Gunung Anak Krakatau Bergejolak, Lonjakan Gempa Dangkal Picu Kewaspadaan Baru

Ilustrasi gunung anak krakatau. ( Foto: Wikimedia Commons) 

Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID,JAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang Juni 2026. Lonjakan gempa hembusan, gempa hybrid, dan gempa frekuensi rendah (low frequency) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian para vulkanolog meski belum ditemukan indikasi adanya suplai magma baru dari kedalaman.

Data pemantauan menunjukkan sejak awal Juni 2026 satelit Sentinel mendeteksi peningkatan emisi sulfur dioksida (SO2) dan anomali panas di area kawah. Aktivitas permukaan semakin jelas terlihat ketika pijaran api mulai teramati pada 10 Juni 2026, disertai embusan asap dengan intensitas tinggi.

Puncak peningkatan aktivitas terjadi pada 18-19 Juni 2026 ketika jumlah gempa hembusan, hybrid, dan low frequency melonjak hingga rata-rata lebih dari 50 kejadian per hari.

Ketua Tim Kerja Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Heruningtyas Desi Purnamasari, mengatakan lonjakan tersebut mencerminkan aktivitas yang terjadi di sistem vulkanik dangkal.

"Lonjakan gempa hembusan, hybrid, dan low frequency menunjukkan peningkatan aktivitas pada sistem dangkal, seperti pergerakan gas dan fluida di konduit dekat kawah," kata Heruningtyas.

Menurutnya, masing-masing jenis gempa memberikan informasi berbeda terkait kondisi internal gunung api. Gempa hembusan terjadi akibat gas yang menerobos rekahan batuan, gempa hybrid menandakan adanya patahan batuan yang dipicu tekanan fluida, sedangkan gempa low frequency mengindikasikan pergerakan cairan atau gas di sistem dangkal.

Namun demikian, PVMBG menegaskan peningkatan tersebut belum menunjukkan adanya pergerakan magma baru dari kedalaman.

"Pergerakan magma dari kedalaman tidak ikut meningkat dan menunjukkan belum ada indikasi kuat suplai magma baru dari kedalaman," ujarnya.

Tidak Ada Deformasi Signifikan

Selain aktivitas seismik, PVMBG juga memantau deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung menggunakan instrumen GPS, Global Navigation Satellite System (GNSS), dan tiltmeter yang bekerja secara otomatis melalui sistem telemetri.

Hasil pemantauan hingga akhir Juni 2026 menunjukkan tidak ada perubahan bentuk tubuh gunung yang signifikan.

Menurut Heruningtyas, ketiadaan deformasi menjadi indikator bahwa aktivitas yang sedang berlangsung lebih didominasi proses dangkal seperti pelepasan gas (degassing) dibandingkan intrusi magma berskala besar.

"Pernyataan tidak disertai deformasi berarti tidak terdeteksi perubahan bentuk tubuh gunung yang signifikan, sehingga aktivitas yang meningkat lebih mengarah pada proses dangkal dibanding adanya intrusi magma berskala besar," jelasnya.

PVMBG juga menegaskan bahwa keputusan menaikkan status aktivitas gunung api tidak hanya bergantung pada jumlah gempa yang tercatat. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan parameter seismik, deformasi, pengamatan visual, hingga data emisi gas vulkanik.

Status Masih Waspada

Meski aktivitas meningkat, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level II (Waspada).

Pada status ini, masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun pendaki dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 2 kilometer. Zona tersebut ditetapkan untuk mengantisipasi potensi lontaran material pijar, hujan abu, maupun paparan gas vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Pengawasan kawasan dilakukan oleh berbagai instansi, termasuk KSOP, Polairud, TNI AL, Basarnas, BPBD, serta pemerintah daerah mengingat akses menuju pulau hanya dapat ditempuh melalui jalur laut.

Pelajaran Penting dari Tsunami 2018

Peningkatan aktivitas Anak Krakatau tak lepas dari trauma bencana tsunami vulkanik pada 22 Desember 2018. Saat itu longsoran besar di tubuh gunung memicu gelombang tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung serta menewaskan lebih dari 400 orang.

Sejak peristiwa tersebut, mitigasi bencana di kawasan Selat Sunda mengalami perubahan besar. Ancaman tsunami akibat longsoran tubuh gunung kini menjadi bagian utama dalam skenario kebencanaan nasional.

PVMBG bersama pemerintah daerah dan lembaga terkait telah memperkuat jalur evakuasi, sistem peringatan dini, simulasi kebencanaan, hingga koordinasi lintas instansi guna mengantisipasi kemungkinan terulangnya bencana serupa.

Benarkah Dipicu Megathrust?

Munculnya lonjakan aktivitas Anak Krakatau juga memunculkan spekulasi mengenai kaitannya dengan zona Megathrust Sunda yang membentang dari selatan Sumatra hingga selatan Jawa.

Namun PVMBG menegaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau dipicu langsung oleh aktivitas megathrust.

Menurut Heruningtyas, pola yang terekam lebih sesuai dengan dinamika internal sistem vulkanik gunung dibanding respons terhadap aktivitas tektonik regional.

Meski demikian, secara geologi Gunung Anak Krakatau memang terbentuk akibat proses subduksi yang sama dengan sistem Megathrust Sunda, yakni penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Para ahli menilai hubungan tersebut bersifat jangka panjang dan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya keterkaitan langsung dengan lonjakan aktivitas vulkanik saat ini.

Pemantauan Diperketat

PVMBG memastikan pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan selama 24 jam melalui kombinasi pengamatan visual, instrumen seismik, deformasi, emisi gas, serta citra satelit.

Meski belum ada tanda-tanda erupsi besar maupun intrusi magma baru, lonjakan aktivitas dangkal yang terjadi sepanjang Juni 2026 menjadi pengingat bahwa Anak Krakatau tetap merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi PVMBG dan Badan Geologi serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas gunung api maupun isu megathrust yang beredar di media sosial.

( sumber PVMBG