Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Diperkuat di SLB untuk Dorong Kemandirian Siswa Disabilitas

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif, Rita Pranawati. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; JAKARTA — Upaya memperkuat pendidikan inklusif di Indonesia terus digencarkan. Salah satunya melalui implementasi program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) di Sekolah Luar Biasa (SLB), yang kini menjadi strategi utama dalam membangun kemandirian dan karakter peserta didik berkebutuhan khusus.

Program ini diperkuat melalui kegiatan Webinar Solusi (Sosialisasi dan Diskusi) Seri Praktik Baik, yang menghadirkan berbagai inovasi dan pengalaman inspiratif dari satuan pendidikan di sejumlah daerah.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif, Rita Pranawati, mengatakan bahwa pendekatan dalam implementasi 7 KAIH di SLB tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga diperlukan metode yang lebih adaptif.

“Gerakan ini bukan sekadar membentuk kebiasaan baik, tetapi juga menanamkan karakter disiplin, akhlak, dan kemandirian. Di SLB, pendekatannya harus beralih dari sekadar kesetaraan menuju keadilan (equity),” ujar Rita dalam keterangan resminya, Minggu (3/5/2026).

Rita juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga masyarakat, guna memastikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus berjalan optimal dan berkeadilan.

Senada dengan itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami, menyebut forum ini sebagai langkah strategis dalam menyebarluaskan praktik terbaik di lapangan. Menurutnya, banyak sekolah telah menunjukkan kreativitas dalam membangun kebiasaan positif yang sesuai dengan kondisi siswa.

“Berbagai inovasi ini penting untuk didokumentasikan dan direplikasi secara lebih luas, sehingga dampaknya bisa dirasakan oleh lebih banyak satuan pendidikan di Indonesia,” kata Rusprita.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, menilai implementasi 7 KAIH merupakan bagian dari pendekatan pendidikan holistik. Program ini tidak hanya menyasar aspek akademik, tetapi juga mencakup perkembangan sosial-emosional, kemandirian, hingga keterampilan hidup siswa.

“Ini adalah intervensi menyeluruh yang bertujuan membentuk pribadi yang mandiri dan mampu beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Saryadi.

Dalam forum tersebut, sejumlah sekolah memaparkan praktik nyata yang telah diterapkan. Kepala SLB Negeri Pesisir Barat, Lampung, Marlinasari, memperkenalkan program “Peluk Harmoni” yang mendorong siswa untuk aktif berinteraksi di ruang publik. Melalui kegiatan seperti outing class dan kolaborasi dengan instansi, siswa dilatih membangun kepercayaan diri sekaligus mengikis stigma sosial.

Di sisi lain, guru SKh Negeri 01 Kota Serang, Elsa Dikeu Septiani, mengangkat metode sederhana namun berdampak, yakni mengajak siswa berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.

“Anak-anak tidak membutuhkan dunia yang sempurna. Mereka hanya butuh kesempatan dan kepercayaan untuk melangkah,” ungkap Elsa.

Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan sosial siswa, sekaligus membentuk pola hidup yang lebih mandiri dan sehat.

Inovasi berbasis teknologi juga turut mewarnai implementasi program ini. Guru SLB Negeri Cipatujah, Tasikmalaya, Rahmawati Hasanah, mengembangkan aplikasi “Hariku Hebat” yang menghubungkan sekolah dengan orang tua. Aplikasi ini memungkinkan pemantauan perkembangan kebiasaan siswa secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara keluarga dan sekolah.

Secara nasional, penguatan pendidikan inklusif sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi.

Melalui berbagai langkah ini, pemerintah berharap pendidikan inklusif tidak hanya menjadi kebijakan, tetapi benar-benar hadir sebagai praktik nyata yang mampu memberdayakan setiap anak Indonesia.

Program 7 KAIH pun diharapkan menjadi fondasi dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

(Sumber: Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Diperkuat di SLB untuk Dorong Kemandirian Siswa Disabilitas"