Anak-Anak yang Nggak Dirayakan Pancasila

Generasi Literat kembali mengadakan program Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB), kali ini di VSE Foundation, Jakarta Barat, bersama anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS (ADHA), Minggu (17/5/2026). (Foto: Dok.Generasi Literat) 
Oleh Mila Muzakkar *)

Di meja belajar bundar, tujuh anak berusia antara lima hingga dua puluh tahun sibuk menulis di atas kertas post-it warna-warni.

“Adik-adik, coba tuliskan apa saja yang kamu syukuri selama hidup di dunia,” kataku.

Beberapa menit kemudian, mereka membacakan satu per satu tulisannya.

“Aku senang karena punya teman-teman yang baik di sini.”

“Aku bersyukur karena di sini dapat vitamin.”

“Aku senang karena pernah nonton di bioskop.”

Lalu tibalah giliran seorang anak laki-laki yang usianya paling besar dan paling lama tinggal di tempat itu. Ia tak mampu menahan air matanya.

“Terima kasih kepada diriku yang sudah bertahan sampai sekarang.”

Kalimat itu keluar perlahan, diiringi uraian air mata yang nggak bisa lagi dibendung.

Aku penasaran mengapa Anton (bukan nama sebenarnya) begitu sedih. Setelah kegiatan selesai, aku mengajaknya berbincang empat mata.

“Sedih aja, Kak. Selama ini aku merasa sendirian melewati penyakit ini,” katanya sambil berkaca-kaca.

Perlahan, Anton mulai bercerita tentang bagaimana ia divonis sebagai anak dengan HIV-AIDS (ADHA).

Saat itu, ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya sering sakit-sakitan dan lemas. Bermain dan bergaul dengan teman-teman sebaya menjadi hal yang jarang ia lakukan.

Setelah diperiksakan ke dokter, barulah diketahui bahwa ia mengidap HIV-AIDS.

Sebagai anak kecil yang lugu, Anton menceritakan begitu saja penyakitnya kepada teman-temannya ketika mereka bertanya.

Sejak saat itu, satu per satu teman bermain menjauh. Tetangga mulai menjaga jarak. Sekolah menolak.

Pendidikan Anton terhenti. Ia tinggal di rumah, berjuang melawan sakitnya, ditemani oleh ibu dan neneknya.

Namun ujian hidup belum selesai. Nggak  lama kemudian, ibunya meninggal dunia karena penyakit yang sama. Sang ibu juga seorang pejuang HIV-AIDS yang tertular dari suaminya.

Hidup Anton kemudian berlanjut di Smart Era Foundation, sebuah yayasan yang merawat dan mendampingi anak-anak dengan HIV-AIDS.

Kini Anton telah berusia 20 tahun. Dengan dukungan yayasan, ia berhasil duduk di bangku kuliah dan mengambil jurusan keperawatan. “Saya ingin membantu dan merawat orang-orang seperti saya,” katanya ketika aku bertanya mengapa memilih jurusan itu.

Indah (bukan nama sebenarnya), anak perempuan berusia sepuluh tahun, memiliki kisah yang tak kalah memprihatinkan.

Selama kegiatan berlangsung, ia hampir nggak berbicara sepatah kata pun. Ia lebih banyak tersenyum.

Menurut Bu Vina, pendiri  yayasan, Indah mengalami trauma setelah bertahun-tahun menjadi pelampiasan kemarahan ibunya. Sang ibu menghadapi beban hidup yang berat. Selain divonis HIV-AIDS, ia juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari suaminya.

Begitulah. Siklus penderitaan itu terus berulang.

---

Anton dan Indah hanyalah dua dari sekitar 564.000 orang dengan HIV-AIDS (ODHIV) di Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia termasuk negara dengan jumlah ODHIV yang masih tinggi di dunia.

Banyak anak yang hidup dengan HIV bukan karena pilihan mereka sendiri. Mereka mewarisi penyakit itu sejak lahir. 

Mereka adalah korban dari keadaan yang bahkan belum mereka pahami ketika pertama kali membuka mata ke dunia.

Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana berinteraksi dengan ODHIV. Yang mereka tahu hanya satu: orang dengan HIV-AIDS harus dijauhi.

Mereka dianggap berbahaya. Mereka dianggap nggak layak hidup berdampingan. Mereka dianggap nggak  memiliki masa depan.

Akibatnya, anak-anak yang sejak awal adalah korban harus menanggung penderitaan berlapis. Mereka menahan sakit. Mental mereka memikul luka. Dan lingkungan sosial mereka menambahkan pengasingan.

Menurut cerita Bu Vina, hampir nggak ada sekolah yang mau menerima anak-anak yang diasuhnya. Semua takut. Semua menolak.

Kadang, Bu Vina harus menyembunyikan status kesehatan anak-anak itu di awal sambil memberikan edukasi kepada pihak sekolah. Setelah pemahaman mulai terbentuk, barulah ia terbuka kepada kepala sekolah dan para guru.

Pertanyaannya: Bagaimana mungkin sekolah yang seharusnya menjadi ruang pendidikan kemanusiaan dan pembentukan akal budi justru menolak anak-anak yang paling membutuhkan pendidikan?

Padahal Undang-Undang Dasar 1945 dengan tegas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan, serta berhak menikmati manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional juga menegaskan kewajiban negara dalam menjamin akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia.

Mengabaikan atau menolak ODHIV bukan hanya persoalan kurangnya empati. Ia juga merupakan pengingkaran terhadap amanat negara. Bahkan, pengkhianatan terhadap cita-cita yang kita sepakati bersama sebagai bangsa.

Pancasila dengan jelas berbicara tentang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” serta “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Namun bagi banyak anak dengan HIV-AIDS, sila-sila itu sering kali hanya terdengar indah dalam pidato.
Mereka tidak menemukannya di sekolah. Mereka nggak  menemukannya di lingkungan tempat tinggal.

Lalu hari ini, dan setiap tanggal 1 Juni pada tahun-tahun berikutnya, kita diminta merayakan Hari Lahir Pancasila.

Apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? Masih adakah wajah Pancasila yang tersisa bagi anak-anak yang hidup dengan HIV-AIDS?

---

Di meja belajar bundar itu, tujuh anak kembali bercengkerama. Ada yang tenggelam dalam buku bacaan, ada yang sibuk menyusun puzzle, ada yang menggambar dunia impiannya sendiri.

Mereka didampingi seorang dewasa yang mereka panggil “Kakak Asuh”,  anak-anak muda dari berbagai profesi. Mereka kami rekrut untuk menjadi relawan dalam kegiatan ini. Mereka  datang bukan karena dibayar, tapi karena percaya bahwa setiap anak berhak terdidik dan memiliki cita-cita tinggi.

Hari itu, Gerakan Kembali ke Buku (GKKB), kegiatan rutin yang dilakukan Generasi Literat, kembali mengingatkanku bahwa tugas kemanusiaan tidak selalu dimulai dari hal-hal besar.

Ia bisa dimulai dengan hadir menemani rasa kesendirian,  mendengarkan, membacakan cerita, menenun harapan hidup yang lebih jauh. 

Sebab nilai-nilai Pancasila nggak akan pernah terwujud hanya dalam upacara, slogan, spanduk, atau status ucapan di media sosial.

Pancasila akan hidup ketika kita memilih untuk tetap melihat dan memperlakukan manusia sebagai manusia, terutama kepada mereka yang selama ini distigma, diabaikan, dan ditolak oleh dunia.

Hari Pancasila, 1 Juni 2026

*) Founder Generasi Literat