Kisah Yustina Guru Non-ASN di NTT yang Akhirnya Rasakan Manfaat Tunjangan Profesi Guru Rp2 Juta per Bulan

Yustina Yuniarti, guru non-ASN di SD Kristen Wukur, Kabupaten Sikka, mengaku merasakan langsung manfaat Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang kini diterimanya secara rutin sebesar Rp2 juta per bulan. (Foto: Dok Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID JAKARTA — Perjuangan guru di daerah terpencil kembali menjadi sorotan publik. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi yang tidak mudah, banyak tenaga pendidik tetap bertahan demi memastikan anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang layak.

Salah satu kisah itu datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Yustina Yuniarti, guru non-ASN di SD Kristen Wukur, Kabupaten Sikka, mengaku merasakan langsung manfaat Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang kini diterimanya secara rutin sebesar Rp2 juta per bulan.

Tunjangan tersebut menjadi bagian dari program pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk meningkatkan kesejahteraan guru, termasuk tenaga pendidik non-ASN di berbagai daerah, terutama wilayah 3T atau tertinggal, terdepan, dan terluar.

“Saya bersyukur karena sudah menerima tunjangan profesi guru sejak Januari 2025 hingga sekarang. Tunjangan ini sangat membantu kebutuhan keluarga kami,” ujar Yustina dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Menurut Yustina, tunjangan profesi yang diterimanya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membantu biaya pendidikan keluarganya.

“Selain untuk kebutuhan harian, tunjangan ini juga saya gunakan membantu orang tua membiayai kuliah adik-adik saya,” kata Yustina.

Kisah Yustina menjadi gambaran nyata tantangan yang masih dihadapi guru di daerah. Banyak tenaga pendidik harus menempuh perjalanan panjang dengan fasilitas terbatas demi mengajar di sekolah-sekolah pelosok.

Jangan Terlewatkan: Pilu Guru di Sikka NTT: Digaji Rp150 Ribu dari Iuran Orang Tua, Rela Jalan Kaki 6 Km demi Mengajar  

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, mengatakan pemerintah terus memperkuat perlindungan dan kesejahteraan guru melalui berbagai kebijakan afirmatif.

“Pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kesejahteraan guru melalui berbagai kebijakan, termasuk penyaluran tunjangan profesi bagi guru yang telah memenuhi persyaratan,” ujar Nunuk.

Nunuk menegaskan pemerintah memahami berbagai tantangan yang dihadapi guru di lapangan. Karena itu, Kemendikdasmen terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar hak-hak guru dapat terpenuhi secara optimal.

Nunuk juga menyebut kisah perjuangan para guru menjadi pengingat penting bahwa pendidikan nasional dibangun melalui dedikasi luar biasa tenaga pendidik di berbagai daerah.

“Kami mengapresiasi para guru yang tetap mengajar dengan penuh semangat di tengah keterbatasan. Hal ini menjadi motivasi bagi pemerintah untuk mempercepat program peningkatan kesejahteraan guru,” kata Nunuk.

Pada 2025, pemerintah menyalurkan anggaran TPG guru non-ASN sebesar Rp10,9 triliun kepada sekitar 396 ribu penerima di seluruh Indonesia. Sementara pada 2026, anggarannya meningkat menjadi Rp11,5 triliun untuk sekitar 392 ribu guru.

Adapun untuk guru ASN, pemerintah mengalokasikan Rp72,2 triliun pada 2026 yang ditujukan bagi sekitar 1,68 juta guru di seluruh Indonesia.

Yustina pun menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah atas perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. “Kami para guru sangat merasakan perhatian pemerintah. Saya berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Mendikdasmen Abdul Mu’ti atas dukungan bagi para guru,” cetusnya.

Pemerintah berharap peningkatan kesejahteraan guru dapat berdampak langsung pada kualitas pendidikan nasional, terutama di daerah-daerah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses pendidikan.

(Sumber: Humas Kemendikdasmen)


Posting Komentar untuk "Kisah Yustina Guru Non-ASN di NTT yang Akhirnya Rasakan Manfaat Tunjangan Profesi Guru Rp2 Juta per Bulan "