Kisah Haru PIP di Yogyakarta: Sempat Minder dan Nyaris Putus Sekolah, Kini Murid Kembali Percaya Diri

Di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat, bantuan pendidikan dari pemerintah PIP menjadi penyelamat bagi banyak siswa agar tetap bisa bersekolah dan tidak kehilangan harapan masa depan. (Foto ilustrasi: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; YOGYAKARTA -- Program Indonesia Pintar (PIP) kembali menunjukkan dampak nyata bagi dunia pendidikan Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat, bantuan pendidikan dari pemerintah itu menjadi penyelamat bagi banyak siswa agar tetap bisa bersekolah dan tidak kehilangan harapan masa depan.

Cerita inspiratif itu datang dari sejumlah sekolah di Yogyakarta, salah satunya di SD Negeri Lempuyangan 1 dan SMP Negeri 15 Yogyakarta. Program bantuan pendidikan tersebut bukan hanya membantu kebutuhan sekolah siswa, tetapi juga mengembalikan semangat belajar anak-anak yang sempat terpuruk akibat tekanan ekonomi keluarga.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mengatakan Program Indonesia Pintar memiliki misi besar dalam memutus rantai kemiskinan sekaligus mencegah anak putus sekolah.

“Program PIP diluncurkan dengan dua tujuan utama, yaitu memutus rantai kemiskinan dan mencegah anak putus sekolah karena alasan ekonomi,” ujar Wamen Atip dalam keterangannya di Yogyakarta, Minggu (10/5/2026).

Menurut Wamen Atip, pemerintah terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan sistem agar penyaluran bantuan semakin tepat sasaran, transparan, serta efektif membantu siswa yang benar-benar membutuhkan.

Wamen Atip menekankan bahwa visi utama pemerintah saat ini adalah menghadirkan pendidikan bermutu yang dapat diakses seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali.

“Harus dilakukan perbaikan sistem agar PIP benar-benar efektif. Pendidikan bermutu untuk semua hanya bisa tercapai jika seluruh anak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan,” kata Wamen Atip.

Di balik angka penerima bantuan, terdapat kisah menyentuh yang menggambarkan bagaimana PIP mampu mengubah kehidupan seorang anak.

Kepala SD Negeri Lempuyangan 1, Giyoto, mengungkapkan salah satu siswanya yang disamarkan dengan inisial S sempat mengalami penurunan semangat belajar hingga sering tidak masuk sekolah selama lima sampai enam hari setiap bulan.

Guru-guru di sekolah kemudian melakukan home visit atau kunjungan ke rumah untuk mengetahui kondisi yang dialami siswa tersebut. Dari pendampingan itulah diketahui bahwa persoalan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor yang membuat anak kehilangan motivasi belajar.

Perubahan mulai terjadi setelah keluarga siswa memperoleh pendampingan terkait Program Indonesia Pintar. Guru dan orang tua kemudian bekerja sama membangun kembali disiplin dan rasa percaya diri sang anak.

“Program ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi anak-anak untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Giyoto.

Kini, siswa tersebut disebut kembali aktif mengikuti pembelajaran dan mulai menunjukkan perubahan positif dalam kesehariannya di sekolah.

Pada tahun 2025, SD Negeri Lempuyangan 1 tercatat memiliki 222 siswa penerima manfaat PIP. Sementara hingga Mei 2026, terdapat 20 siswa penerima baru dari berbagai jenjang kelas.

Tak hanya di tingkat sekolah dasar, dampak serupa juga dirasakan di SMP Negeri 15 Yogyakarta.

Kepala SMP Negeri 15 Yogyakarta, Siswanto, menyebut sedikitnya 67 siswa di sekolahnya menerima bantuan PIP. Dana bantuan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan pendidikan seperti pembelian buku, perlengkapan sekolah, seragam, hingga biaya transportasi.

Menurut Siswanto, bantuan itu sangat membantu siswa dari keluarga kurang mampu agar tetap percaya diri dan tidak merasa tertinggal dibanding teman-temannya. “PIP membantu siswa tetap bertahan di sekolah dan membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar,” katanya.

Program Indonesia Pintar sendiri selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu program prioritas pemerintah di bidang pendidikan. Selain menekan angka putus sekolah, program ini juga diarahkan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.

Kemendikdasmen berharap penguatan PIP dapat terus membuka kesempatan yang lebih luas bagi seluruh anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan masa depan yang lebih baik.

Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan banyak keluarga, keberadaan PIP menjadi bukti bahwa pendidikan tetap harus menjadi hak setiap anak, bukan hanya mereka yang mampu secara finansial.

(Sumber: BKHM Setjen Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "Kisah Haru PIP di Yogyakarta: Sempat Minder dan Nyaris Putus Sekolah, Kini Murid Kembali Percaya Diri"