Waspada! Hantavirus Ternyata Sudah 3 Tahun Mengintai di RI, Kemenkes Catat 23 Kasus

Dalam tiga tahun terakhir, tepatnya periode 2024 hingga 2026, Kemenkes RI mencatat sudah ada 23 warga Indonesia yang terkonfirmasi positif Hantavirus. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: M Zuhro AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Di tengah menggemparkannya wabah Hantavirus di kapal pesiar mewah MV Hondius yang menewaskan tiga orang di Samudra Atlantik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) membuka fakta mengejutkan. Ternyata, virus langka namun mematikan ini bukanlah ancaman baru bagi Indonesia. 

Dalam tiga tahun terakhir, tepatnya periode 2024 hingga 2026, Kemenkes mencatat sudah ada 23 warga Indonesia yang terkonfirmasi positif Hantavirus.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengungkapkan bahwa dari 23 kasus tersebut, tiga di antaranya berakhir dengan kematian. Angka ini menempatkan case fatality rate (CFR) atau tingkat kematian di Indonesia mencapai angka 13 persen.

"Periode 2024-2026 ada 23 konfirmasi positif, 3 kematian," ujar Aji saat dikonfirmasi awak media, Jumat (8/5/2026).

Bukan Andes, Tapi Seoul Virus yang Berkeliaran


Meski sama-sama berasal dari keluarga Orthohantavirus, jenis virus yang menginfeksi di Indonesia berbeda dengan yang mewabah di kapal pesiar. Wabah di MV Hondius disebabkan oleh Andes virus yang terkenal karena kemampuannya menular antar manusia.

Sementara itu, seluruh kasus di Indonesia merupakan Seoul virus. Berita baiknya, Seoul virus umumnya tidak menular dari manusia ke manusia. Namun, masyarakat tetap harus waspada karena tingkat keparahannya bisa menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berbahaya.

Tikus Got Jadi Biang Keladi, Ini Cara Penularannya

Lantas dari mana virus ini berasal? Kemenkes mengidentifikasi bahwa sumber utama penularan di Indonesia adalah hewan pengerat, khususnya tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus tanezumi).

Penularan ke manusia tidak terjadi melalui gigitan langsung semata, tapi juga melalui:

- Menghirup debu (aerosol) yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus.
- Kontak langsung mukosa (mata, hidung, mulut) dengan kotoran tikus.
- Makanan yang terkontaminasi oleh hewan pembawa virus.

Sebaran di 9 Provinsi: Jogja dan Jakarta Tertinggi

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menjelaskan, saat ini ada dua tambahan kasus suspek yang terdeteksi di Jakarta dan Yogyakarta dan masih dalam proses pemeriksaan laboratorium.

Dari 23 kasus yang terkonfirmasi positif selama tiga tahun terakhir, persebarannya meliputi 9 provinsi dengan rincian:

1.  DI Yogyakarta: 6 kasus
2.  DKI Jakarta: 6 kasus
3.  Jawa Barat: 5 kasus
4.  Sulawesi Utara: 1 kasus
5.  Nusa Tenggara Timur (NTT): 1 kasus
6.  Sumatera Barat: 1 kasus
7.  Banten: 1 kasus
8.  Jawa Timur: 1 kasus
9.  Kalimantan Barat: 1 kasus

Tren kasus ini sempat melonjak tajam pada tahun lalu dengan 17 kasus, sementara di 2024 hanya tercatat 1 kasus. Hingga Mei 2026, sudah ditemukan penambahan 5 kasus baru.

Antisipasi dan Imbauan dari Pemerintah

Menanggapi temuan ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut Menkes, infrastruktur PCR yang masif pasca pandemi Covid-19 menjadi keuntungan bagi Indonesia untuk mendeteksi dini virus ini.

"Virus ini cukup berbahaya, jadi kita sudah koordinasi dengan WHO. Kita beruntung sekarang mesin PCR kita sudah banyak. Harusnya bisa lebih mudah untuk mendeteksi virus ini," ujar Budi di kantor Kemenkes, Kamis (7/5/2026).

Untuk sementara, reagen khusus Hantavirus masih terbatas sehingga pemerintah saat ini lebih memfokuskan pada penguatan surveillance (pengamatan) dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Masyarakat diimbau untuk menerapkan pola 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) guna memberantas sarang tikus di lingkungan rumah. Hindari menyapu debu kering di area yang berpotensi ada kotoran tikus; sebaiknya perciki dengan disinfektan atau air sebelum dibersihkan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala Hantavirus tipe Seoul (HFRS) mirip dengan demam berdarah atau leptospirosis, yakni demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri punggung dan perut, mual, serta kemerahan pada mata. Pada tahap lanjut, bisa terjadi penurunan produksi urine (gagal ginjal) serta perdarahan.

Jika mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat kontak dengan tikus di lingkungan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

(Berbagai Sumber)

Posting Komentar untuk "Waspada! Hantavirus Ternyata Sudah 3 Tahun Mengintai di RI, Kemenkes Catat 23 Kasus"