Editor: Endro Yuwanto
SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang digelar
Kemendikdasmen bersama SEAMEO CECCEP dan SEAMEO Secretariat di Jakarta,
Selasa (9/6/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong negara-negara Asia Tenggara memperkuat kolaborasi dalam merumuskan kebijakan pendidikan berbasis riset guna menghadapi berbagai tantangan masa depan, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga pengembangan sumber daya manusia yang lebih kompetitif.
Komitmen tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang digelar Kemendikdasmen bersama SEAMEO CECCEP dan SEAMEO Secretariat di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Forum yang berlangsung selama tiga hari itu mempertemukan sekitar 200 peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai mitra pembangunan pendidikan di kawasan.
Mengusung tema "Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable and Sustainable Futures", forum tersebut menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara hasil penelitian, proses perumusan kebijakan, dan praktik pendidikan di lapangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan yang berjalan sendiri-sendiri.
“Jembatan antara riset dan kebijakan sering kali terputus. Peneliti menerbitkan hasil penelitian yang tidak dibaca pembuat kebijakan, sementara pembuat kebijakan mengambil keputusan tanpa memanfaatkan hasil riset. Kita harus mengubah keadaan ini. Peneliti dan pembuat kebijakan harus duduk bersama sejak awal untuk merancang solusi bagi pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti saat membuka kegiatan di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurut Abdul Mu'ti, kebijakan pendidikan yang efektif harus lahir dari proses yang melibatkan penelitian yang kuat, pengalaman lapangan, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Pendidikan Harus Siapkan Generasi Hadapi Era AI
Dalam forum tersebut juga dipaparkan sejumlah temuan terkait dampak perkembangan teknologi terhadap dunia kerja di Asia Tenggara. Adopsi kecerdasan buatan dan robotika di lima negara Asia Tenggara sepanjang periode 2018–2022 tercatat menciptakan sekitar dua juta lapangan kerja terampil. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga menggeser sekitar 1,4 juta pekerjaan yang didominasi tenaga kerja dengan keterampilan rendah.
Data tersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman agar generasi muda memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Karena itu, Indonesia mengajak negara-negara anggota SEAMEO untuk membangun budaya pengambilan keputusan yang berbasis bukti atau evidence-based policy, sehingga setiap kebijakan pendidikan memiliki landasan ilmiah yang kuat dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Partisipasi Semesta yang terus dikembangkan Kemendikdasmen dalam mendorong transformasi pendidikan nasional.
Deep Learning Jadi Arah Transformasi Pendidikan Indonesia
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga memaparkan berbagai langkah transformasi pendidikan yang tengah dilakukan Indonesia. Salah satunya melalui pendekatan Deep Learning yang mendorong proses pembelajaran menjadi lebih sadar (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).
Pendekatan tersebut didukung melalui peningkatan kompetensi guru di bidang kecerdasan buatan, coding, STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), pendidikan karakter, penguatan tata kelola data pendidikan, revitalisasi satuan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran yang lebih interaktif.
Menurut Kemendikdasmen, transformasi pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada penyusunan kebijakan. Hasil-hasil penelitian juga harus mampu diterjemahkan menjadi solusi nyata yang dapat diterapkan di sekolah dan lingkungan belajar.
Riset Harus Berdampak Nyata
Presiden Dewan SEAMEO, H.E. Datin Seri Setia Dr. Hajah Romaizah binti Haji Mohd Salleh, menilai CPRN telah berkembang menjadi platform strategis yang mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi pendidikan di kawasan Asia Tenggara.
“Pengetahuan yang dihasilkan para peneliti tidak boleh berhenti di ruang akademik. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Romaizah.
Sementara itu, Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany, mengatakan CPRN 2026 tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga sarana membangun jejaring profesional dan kemitraan baru yang dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan pendidikan yang lebih efektif.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga membangun jejaring profesional, kemitraan baru, dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong perubahan nyata di kawasan,” kata Vina.
Sebagai tindak lanjut forum tersebut, sejumlah keluaran strategis akan dihasilkan, mulai dari sintesis rekomendasi kebijakan bagi negara-negara anggota SEAMEO, publikasi prosiding terindeks Scopus, artikel ilmiah di jurnal akademik, hingga penerbitan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pembuat kebijakan, peneliti, maupun praktisi pendidikan.
CPRN Summit 2026 merupakan hasil kolaborasi Kemendikdasmen, SEAMEO Secretariat, dan SEAMEO CECCEP dengan dukungan berbagai mitra seperti GPE KIX EMAP Hub, INOVASI, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, The Conversation Indonesia, serta seluruh pusat SEAMEO di kawasan Asia Tenggara.
Partisipasi berbagai pemangku kepentingan dari lintas sektor tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih inklusif, setara, dan berkelanjutan bagi generasi masa depan.
(Sumber: Kemendikdasmen)