![]() |
| Kepala BGN Nanik S Deyang membuka peluang pemanfaatan kantin sekolah sebagai dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T. ( Foto: BGN) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang membuka peluang pemanfaatan kantin sekolah sebagai dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini menjadi solusi cerdas mengatasi jumlah sasaran MBG yang sedikit sekaligus efisiensi anggaran.
Dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026), Nanik menjelaskan bahwa pendekatan di wilayah 3T berbeda dengan daerah perkotaan.
"Kita juga tidak harus membangun dapur baru. Itu prinsipnya. Kita bisa menggunakan dapur-dapur misalnya kantin sekolah karena (daerah) 3T ini cuma ada yang 200, ada 81, ada 47 orang di wilayah-wilayah itu," ujar Nanik.
Menurut Nanik, membangun dapur baru dengan jumlah penerima manfaat sedikit tidak efisien. "Enggak mungkin kita membangun dapur-dapur baru. Jadi yang sudah ada, eksisting, tidak tahu dapurnya siapa, mungkin ada dapur umum. Intinya tidak harus membangun dapur baru," jelasnya.
Pemerintah juga menyiapkan alternatif pendanaan selain APBN yang dipangkas menjadi Rp268 triliun, seperti CSR BUMN, hibah dari negara lain, hingga dana dari yayasan. Perusahaan yang berinvestasi di daerah terpencil pun didorong menggunakan program tanggung jawab sosial perusahaan.
BGN telah menyiapkan empat langkah efisiensi yakni refocusing penerima manfaat, moratorium pembangunan dapur baru, pembenahan dapur eksisting, serta perluasan MBG di 3T tanpa membebani APBN. Dapur yang tak memenuhi standar akan dievaluasi bahkan dihentikan sementara.
(Sumber: BGN)
