![]() |
| BGN dan Kementan sepakat perkuat pasokan telur-sayur untuk dapur MBG di Indonesia Timur dan tambah frekuensi menu telur jaga harga peternak. ( Foto: BGN) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA--Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang melakukan pertemuan dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Kantor Kementan, Selasa (30/6). Pertemuan ini membahas penguatan pasokan bahan baku pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama di wilayah Indonesia Timur yang masih mengalami keterbatasan pasokan telur, sayur, dan komoditas pangan lainnya.
Dalam pertemuan tersebut, Nanik menyampaikan kebutuhan mendesak untuk memastikan ketersediaan bahan pangan di SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di kawasan timur yang kerap menghadapi kendala distribusi dan ketersediaan komoditas.
"Wilayah Indonesia Timur masih menghadapi tantangan dalam hal pasokan telur, sayur, dan komoditas pangan lainnya. Ini menjadi perhatian serius kami agar program MBG bisa berjalan optimal di seluruh Indonesia," ujar Nanik dalam pertemuan tersebut.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons positif permintaan tersebut. Ia menegaskan kesiapan Kementan untuk mendukung program MBG melalui penguatan rantai pasok dari peternak dan petani lokal.
"Kami siap mendukung penuh. Ini juga menjadi peluang bagi peternak dan petani kita untuk menyerap hasil produksinya," kata Amran.
Tingkatkan Frekuensi Menu Telur
Selain membahas pasokan, pertemuan tersebut juga menyepakati langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan telur produksi peternak dalam negeri. Hal ini menjadi penting mengingat beberapa daerah sentra produksi, seperti di Jawa Timur, mengalami penurunan harga telur yang merugikan peternak.
Menurut hasil pertemuan, BGN akan menambah frekuensi menu telur dalam program MBG. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga telur di tingkat peternak sekaligus memastikan pemenuhan gizi bagi penerima manfaat program.
Langkah ini sejalan dengan usulan yang sebelumnya telah disampaikan Kementan kepada BGN untuk meningkatkan konsumsi telur dan daging ayam menjadi tiga kali dalam seminggu . Usulan tersebut mendapat respons positif dan segera ditindaklanjuti oleh BGN.
Latar Belakang Masalah
Data dari beberapa sumber menunjukkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, harga telur di tingkat produsen atau peternak sempat menyentuh angka Rp17.000 hingga Rp21.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Beberapa faktor disebut menjadi penyebab anjloknya harga, antara lain libur sekolah yang menghentikan operasional SPPG, menurunnya konsumsi masyarakat, serta surplus produksi di sejumlah sentra peternakan . Situasi ini membuat para peternak merugi karena biaya produksi yang terus meningkat.
Surat Edaran BGN yang menghentikan operasional dapur MBG selama libur sekolah juga dinilai memperburuk kondisi serapan telur dari peternak.
Namun, hasil pertemuan ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan penambahan frekuensi menu telur, serapan terhadap produksi telur nasional diharapkan meningkat dan harga di tingkat peternak bisa kembali stabil.
( berbagai sumber)
