional.
Berbeda dari pameran seni konvensional, konsep “Printing the Unprinted” menghadirkan pendekatan artistik berbasis proses, dialog, dan kolaborasi lintas budaya. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya diproduksi di Indonesia lalu dikirim ke Italia, tetapi juga dikembangkan melalui residensi seniman dan interaksi langsung di Venesia.
Kurator paviliun, Aminudin TH Siregar, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dipilih untuk menciptakan ruang pertukaran gagasan yang lebih hidup.
“Paviliun ini tidak hanya bicara soal hasil akhir karya seni, tetapi juga tentang perjalanan, percakapan, dan proses kreatif yang terjadi selama para seniman bekerja bersama,” ujar Aminudin dalam siaran pers pada Sabtu (9/5/2026).
Tema “Printing the Unprinted” mempertemukan tujuh seniman Indonesia lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Melalui medium seni cetak grafis atau printmaking, mereka menghadirkan karya yang mengeksplorasi ingatan kolektif, sejarah alternatif, hingga imajinasi masa depan Indonesia.
Secara konseptual, pameran ini berangkat dari kisah fiksi mengenai pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra. Narasi tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan Asia dan Eropa dari perspektif berbeda, sekaligus mengkritisi sejarah global yang selama ini didominasi sudut pandang kolonial dan penemuan Barat.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyebut partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 menjadi momentum penting karena merupakan keikutsertaan pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri.
“Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan budaya kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” kata Fadli Zon saat pembukaan paviliun di Venesia.
Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan kelompok etnis, serta ratusan bahasa daerah yang menjadi sumber inspirasi tak terbatas bagi perkembangan seni dan kreativitas.
Menurut Fadli Zon, seni tidak lagi sekadar menjadi ekspresi artistik, melainkan juga bagian penting dari diplomasi budaya dan penguatan identitas bangsa di level internasional.
Selain menghadirkan pameran utama, Paviliun Indonesia juga menggelar berbagai program pendukung seperti diskusi seni, lokakarya, residensi seniman, hingga simposium budaya. Program-program tersebut dirancang untuk memperluas jejaring seni Indonesia sekaligus membuka ruang kolaborasi global.
Menariknya, proyek ini juga melibatkan talenta muda dari program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya yang berkolaborasi langsung dengan para seniman senior di Venesia. Pendekatan yang digunakan bahkan menyentuh aspek art therapy, di mana seni diposisikan sebagai medium penyembuhan, perawatan memori, dan penguatan empati sosial.
Kehadiran Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana seni rupa Indonesia semakin mendapat tempat dalam percakapan seni dunia. Tidak hanya membawa estetika visual, Indonesia juga menawarkan sudut pandang baru mengenai sejarah, identitas budaya, dan masa depan global melalui bahasa seni.
Partisipasi ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia yang mampu menghubungkan tradisi, inovasi, dan diplomasi budaya dalam satu panggung internasional.
(Sumber: Humas Kementerian Kebudayaan)

Posting Komentar untuk "Indonesia Bawa Imajinasi Nusantara ke Venice Biennale 2026: Paviliun “Printing the Unprinted” Jadi Sorotan Dunia"