![]() |
| Ekonom CORE nilai penurunan harga BBM nonsubsidi layak dilakukan seiring pelemahan harga minyak dunia. Penyesuaian dinilai dapat meringankan beban masyarakat. |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA – Angin segar mulai berembus bagi masyarakat pengguna bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Setelah mengalami kenaikan signifikan pada awal Juni 2026, wacana penurunan harga BBM nonsubsidi kini mulai menguat seiring dengan melemahnya harga minyak mentah dunia. Para ekonom menilai langkah ini sudah semestinya dilakukan dan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, terutama dalam meringankan beban konsumen di tengah tekanan daya beli.
Mekanisme Harga yang Mengikuti Pasar
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti mekanisme pasar atau bersifat floating. Artinya, pergerakan harganya sangat ditentukan oleh fluktuasi harga minyak mentah internasional dan nilai tukar rupiah.
"BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar," tegas Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, dalam keterangan resminya.
Dengan logika tersebut, ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, maka harga BBM nonsubsidi di dalam negeri semestinya juga ikut disesuaikan.
Pelemahan Harga Minyak Dunia dan Dampaknya
Tren penurunan harga minyak dunia memang mulai terlihat jelas dalam beberapa pekan terakhir. Mengutip data Refinitiv, harga minyak mentah acuan Brent tercatat ambles 4,34% menjadi US$71,99 per barel pada Jumat (26/6/2026). Senada, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga anjlok 3,74% ke level US$69,23 per barel.
Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi harga minyak dunia akan terus turun, yang turut menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman . Pelemahan ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan prospek permintaan global yang melemah.
Dorongan agar Segera Diterapkan
Melihat kondisi ini, Faisal mendorong agar penurunan harga BBM nonsubsidi tidak ditunda-tunda. Ia menilai penurunan ini akan sangat membantu perekonomian masyarakat, terutama kelas menengah yang kini sedang menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
"Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM non-subsidi) itu sudah bisa diturunkan... apalagi kalau kemudian nanti stabil artinya stabil terus di kisaran 70 dolar AS per barel maka sudah waktunya untuk diturunkan," ujar Faisal.
Pertamina Siapkan Langkah Strategis
Isu penurunan harga ini tampaknya juga mulai mendapat perhatian serius dari PT Pertamina (Persero). Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, telah memberikan masukan kepada jajaran direksi agar segera mempersiapkan eksekusi penurunan harga BBM nonsubsidi. Rencananya, penurunan dapat dilakukan secara bertahap mulai awal Juli 2026.
Meski demikian, keputusan final mengenai penurunan harga masih akan dibahas lebih lanjut antara direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memastikan semua mekanisme berjalan sesuai ketentuan.
Perbedaan dengan BBM Bersubsidi
Pemerintah memastikan bahwa wacana penyesuaian harga ini hanya akan berlaku untuk BBM nonsubsidi. Sementara itu, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak mengalami perubahan untuk menjaga daya beli masyarakat . "BBM subsidi itu tidak ada perubahan sama sekali, sementara harga yang non-subsidi itu menyesuaikan dengan harga pasar yang ada," tegas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
( berbagai sumber)
