Editor: A. Rayyan K
Bendera negara Amerika Serikat (AS) dan Iran. (Foto ilustrasi: Pixabay/Freepik)
GEBRAK.ID, JAKARTA – Munculnya kesepahaman awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memunculkan harapan baru bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, di balik optimisme tersebut, banyak kalangan menilai kesepakatan itu masih jauh dari kata damai yang sesungguhnya.
Pengamat militer dan geopolitik Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim menilai, perkembangan terbaru lebih tepat dipandang sebagai jeda strategis daripada penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Menurut Chappy, apa yang terjadi saat ini merupakan "time out" dalam dinamika hubungan Washington dan Teheran, yakni penghentian sementara eskalasi melalui kerangka kesepahaman politik, bukan penyelesaian permanen atas berbagai persoalan mendasar.
"Perdamaian sejati belum lahir. Yang terjadi sekarang lebih merupakan kesempatan untuk menahan konflik agar tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas," tulis Chappy Hakim dalam siaran persnya yang diterima tim Redaksi Gebrak.id, Minggu (21/6/2026).
Kesepakatan Masih Berupa Langkah Awal
Dalam beberapa hari terakhir, kedua negara dikabarkan mencapai sebuah memorandum of understanding (MoU) yang menjadi dasar penghentian sementara permusuhan.
Kesepahaman tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang vital, serta dimulainya kembali dialog mengenai program nuklir Iran.
Meski demikian, Chappy menegaskan bahwa dokumen tersebut belum dapat dikategorikan sebagai perjanjian damai final karena masih menyisakan berbagai persoalan krusial.
Di antaranya adalah batas pengayaan uranium Iran, mekanisme inspeksi internasional, tahapan pencabutan sanksi ekonomi, jaminan keamanan kawasan, hingga peran kelompok-kelompok proksi yang selama ini menjadi bagian dari dinamika konflik Timur Tengah.
"Kesepakatan ini baru berhasil menurunkan suhu konflik, tetapi belum menyelesaikan akar persoalannya," ujar Chappy yang juga founder Pusat Studi Air Power Indonesia.
Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Dunia
Salah satu poin penting dalam kesepahaman tersebut adalah tetap terbukanya Selat Hormuz.
Jalur laut ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak sekaligus mengganggu stabilitas ekonomi global.
Karena itu, kesediaan Amerika Serikat dan Iran kembali membuka ruang dialog dinilai memberikan napas baru bagi kawasan Teluk yang selama bertahun-tahun berada dalam ketegangan tinggi.
Namun demikian, Chappy mengingatkan bahwa diplomasi di Timur Tengah selalu penuh ketidakpastian. "Di kawasan ini, tanda tangan di atas kertas sering kali bukan akhir konflik, melainkan awal dari babak baru yang lebih kompleks."
Bayang-bayang Kegagalan JCPOA Masih Menghantui
Kesepakatan terbaru juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani pada 2015.
Saat itu, Iran bersedia membatasi program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi. Namun, situasi berubah ketika Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian tersebut pada 2018.
Langkah itu membuat tingkat kepercayaan Iran terhadap komitmen Washington menurun drastis.
Kini, muncul pertanyaan yang sama. Apakah Iran percaya Amerika Serikat akan memegang komitmen jangka panjangnya? Sebaliknya, apakah Washington yakin Teheran benar-benar akan membatasi program nuklir sekaligus mengendalikan jaringan proksinya di kawasan?
Menurut Chappy, dua kepentingan tersebut masih sulit dipertemukan karena menyangkut persoalan strategis masing-masing negara.
Bagi Iran, program nuklir merupakan simbol kedaulatan dan martabat nasional. Sebaliknya, bagi Amerika Serikat beserta sekutunya, program tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Israel Dinilai Menjadi Faktor Penentu
Selain hubungan bilateral AS-Iran, posisi Israel disebut menjadi faktor paling sensitif dalam setiap proses negosiasi.
Bagi Tel Aviv, isu nuklir Iran merupakan persoalan eksistensial sehingga setiap kesepakatan yang dianggap memberi ruang terlalu besar kepada Teheran berpotensi memicu respons politik maupun militer.
Chappy menilai, satu insiden kecil di Lebanon, Suriah, Irak, Yaman maupun kawasan Teluk dapat mengubah arah diplomasi secara drastis. "Kesepakatan di meja perundingan bisa runtuh hanya karena satu serangan di lapangan."
Karena itu, keberhasilan diplomasi tidak hanya ditentukan isi dokumen, tetapi juga kemampuan seluruh pihak menahan diri dan mengendalikan sekutu maupun kelompok proksi masing-masing.
Tiga Skenario yang Mungkin Terjadi
Ke depan, Chappy memetakan tiga kemungkinan yang dapat terjadi.
Skenario pertama adalah yang paling optimistis, yakni MoU berkembang menjadi perjanjian damai yang lebih rinci dengan pembatasan program nuklir Iran disertai pencabutan sanksi secara bertahap.
Skenario kedua adalah kondisi yang dinilai paling realistis, yakni gencatan senjata tetap bertahan tetapi kesepakatan final tidak kunjung tercapai. Dalam situasi ini, kedua negara tetap berdialog tanpa menghasilkan terobosan besar sehingga kawasan berada dalam kondisi "tidak perang, tetapi juga belum damai".
Adapun skenario ketiga adalah kegagalan total apabila negosiasi kembali buntu akibat aksi militer, ketidaksepakatan mengenai program nuklir, atau tertundanya pencabutan sanksi.
Jika kondisi itu terjadi, konflik berpotensi kembali meningkat dan menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam siklus eskalasi baru.
Perdamaian Masih Menunggu Ujian
Chappy menilai, keberhasilan proses diplomasi akan sangat ditentukan oleh empat faktor utama, yakni keseriusan Iran membatasi program nuklirnya, kesediaan Amerika Serikat memberikan insentif ekonomi secara nyata, kemampuan kedua negara mengendalikan sekutu dan kelompok proksi masing-masing, serta tersedianya mekanisme verifikasi internasional yang kredibel.
Chappy mengingatkan agar dunia tidak terburu-buru menyebut kesepahaman saat ini sebagai perdamaian.
"Untuk saat ini, yang terjadi baru sebuah jeda. Namun dalam geopolitik yang penuh ketegangan, jeda seperti ini tetap memiliki nilai penting apabila benar-benar dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan, bukan sekadar mengatur napas sebelum konflik berikutnya," kata Chappy menandaskan.
(Sumber: Siaran Pers Chappy Hakim)