Heboh Isu Token Listrik Lebih Boros, Begini Fakta Sebenarnya dari PLN

Tidak ada perbedaan tarif token prabayar dan pascabayar. PLN menyatakan, semua tergantung pemakaian. (Foto: istimewa) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA – Belakangan ini, masyarakat kembali dihebohkan dengan perbandingan antara dua layanan kelistrikan rumah tangga di Indonesia, yaitu listrik prabayar (token) dan listrik pascabayar (meteran biasa). Sebuah anggapan yang cukup masif beredar menyebutkan bahwa penggunaan token listrik dinilai lebih boros dibandingkan sistem konvensional.

Pasalnya, banyak pelanggan prabayar yang mengeluhkan saldo kWh-nya cepat habis meskipun jumlah perangkat elektronik yang digunakan terbilang biasa saja. Hal ini pun menuai beragam spekulasi di media sosial dan diskusi publik.

Lantas, apakah benar sistem token listrik lebih boros? Berikut penjelasan resmi dari PT PLN (Persero) hingga tips mengecek konsumsi daya secara mandiri.

Klarifikasi PLN: Tidak Ada Perbedaan Tarif, Semua Tergantung Pemakaian

Manager Komunikasi, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari, dengan tegas membantah anggapan bahwa listrik prabayar lebih boros. Ia menegaskan bahwa besaran biaya listrik semata-mata ditentukan oleh jumlah pemakaian (kWh) pelanggan, bukan oleh sistem pembayarannya.

"Terkait anggapan bahwa listrik prabayar atau token lebih boros dibandingkan listrik pascabayar, perlu kami sampaikan bahwa hal tersebut tidak benar," ujar Dana kepada awak media, dikutip pada Sabtu (14/6/2026) .

Dana menjelaskan lebih lanjut bahwa kedua sistem ini menggunakan satuan pengukuran yang identik, yaitu kilowatt hour (kWh). Tarif dasarnya pun mengacu pada aturan Kementerian ESDM yang sama untuk semua golongan. Dengan kata lain, perbedaan prabayar dan pascabayar hanya terletak pada waktu pembayaran dan metode pencatatan. 

"Pada sistem prabayar, pelanggan membeli kWh di muka. Pada pascabayar, pelanggan memakai dulu lalu bayar di akhir bulan. Secara hitungan matematis, nilai rupiah per kWh-nya sama persis," tegasnya.

Alasan di Balik Keluhan "Token Cepat Habis"

Jika bukan karena sistem, lalu mengapa banyak pelanggan merasa tokennya lebih boros dibandingkan saat masih menggunakan pascabayar?

Menurut Dana, fenomena ini lebih berkaitan dengan psikologis dan pola konsumsi.

1. Efek Psikologis Pembayaran di Muka: Pada sistem pascabayar, pelanggan biasanya tidak merasakan "sakitnya" membayar di muka, sehingga penggunaan cenderung kurang terkontrol hingga tagihan besar datang di akhir bulan. Sementara pada token, setiap pengurangan saldo terasa langsung.

2. Meningkatnya Penggunaan Alat Elektronik: Beban utama konsumsi listrik biasanya berasal dari perangkat berdaya besar seperti AC, dispenser, kulkas, setrika, mesin cuci, dan pompa air yang menyala terus menerus .

3. Instalasi atau Peralatan Tua: Kebocoran arus listrik pada instalasi rumah atau perangkat elektronik yang sudah usang juga bisa menyebabkan kWh berputar lebih cepat dari semestinya.

Wajib Tahu! Cara Cek "Pemboros Listrik" di Rumah Pakai Kode 09

Untuk menghindari pembengkakan tagihan atau token yang cepat habis, pelanggan sebenarnya bisa melakukan deteksi dini secara mandiri. Executive Vice President Komunikasi Korporat PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, membagikan trik sederhana menggunakan kode rahasia pada meteran prabayar. 

“Kode 09 pada meteran listrik prabayar berfungsi menampilkan informasi daya sesaat (instantaneous power) dalam satuan Watt secara real-time,” jelas Gregorius.

Berikut langkah-langkah mengecek konsumsi daya elektronik:

1. Matikan seluruh perangkat elektronik di rumah hingga ke stop kontak.

2. Nyalakan satu perangkat yang ingin Anda uji (misalnya AC atau setrika).

3. Pada meteran listrik prabayar, tekan kode 09 lalu tombol Enter (atau Equivalen).

4. Bacalah angka yang muncul di layar.

Sebagai contoh, jika layar menunjukkan angka 510, artinya perangkat tersebut sedang mengonsumsi daya sebesar 510 Watt. Dengan metode ini, konsumen bisa mengetahui persis perangkat mana yang paling "rakus listrik" di rumah.

PLN mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan menggunakan kode meteran lain yang tidak resmi beredar di media sosial, karena dapat mengganggu fungsi pencatatan alat. 

Haruskah Pindah ke Pascabayar?

Keputusan untuk tetap menggunakan prabayar atau beralih ke pascabayar sepenuhnya tergantung pada gaya hidup pengelolaan keuangan.

· Prabayar cocok bagi Anda yang ingin mengontrol anggaran secara ketat, tidak ingin terkena denda keterlambatan, atau menghindari tagihan kaget di akhir bulan.

· Pascabayar mungkin lebih nyaman bagi yang tidak ingin repot mengisi token, namun risiko tagihan membengkak tetap ada jika penggunaan tidak diawasi.

Kesimpulannya, listrik prabayar TIDAK lebih boros daripada pascabayar. Pemborosan terjadi akibat perilaku konsumtif dalam menggunakan energi, bukan karena sistem token. Terapkan pola hidup hemat energi dan rutin monitor daya listrik Anda.

(berbagai sumber)