Editor: Damar Pratama
Mesin pencarian Google. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID – Google mulai mengambil langkah yang bisa mengubah hubungan antara mesin pencari dan industri media digital. Raksasa teknologi tersebut menguji fitur baru yang memungkinkan pemilik situs web menolak kontennya digunakan dalam layanan pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk AI Overviews dan AI Mode.
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi penerbit berita yang selama ini mengeluhkan penggunaan konten mereka oleh sistem AI tanpa memberikan dampak trafik yang sebanding. Melalui fitur baru di Search Console, pemilik situs nantinya dapat menentukan apakah artikel dan halaman mereka boleh dijadikan sumber jawaban oleh teknologi AI Google atau tidak.
Menariknya, menurut laporan Engadget, Kamis (4/6/2026), Google menegaskan bahwa situs yang memilih keluar (opt-out) dari fitur AI generatif tidak akan terkena penalti atau penurunan peringkat pada hasil pencarian reguler.
Uji coba awal akan dilakukan kepada sejumlah pemilik situs di Inggris sebelum diperluas ke berbagai negara lainnya. Langkah ini diyakini tidak lepas dari tekanan regulator Inggris, terutama Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris (CMA), yang menilai dominasi Google di sektor pencarian digital perlu diimbangi dengan perlindungan lebih kuat terhadap penerbit.
Pada Januari 2026, pemerintah Inggris bahkan mewajibkan Google menyediakan mekanisme agar situs web dapat menolak penggunaan kontennya oleh AI. Aturan tersebut bertujuan menciptakan hubungan yang lebih adil antara platform teknologi dan industri media.
Selain menghadirkan fitur penolakan konten AI, Google juga menambahkan sejumlah pembaruan analitik di Search Console. Pemilik situs kini dapat mengetahui halaman mana yang muncul dalam hasil pencarian AI, termasuk asal negara pengguna yang mengakses informasi tersebut.
Google menyebut pengembangan fitur ini merupakan bagian dari dialog berkelanjutan dengan penerbit, kreator konten, dan regulator di berbagai negara. Perusahaan ingin memastikan pemilik situs memiliki kendali lebih besar atas pemanfaatan karya mereka di era AI generatif.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap AI Overviews dan AI Mode. Banyak penerbit menilai ringkasan yang dibuat AI membuat pengguna cukup membaca jawaban di halaman Google tanpa perlu mengunjungi sumber asli. Akibatnya, trafik organik yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan media digital terancam terus menurun.
Dengan semakin masifnya penggunaan AI dalam pencarian informasi, keputusan Google menghadirkan fitur opt-out dipandang sebagai kompromi penting antara inovasi teknologi dan perlindungan hak penerbit konten di era digital.
(Sumber: Engadget)