Mengapa Kurban Menjadi Bagian dari Ibadah Haji? Ini Sejarah, Dalil Al-Qur’an, dan Penjelasan Ulama

Ibadah kurban memiliki makna yang besar bagi umat Muslim. Ini sebagai simbol kepatuhan pada Allah dan solidaritas kepada sesama. (Foto: Gebrak.id/AI) 
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA--Ibadah kurban selalu identik dengan Hari Raya Idul Adha dan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Setiap musim haji, jutaan umat Islam dari berbagai negara menyaksikan penyembelihan hewan kurban di Makkah sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji.

Namun, mengapa kurban menjadi bagian dari ibadah haji? Apa sejarah dan dasar tuntunannya dalam Islam?

Dalam ajaran Islam, kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memiliki akar sejarah panjang sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Perintah kurban juga memiliki landasan kuat dari Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, hingga penjelasan para ulama.

Awal Sejarah Kurban dalam Islam

Sejarah kurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Kisah tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102-107.

Allah SWT berfirman:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Nabi Ismail AS kemudian menjawab:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ketika Nabi Ibrahim AS menjalankan perintah itu dengan penuh keikhlasan, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan besar.

Peristiwa inilah yang menjadi asal-usul ibadah kurban dalam Islam.

Mengapa Kurban Berkaitan dengan Ibadah Haji?

Hubungan kurban dengan ibadah haji sangat erat karena keduanya sama-sama berakar dari perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Seluruh rangkaian ibadah haji pada dasarnya menghidupkan kembali perjuangan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS di Tanah Suci.

Beberapa ritual haji bahkan langsung berkaitan dengan kisah tersebut, seperti:

Sai antara Bukit Shafa dan Marwah mengenang perjuangan Siti Hajar mencari air.

Wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah haji.

Melempar jumrah yang berkaitan dengan godaan setan terhadap Nabi Ibrahim AS.

Penyembelihan hewan kurban sebagai simbol ketakwaan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT.

Karena itulah, kurban menjadi bagian penting dalam ibadah haji, khususnya bagi jamaah yang menjalankan haji tamattu’ dan qiran.

Dalil Al-Qur’an Tentang Kurban dan Haji

Allah SWT menjelaskan hubungan kurban dengan ibadah haji dalam Surat Al-Hajj ayat 34:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.”

Dalam Surat Al-Kautsar ayat 2, Allah juga berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Sementara itu, dalam Surat Al-Hajj ayat 36 dijelaskan bahwa hewan kurban merupakan bagian dari syiar Allah:

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah.”

Ayat-ayat tersebut menjadi dasar utama bahwa kurban merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam dan berkaitan erat dengan pelaksanaan haji.

Tuntunan dari Hadis Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW juga mencontohkan langsung pelaksanaan kurban saat berhaji.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyembelih hewan kurban ketika menunaikan Haji Wada’.

Diriwayatkan Rasulullah SAW menyembelih puluhan ekor unta sebagai hadyu atau kurban haji.

Hadis lain riwayat Tirmidzi menyebutkan:

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.”

Hal ini menunjukkan besarnya keutamaan ibadah kurban dalam Islam.

Penjelasan Ulama Mengenai Makna Kurban

Para ulama menjelaskan bahwa inti utama kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan bentuk ketakwaan dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kurban adalah simbol pendekatan diri kepada Allah melalui pengorbanan harta dan keikhlasan.

Sementara Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa peristiwa Nabi Ibrahim AS menjadi pelajaran besar tentang kepatuhan mutlak kepada perintah Allah.

Allah SWT sendiri menegaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Karena itu, makna utama kurban adalah ketulusan, keikhlasan, dan semangat berbagi kepada sesama.

Kurban dalam Pelaksanaan Haji Modern

Dalam pelaksanaan haji saat ini, jamaah haji tamattu’ dan qiran diwajibkan membayar dam atau menyembelih hewan kurban sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah haji mereka.

Penyembelihan biasanya dilakukan pada 10 Zulhijah hingga hari tasyrik di wilayah Makkah dan sekitarnya.

Daging kurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai negara Muslim.

Selain jamaah haji, umat Islam di seluruh dunia juga melaksanakan kurban pada Hari Raya Idul Adha sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.

Makna Besar di Balik Ibadah Kurban

Ibadah kurban mengandung pesan mendalam tentang keimanan, pengorbanan, dan kepedulian sosial.

Kurban mengajarkan bahwa manusia harus mendahulukan perintah Allah di atas kepentingan pribadi. Di sisi lain, pembagian daging kurban juga menjadi sarana membantu masyarakat yang membutuhkan.

Karena itulah, kurban tidak hanya menjadi ritual penyembelihan hewan, tetapi juga simbol solidaritas, ketakwaan, dan penghambaan kepada Allah SWT yang diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim AS hingga sekarang.

(berbagai sumber) 

Posting Komentar untuk "Mengapa Kurban Menjadi Bagian dari Ibadah Haji? Ini Sejarah, Dalil Al-Qur’an, dan Penjelasan Ulama"