Editor: Devona R
Malam puncak perayaan bertajuk "Jam Gadang Cultural Night" yang digelar di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (20/6/2026). (Foto: Kemenbud)
GEBRAK.ID, BUKITTINGGI – Peringatan satu abad Jam Gadang menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi ikon Kota Bukittinggi tersebut sebagai simbol sejarah, budaya, sekaligus identitas bangsa. Dalam malam puncak perayaan bertajuk "Jam Gadang Cultural Night" yang digelar di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (20/6/2026), Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyatakan Jam Gadang memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar penunjuk waktu.
Menurut Fadli Zon, bangunan bersejarah yang telah berdiri selama 100 tahun itu menjadi saksi perjalanan panjang Indonesia, mulai dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan, hingga pembangunan nasional yang terus berlangsung saat ini.
"Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penanda zaman. Monumen ini telah melewati berbagai fase penting dalam sejarah Indonesia dan akan terus menjadi saksi lahirnya Generasi Indonesia Emas 2045," ujar Fadli Zon.
Fadli Zon menambahkan, peringatan 100 tahun Jam Gadang memiliki makna strategis karena digelar di tengah tantangan global dan kebijakan efisiensi anggaran. Namun, berkat kolaborasi berbagai pihak, seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat terlaksana dengan baik.
Fadli memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, Pemerintah Kota Bukittinggi, sektor swasta, dunia usaha, hingga masyarakat yang turut mendukung terselenggaranya perayaan tersebut.
"Kebudayaan adalah sumber kekuatan bangsa. Indonesia memiliki keberagaman budaya yang luar biasa, dari Sabang sampai Merauke. Minangkabau menjadi salah satu warisan budaya yang sangat kaya dengan nilai dan tradisinya," kata Fadli.
Fadli berharap peringatan satu abad Jam Gadang tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaan budaya Indonesia. "Selamat atas peringatan 100 tahun Jam Gadang. Semoga momentum ini semakin memperkuat kecintaan kita terhadap budaya bangsa," cetusnya.
Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menjelaskan bahwa rangkaian peringatan telah dimulai sejak 3 Juni 2026 dan berlangsung hingga 21 Juni 2026 melalui berbagai kegiatan budaya, pendidikan, hingga pariwisata.
Menurut Ramlan, malam puncak menjadi momen untuk kembali mengingat sejarah sekaligus memperkuat posisi Bukittinggi sebagai salah satu pusat kebudayaan nasional.
"Malam ini menjadi penegasan bahwa Bukittinggi memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu kota penting dalam perjalanan budaya Indonesia," ujar Ramlan.
Senada dengan itu, Wakil Gubernur Sumatra Barat Vasko Ruseimy menyebut Jam Gadang bukan hanya ikon Kota Bukittinggi, tetapi juga simbol perjuangan dan semangat bangsa Indonesia.
Vasko berharap generasi muda semakin mengenal sejarah panjang Jam Gadang yang selama ini menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan Republik Indonesia.
Perayaan 100 Tahun Jam Gadang juga dimeriahkan dengan beragam kegiatan, mulai dari kompetisi fotografi, Festival Internasional Literasi Minangkabau, seminar internasional bertema sejarah, budaya, pendidikan, dan pariwisata, pertunjukan seni budaya dari berbagai daerah di Indonesia, hingga pembagian kuliner gratis bagi masyarakat.
Sejumlah tokoh nasional turut menghadiri acara tersebut, di antaranya Meutia Hatta, Halida Hatta, keluarga Syafruddin Prawiranegara, serta perwakilan seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sumatra Barat.
Melalui peringatan satu abad Jam Gadang, Kementerian Kebudayaan berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan budaya sebagai identitas bangsa. Momentum bersejarah ini juga menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki akar peradaban yang panjang serta kekayaan budaya yang menjadi modal penting untuk memperkuat posisi bangsa di tingkat dunia.
(Sumber: Kemenbud)