![]() |
| Kapal-kapal dari "Global Sumud Flotilla 2026 Spring Mission," yang bertujuan untuk menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan. (Foto: Anadolu Agency) |
GEBRAK.ID -- Sebuah video yang memperlihatkan relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) diperlakukan kasar oleh tentara Israel viral di media sosial dan memicu gelombang kecaman internasional. Rekaman tersebut diunggah langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, melalui akun X pribadinya, Rabu (20/5/2026).
Dalam video itu terlihat sejumlah aktivis dipaksa berlutut bahkan bersujud dengan tangan terikat ke belakang. Seorang perempuan juga tampak dijambak oleh petugas bersenjata. Tayangan tersebut langsung menuai kritik tajam karena dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM) dan merendahkan martabat para relawan sipil.
Armada Global Sumud Flotilla diketahui sedang menjalankan misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan sekaligus menentang blokade Israel terhadap wilayah Palestina. Namun, armada tersebut dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional dalam beberapa hari terakhir.
Menurut laporan terbaru, sebanyak 430 relawan telah ditangkap dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod, Israel Selatan, pada Rabu (20/5/2026). Di antara para aktivis yang diamankan, terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut dalam misi tersebut.
Kecaman datang bahkan dari internal pemerintahan Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, menilai unggahan video tersebut justru memperburuk citra negaranya di mata dunia.
“Anda telah menghancurkan upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang sudah dilakukan begitu banyak orang, dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lain,” tulis Sa’ar melalui akun X miliknya.
Sa'ar bahkan menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan wajah Israel. “Tidak, Anda bukanlah wajah Israel,” jelasnya.
Kritik keras juga disampaikan Perdana Menteri (PM) Italia, Giorgia Meloni. Meloni mendesak Israel segera membebaskan seluruh aktivis yang ditahan, terutama warga negara Italia yang ikut dalam armada kemanusiaan tersebut.
“Tak bisa ditoleransi para pengunjuk rasa ini, yang di antaranya banyak warga negara Italia, diperlakukan seperti ini, yang melanggar martabat manusia,” kata Meloni dalam pernyataannya.
Kelompok HAM turut mengecam tindakan Israel. Organisasi tersebut menyebut para relawan sipil “diculik secara paksa” dari perairan internasional dan dibawa ke wilayah Israel tanpa persetujuan mereka.
Menurut kelompok tersebut, tindakan itu merupakan bagian dari kebijakan hukuman kolektif terhadap warga Palestina di Gaza yang selama ini menjadi sorotan komunitas internasional.
“Setelah berlayar menuju Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan dan menantang blokade ilegal, para peserta sipil ini diculik secara paksa dari perairan internasional dan dibawa ke wilayah Israel sepenuhnya di luar kehendak mereka,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
Sementara itu, Pemerintah Israel membela operasi tersebut. Kementerian Luar Negeri Israel menuding aksi Global Sumud Flotilla hanya sekadar propaganda politik yang menguntungkan kelompok Hamas.
“Aksi PR lainnya telah berakhir. Semua 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka akan dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel.
PM Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya juga mengecam misi armada tersebut dan menyebutnya sebagai “skema jahat” untuk membongkar blokade terhadap Hamas di Gaza.
Di Indonesia, perhatian tertuju pada nasib sembilan WNI yang ikut dalam misi kemanusiaan tersebut. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi.
Sugiono mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah perwakilan RI di Timur Tengah untuk memperoleh informasi akurat mengenai kondisi para WNI yang ditahan.
“Kementerian Luar Negeri kami dari kemarin sudah terus memonitor situasinya. Saya sendiri sudah menghubungi kedutaan kita atau perwakilan kita untuk berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri di Yordania, Turki, Mesir untuk mencari informasi yang akurat terkait posisi dan situasi saudara-saudara kita yang ditangkap,” kata Sugiono usai rapat bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Peristiwa ini kembali memicu perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan di Gaza dan meningkatnya ketegangan terkait blokade yang masih berlangsung hingga kini.
(Berbagai Sumber)
Jangan Terlewatkan: Seluruh Kapal Peserta Global Sumud Flotilla Kemanusiaan Gaza Dicegat Israel di Perairan Internasional

