![]() |
| Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie saat mengunjungi SMAN 10 Fajar Harapan, Banda Aceh, Kamis (7/5/2026). (Foto: Humas Kemdiktisaintek) |
GEBRAK.ID; JAKARTA -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Seorang siswi asal Aceh berhasil mencuri perhatian setelah mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari delapan kampus top dunia sekaligus.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa siswa daerah juga mampu bersaing di level internasional jika mendapat akses dan pendampingan yang tepat. Siswi tersebut adalah Fathina Almahira Sakhi, peserta Program Sekolah Unggul Garuda Transformasi di SMAN 10 Fajar Harapan Aceh.
Keberhasilan Fathina tidak datang secara instan. Ia mengaku mendapat pembinaan intensif sejak November 2025 melalui program pendampingan yang dirancang untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke universitas luar negeri.
“Saya benar-benar dipersiapkan untuk kuliah di luar negeri. Banyak sekali bimbingan yang membantu kami memahami proses seleksi internasional,” ujar Fathina dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Program pendampingan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan akademik, tetapi juga membangun profil siswa secara menyeluruh, mulai dari kemampuan komunikasi, penyusunan esai, hingga kesiapan menghadapi proses seleksi kampus internasional.
Keberhasilan serupa juga dirasakan siswa lainnya, M. Kafka. Ia menyebut para guru tetap memberikan pendampingan secara maksimal meski sempat menghadapi berbagai kendala, termasuk dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh beberapa waktu lalu.
“Persiapannya cukup intensif dan kami benar-benar dibantu guru-guru hebat. Alhamdulillah akhirnya bisa memenuhi berbagai syarat yang diperlukan,” kata Kafka.
Capaian para siswa itu mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie. Menurut Stella, banyak siswa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk diterima di universitas kelas dunia, namun sering terkendala akses, eksposur internasional, dan minimnya pendampingan.
Karena itu, pemerintah melalui Program Sekolah Unggul Garuda berupaya membuka jalan bagi siswa-siswa berprestasi dari berbagai daerah agar mampu bersaing secara global.
“Kita hanya membantu membuka aksesnya. Sisanya tetap berasal dari kerja keras dan kemampuan para siswa sendiri,” ujar Stella Christie.
Stella menjelaskan bahwa Program Sekolah Unggul Garuda Transformasi memang dirancang untuk memperbesar peluang siswa Indonesia masuk ke perguruan tinggi terbaik dunia.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa agar siap bersaing dalam seleksi internasional yang dikenal sangat kompetitif.
Menurut Stella, hasilnya mulai terlihat nyata. Sebelum sekolah tersebut masuk dalam program Garuda Transformasi, hanya satu siswa dari SMAN 10 Fajar Harapan yang berhasil diterima di universitas top 100 dunia. Namun tahun ini, jumlahnya melonjak signifikan.
“Saat ini ada 14 siswa yang berhasil memperoleh penerimaan dari kampus top dunia setelah mendapatkan program Garuda Transformasi,” ungkap Stella.
Keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bagi pemerataan kualitas pendidikan nasional. Selama ini, akses menuju kampus elite dunia lebih banyak didominasi siswa dari kota-kota besar dengan fasilitas pendidikan internasional yang lebih lengkap.
Kini, siswa dari daerah seperti Aceh mulai menunjukkan bahwa mereka juga mampu bersaing di panggung global.
Program seperti Sekolah Unggul Garuda dapat menjadi model baru pembinaan siswa berbakat di Indonesia. Selain membuka akses pendidikan internasional, program ini juga membantu membangun budaya akademik yang lebih kompetitif dan berorientasi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang mulai mendorong peningkatan jumlah pelajar Indonesia yang diterima di universitas-universitas terbaik dunia. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di era globalisasi dan perkembangan teknologi.
Bagi Fathina dan siswa lainnya, pencapaian ini bukan hanya tentang diterima di kampus luar negeri. Lebih dari itu, keberhasilan mereka menjadi inspirasi bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk meraih mimpi besar.
(Sumber: Kemendiktisaintek)

Posting Komentar untuk "Siswi Aceh Tembus 8 Kampus Top Dunia, Program Sekolah Unggul Garuda Mulai Tunjukkan Hasil"