Adu Kuat Devisa ASEAN: RI dan Filipina Merosot, Malaysia Malah Melesat

 

Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatatkan penurunan cadangan devisa, sementara Malaysia justru mengalami kenaikan. ( Foto: Wikipedia) 


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA – Ketidakpastian ekonomi global masih jadi momok. Di tengah gempuran dolar AS yang perkasa, gejolak pasar, dan ketegangan geopolitik, cadangan devisa jadi tameng paling vital bagi suatu negara. Makin tebal, makin kebal terhadap badai eksternal.

Lalu, bagaimana kondisi negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) pada Mei 2026? Hasilnya cukup beragam. Sebagian negara berhasil menggemukkan bantalannya, tapi sayangnya Indonesia dan Filipina justru terpaksa harus merelakannya menyusut. 

RI dan Filipina di Zona Merah

Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatatkan penurunan. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa di akhir Mei 2026 adalah US$ 144,9 miliar. Angka ini turun US$ 1,3 miliar dibandingkan posisi di akhir April 2026 yang sebesar US$ 146,2 miliar. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor. Di satu sisi, ada pemasukan dari penerbitan global bond pemerintah, pajak, dan jasa. Namun, di sisi lain, cadangan devisa harus dikuras untuk membayar utang luar negeri pemerintah dan yang paling signifikan adalah untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. 

Tekanan terhadap rupiah memang menjadi perhatian utama. Bank Indonesia perlu turun tangan untuk meredam gejolak dan mencegah pelemahan rupiah yang terlalu dalam. Ini adalah "bensin" yang harus dibakar demi menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian. 

Meski turun, BI memastikan posisi cadangan devisa ini masih tetap kuat. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor, 

Selain Indonesia, Filipina juga mengalami nasib serupa. Cadangan devisa Filipina turun tipis dari US$ 104,3 miliar menjadi US$ 104,0 miliar pada periode yang sama. 

Malaysia dan Singapura Melesat Jadi Jawara

Berbeda dengan dua negara di atas, mayoritas negara ASEAN lainnya justru mencatatkan kenaikan yang signifikan. Yang paling mentereng adalah Malaysia. 

Bank Negara Malaysia (BNM) mencatat cadangan devisa Negeri Jiran melonjak dari US$ 113,8 miliar menjadi US$ 130,6 miliar pada akhir Mei 2026. Artinya, ada tambahan US$ 16,8 miliar hanya dalam sebulan . Kenaikan ini menjadikan Malaysia sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar kedua di ASEAN berdasarkan data yang dihimpun. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kenaikan ini bisa terjadi karena kombinasi faktor seperti surplus neraca berjalan, stabilnya aliran modal asing (terutama investasi langsung), dan intervensi minimal di pasar valuta asing yang memungkinkan penguatan ringgit secara alami. 

Singapura juga tak mau kalah. Bantalan devisa Negeri Singa meningkat sebesar SGD 4,5 miliar, dari SGD 544,1 miliar menjadi SGD 548,6 miliar. Catatan penting, data Singapura dalam laporan ini menggunakan denominasi dolar Singapura (SGD), bukan dolar AS. 

Malaysia Paling Kencang Tebalkan Devisa, Singapura Masih Jumbo

Malaysia menjadi negara dengan kenaikan paling besar dalam daftar ini. Cadangan devisa Malaysia naik dari US$113,8 miliar menjadi  US$130,6 miliar pada Mei 2026. Dengan demikian, ada tambahan cadangan devisa sebesar US$16,8 miliar hanya dalam sebulan. Kenaikan ini membuat posisi cadangan devisa Malaysia menjadi salah satu yang paling menarik di ASEAN. 

Di saat beberapa negara masih menghadapi tekanan nilai tukar dan arus modal, Malaysia justru mampu mempertebal bantalan devisanya cukup besar. 

Vietnam juga mencatat kenaikan cadangan devisa. Posisinya naik dari US$81,4 miliar menjadi US$83,6 miliar. Dengan demikian, cadangan devisa Vietnam bertambah sekitar US$2,2 miliar. Namun, data Vietnam terakhir tersedia untuk periode Desember 2025, sehingga periode laporannya berbeda dengan mayoritas negara lain yang sudah melaporkan data Mei 2026.

Thailand turut mencatat kenaikan meski lebih tipis. Cadangan devisa Negeri Gajah Putih naik dari US$286,9 miliar menjadi US$287,5 miliar pada Mei 2026, atau bertambah sekitar US$0,5 miliar. Laos juga mencatat kenaikan kecil. Cadangan devisanya naik dari US$4,2 miliar menjadi US$4,3 miliar pada April 2026.

Kesimpulannya, kondisi cadangan devisa di ASEAN sedang mengalami polarisasi. Negara dengan tekanan nilai tukar yang kuat seperti Indonesia dan Filipina terpaksa menggunakannya untuk stabilisasi, sementara negara dengan arus modal yang stabil dan fundamental kuat seperti Malaysia dan Singapura justru berhasil mengakumulasinya.

( berbagai sumber)