GEBRAK.ID, KEDIRI – Peran Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat internasional menjadi salah satu topik utama yang mengemuka dalam Forum Alumni Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Se-Dunia yang digelar di Lotus Garden Hotel, Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung di sela agenda Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) NU 2026 itu mempertemukan lebih dari 15 alumni PCINU dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Sudan, Libya, Suriah, Jepang, serta sejumlah negara lainnya. Gus Hery Haryanto Azumi yang maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-35 juga hadir di pertemuan itu.
Forum tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi pemikiran para kader NU yang pernah mengemban amanah organisasi di luar negeri. Selain mempererat hubungan antarkader, para peserta juga membahas strategi memperkuat posisi Nahdlatul Ulama dalam merespons dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Dalam suasana diskusi yang hangat, para alumni menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang ditujukan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) maupun jaringan PCINU di berbagai negara.
Para alumni juga mendorong agar PCINU semakin dioptimalkan sebagai representasi resmi Nahdlatul Ulama di tingkat global. Dengan dukungan organisasi yang lebih kuat, PCINU diyakini mampu berkontribusi lebih besar dalam diplomasi publik internasional, memperluas jejaring kerja sama lintas negara, sekaligus memperkenalkan wajah Islam moderat yang menjadi karakter khas NU.
Forum turut menyoroti perubahan konstelasi geopolitik dunia yang dinilai membuka peluang baru bagi Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama, untuk memainkan peran yang lebih strategis dalam percaturan dunia Islam.
Dengan modal sosial, intelektual, dan kultural yang dimiliki, NU dipandang memiliki kapasitas menjadi salah satu motor penggerak dalam membangun kerja sama dunia Islam yang moderat, inklusif, serta berorientasi pada perdamaian dan kemanusiaan.
Selain aspek kelembagaan, peserta juga menilai jejaring alumni PCINU yang kini tersebar di berbagai bidang profesi merupakan aset besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Para alumni yang kini berkiprah sebagai akademisi, peneliti, diplomat, profesional, hingga pengusaha dinilai memiliki pengalaman internasional yang dapat menjadi modal penting bagi penguatan organisasi. Karena itu, mereka mendorong agar jaringan alumni tersebut dikelola secara lebih terstruktur sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi NU, bangsa, dan negara.
Forum Alumni PCINU Se-Dunia juga menegaskan bahwa penguatan jaringan internasional Nahdlatul Ulama bukan semata-mata bertujuan memperluas pengaruh organisasi, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia, dialog antarperadaban, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Setelah berlangsung selama beberapa jam, forum ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mempererat sinergi antarsesama alumni PCINU di berbagai negara. Mereka juga menyatakan kesiapan mengawal penguatan peran global Nahdlatul Ulama agar semakin mampu berkontribusi di tingkat internasional.
Para peserta berharap, dengan jaringan internasional yang semakin solid dan terorganisasi, Nahdlatul Ulama dapat tampil sebagai kekuatan masyarakat sipil global yang mampu menjembatani dialog antarbangsa, memperkuat moderasi beragama, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi Indonesia maupun masyarakat dunia. (*)


