Bedah Buku Jadi Panggung Gagasan, Gus Hery Haryanto Azumi Nyatakan Siap Maju sebagai Ketum PBNU

Hery Haryanto Azumi atau yang akrab disapa Gus Hery (tiga dari kiri) saat menghadiri forum bedah buku berjudul "Gus Hery H. Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU, Menavigasi Kebangkitan NU 2026–2126", karya jurnalis dan penulis buku Samsul Muarif (kanan). (Foto: Gebrak.id/Sam)
Editor: Samsul Muarif

GEBRAK.ID, KEDIRI – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 semakin menghangat. Di tengah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026), nama Gus Hery Haryanto Azumi kembali menjadi sorotan sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki abad kedua organisasi.

Setelah bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Lirboyo untuk memohon doa restu kepada para masyayikh dan ulama sepuh terkait niatnya maju dalam bursa Ketua Umum PBNU, Gus Hery menghadiri forum bedah buku berjudul "Gus Hery H. Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU, Menavigasi Kebangkitan NU 2026–2126", karya jurnalis dan penulis buku Samsul Muarif.

Kegiatan tersebut dihadiri para kiai, akademisi, aktivis, santri, hingga kader muda NU dari berbagai daerah. Suasana diskusi berkembang menjadi forum pertukaran gagasan mengenai arah masa depan Nahdlatul Ulama sekaligus kepemimpinan organisasi menjelang Muktamar NU ke-35.

Dalam kesempatan itu, Gus Hery Haryanto Azumi secara terbuka menyatakan kesiapannya apabila mendapat amanah dari para ulama dan warga nahdliyin untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

"Jika para kiai dan warga Nahdlatul Ulama memandang saya layak untuk berkhidmat, insya Allah saya siap. Ini bukan soal jabatan, melainkan soal tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para muassis dan mengantarkan NU menghadapi tantangan abad kedua," ujar Gus Hery.

Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah peserta forum. Mereka menilai Nahdlatul Ulama membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjaga nilai-nilai tradisi pesantren, namun juga memiliki kemampuan membaca perubahan zaman yang semakin cepat.

Dalam diskusi, sejumlah peserta juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan di tubuh NU agar organisasi tetap mampu menjawab berbagai tantangan, mulai dari perkembangan teknologi, transformasi ekonomi, hingga dinamika geopolitik global.

Sebagai kader NU yang aktif dalam berbagai kegiatan keumatan dan kebangsaan, Gus Hery dinilai memiliki pengalaman organisasi, jaringan nasional, serta wawasan internasional yang dapat menjadi modal dalam membawa NU semakin adaptif terhadap perubahan tanpa meninggalkan identitasnya sebagai organisasi keagamaan berbasis pesantren.

Menurut Gus Hery, tantangan yang dihadapi NU pada abad kedua tidak hanya berkaitan dengan menjaga warisan intelektual para ulama, tetapi juga memperkuat peran organisasi dalam pembangunan masyarakat di berbagai sektor strategis.

"NU harus tetap menjadi rumah besar para ulama dan pesantren, tetapi pada saat yang sama harus mampu memimpin perubahan. Kita tidak boleh tertinggal dalam bidang teknologi, ekonomi, pendidikan, maupun diplomasi global. NU memiliki sumber daya yang sangat besar untuk menjadi kekuatan peradaban dunia," kata Gus Hery.

Gus Hery menilai potensi besar yang dimiliki jutaan warga nahdliyin perlu dikelola secara lebih terarah agar mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi kemajuan bangsa. Penguatan kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, serta pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dari agenda yang perlu terus dikembangkan di lingkungan NU.

Forum bedah buku tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi ajang peluncuran gagasan yang tertuang dalam sebuah karya, tetapi juga menjadi ruang dialog mengenai arah baru Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya. Berbagai pandangan yang muncul mencerminkan besarnya harapan agar organisasi mampu terus relevan di tengah perubahan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang selama ini menjadi fondasinya.

Munas-Konbes NU 2026 sendiri menjadi momentum strategis menjelang Muktamar NU ke-35, forum tertinggi organisasi yang akan menentukan arah kepemimpinan PBNU untuk periode mendatang. Seiring menguatnya aspirasi regenerasi, sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat potensial, termasuk Gus Hery Haryanto Azumi yang kini aktif membangun komunikasi dengan para ulama, kiai, dan warga nahdliyin di berbagai daerah. (*)