![]() |
| Harga telur dan ayam anjlok saat MBG libur sekolah. Kemendag menyiapkan ekspor dan mendorong Horeka menyerap produksi peternak. ( Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui harga telur ayam ras dan daging ayam mengalami penurunan selama masa libur sekolah. Salah satu penyebabnya adalah berhentinya sementara penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada siswa karena kegiatan belajar mengajar diliburkan.
Menurut Budi Santoso, selama ini program MBG menjadi salah satu penyerap utama hasil produksi peternak ayam dan telur melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ketika operasional SPPG berkurang selama libur sekolah, permintaan ikut melemah sehingga harga di tingkat peternak turun.
"Kondisi ini memang dipengaruhi berkurangnya penyerapan dari program MBG selama masa libur sekolah," ujar Budi.
Untuk menjaga agar harga tidak terus tertekan, Kementerian Perdagangan tengah menjajaki perluasan pasar ekspor bagi produk unggas Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menyerap kelebihan pasokan sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
Selain membuka peluang ekspor, Kemendag juga telah mengirimkan surat kepada pelaku usaha hotel, restoran, kafe (Horeka), serta jaringan ritel modern agar meningkatkan penyerapan telur dan daging ayam dari peternak dalam negeri.
Budi menilai persoalan utama saat ini bukan terletak pada produksi yang kurang, melainkan pada terbatasnya saluran distribusi yang mampu menyerap hasil peternak secara cepat.
Ia berharap pelaku usaha kuliner dapat meningkatkan penggunaan telur maupun ayam dalam menu makanan sehingga permintaan pasar kembali meningkat.
Sebelumnya, pemerintah juga telah memanfaatkan program MBG sebagai instrumen stabilisasi harga pangan. Saat harga telur turun di sejumlah daerah sentra produksi, Badan Gizi Nasional (BGN) diarahkan untuk menyerap telur peternak melalui SPPG agar harga kembali membaik. Bahkan, dalam kesepakatan antara pemerintah dan asosiasi peternak, menu berbahan telur ditetapkan minimal tiga kali dalam sepekan pada pelaksanaan MBG.
Namun, penghentian sementara distribusi MBG selama libur sekolah membuat permintaan kembali melemah. Kondisi ini turut dikeluhkan peternak di berbagai daerah karena harga jual ayam hidup maupun telur turun di bawah biaya produksi sehingga menggerus keuntungan usaha.
Pemerintah berharap kombinasi perluasan pasar ekspor, peningkatan penyerapan oleh sektor Horeka dan ritel, serta normalisasi operasional MBG setelah masa libur sekolah berakhir dapat mengembalikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga harga telur dan daging ayam kembali stabil.
( berbagai sumber)
