Editor: Devona R
GEBRAK.ID -- Semangat untuk mandiri ternyata tak mengenal keterbatasan. Di tengah aktivitas belajar dan mengaji di pondok pesantren, seorang santri tunarungu dan tunawicara asal Jepara, Jawa Tengah, kini mulai merintis usaha batik berkat pelatihan kewirausahaan yang digelar pemerintah.
Adalah Ajibatin Ni’mah atau akrab disapa Mbak Aik, alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara, yang menjadi salah satu wajah inspiratif dari Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025.
Melalui pelatihan membatik yang difasilitasi Direktorat Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Mbak Aik perlahan mengembangkan keterampilan membatik hingga mulai memasarkan hasil karyanya secara daring.
Meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, hal itu tidak menghalangi tekadnya untuk berkarya dan mandiri secara ekonomi.
Pendamping pelatihan PKW 2025, Muhammad Zainal Abidin, mengatakan Mbak Aik sebenarnya telah mengenal dasar membatik sejak masih duduk di bangku sekolah. Kemampuan itu kemudian diasah lebih serius melalui program pelatihan kewirausahaan yang berlangsung pada Mei hingga Juni 2025.
“Untuk komunikasinya menggunakan bahasa isyarat dan saya membantu mendampingi selama proses pelatihan. Mbak Aik memang sudah belajar membatik sejak sekolah, lalu diperdalam lagi melalui PKW,” ujar Abidin di Jepara, Kamis (21/5/2026).
Menurut Abidin, pelatihan tersebut tidak berhenti hanya pada pemberian materi teknis. Para peserta juga memperoleh pendampingan lanjutan hingga Maret 2026 agar keterampilan yang dimiliki benar-benar berkembang menjadi usaha mandiri.
Direktur Kursus dan Pelatihan, Yaya Sutarya, mengaku kagum terhadap semangat para peserta disabilitas yang tetap memiliki mimpi besar untuk menjadi wirausaha.
“Direktorat Kursus dan Pelatihan telah merancang model pembelajaran yang inklusif, sehingga peserta didik dengan keterbatasan fisik tetap dapat mengikuti proses belajar dan mewujudkan cita-citanya,” kata Yaya saat menyaksikan Mbak Aik membatik motif khas Jepara bergambar burung.
Saat ini, Mbak Aik masih aktif belajar di pondok pesantren sambil terus mengembangkan keterampilan membatik di sela kegiatan mengaji. Bersama tim pendamping, karya batiknya mulai dipasarkan melalui toko digital bernama “Santui Jepara”, singkatan dari Santri Tuli.
Tak hanya Mbak Aik, cerita serupa juga datang dari Tsabita Durratul Hikmah, alumni SMKN 2 Jepara yang ikut mengembangkan usaha batik kelompok bernama Batik Catur Wastawa.
Berbekal pengalaman belajar seni batik di sekolah, Tsabita bersama rekannya kini memproduksi batik dengan motif khas Jepara seperti Lung-lungan Jepara yang terinspirasi dari seni ukir tradisional daerah tersebut.
“Dengan adanya pelatihan ini, saya jadi lebih memahami proses produksi batik, mulai dari bahan sampai teknik pembuatannya,” ujar Tsabita.
Instruktur PKW 2025 dan 2026 Dekranasda Kabupaten Jepara, Titik Susanti, menjelaskan pelatihan diikuti 15 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang, termasuk peserta disabilitas.
![]() |
| Para peserta Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 dan 2026 Dekranasda Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. (Foto: Humas Kemendikdasmen) |
Program dijalankan dengan metode blended learning selama 32 hari atau setara 250 jam pelajaran. Peserta didorong mengangkat budaya lokal dalam desain batik yang mereka buat.
“Ada yang mengangkat motif ukiran Jepara, terumbu karang, ikan, kura-kura, hingga suasana pesisir Bandengan,” jelas Titik.
Ia menilai kemampuan teknis peserta sudah cukup baik. Namun tantangan terbesar kini berada di sektor pemasaran dan pengembangan usaha.
“Kalau membatik, mereka sudah terampil. Yang masih perlu diperkuat adalah marketing, manajemen usaha, dan strategi pemasaran produk,” kata Titik.
Program PKW di Jepara akan kembali dilanjutkan pada 2026 dengan jumlah peserta yang meningkat menjadi 30 orang. Pemerintah berharap program ini dapat memperluas akses pendidikan keterampilan dan kewirausahaan bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan dan peserta didik berkebutuhan khusus.
Melalui program tersebut, Kemendikdasmen ingin membuka ruang pendidikan yang lebih inklusif, sekaligus mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis budaya lokal di berbagai daerah Indonesia.
(Sumber: Kemendikdasmen)

