GEBRAK.ID, SURABAYA – Perjuangan hidup yang penuh ujian tak menghalangi langkah Devi Ridho Syavitri untuk meraih prestasi akademik membanggakan. Lulusan Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada wisuda periode Mei 2026 setelah mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.
Di balik senyum bahagianya saat menerima penghargaan tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang mengharukan. Devi harus menjalani masa kuliah tanpa kehadiran kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Perempuan asal Ponorogo itu kehilangan ayahnya pada 2021. Belum sempat pulih dari duka, sekitar 100 hari kemudian sang ibu juga berpulang. Kehilangan dua sosok yang menjadi penyemangat hidup membuat impian besarnya sempat terasa mustahil.
"Kala itu, bermimpi menjadi seorang dosen atau bahkan mencapai pendidikan tinggi bukan lagi sebuah tujuan, melainkan angan-angan panjang yang terasa sulit untuk didapatkan," kenang Devi seperti dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Senin (22/6/2026).
Meski sempat terpuruk, Devi memilih bangkit. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Semangat tersebut mengantarkannya diterima di Unair dan terus menorehkan berbagai prestasi selama menempuh pendidikan.
Sebelum menjadi mahasiswa, alumnus SMAN 1 Badegan, Ponorogo, itu telah aktif mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional. Ia meraih sejumlah penghargaan, di antaranya Juara 2 Gagasan Tertulis Nasional INFEST 2021 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Juara 2 Esai Nasional SMENTION SMAIT Insantama Bogor, Juara 2 Ocean Essay Competition Poseidon Institut Teknologi Bandung (ITB), hingga Juara 3 Lomba Debat Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Tak hanya berprestasi, Devi juga dikenal disiplin dalam mengatur target. Menurutnya, setiap tujuan yang ditetapkan menjadi motivasi untuk terus berkembang. "Target ini akan menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi aku untuk melakukan langkah demi langkah yang harus aku tempuh," ujarnya.
Kesuksesan di berbagai kompetisi tidak diraih secara instan. Devi mengaku rutin berdiskusi dengan guru pembimbing, mengasah kemampuan menulis, melatih presentasi, hingga rela mengeluarkan biaya pribadi untuk menyempurnakan karya yang dilombakan.
Seusai jam sekolah, Devi memanfaatkan waktu untuk mengikuti bimbingan di perpustakaan. Pada sore hari ia menyusun karya tulis, sedangkan malam digunakan untuk belajar dan menyelesaikan tugas akademik.
Semangat berkarya juga terus berlanjut ketika menjadi mahasiswa. Selain aktif mengikuti berbagai perlombaan, Devi menerbitkan novel berjudul Gugurnya Dosa pada 2023. Novel tersebut merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya, dipadukan dengan imajinasi, serta mengangkat pesan mengenai konsekuensi dari setiap perbuatan manusia.
Dedikasi dan kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Selama kuliah, Devi berhasil memperoleh dua program beasiswa yang membantu kelancaran studinya. Bahkan, saat prosesi wisuda, ia kembali menerima kabar membahagiakan berupa beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister (S2) yang diberikan langsung oleh Rektor Universitas Airlangga.
"Sejak kecil, saya memiliki keinginan yang besar untuk bisa berkuliah dan menjadi seorang dosen," ujar Devi.
Kisah Devi menjadi bukti bahwa ketekunan, disiplin, dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan mampu mengantarkan seseorang meraih prestasi tertinggi. Di tengah kehilangan orang-orang tercinta, ia berhasil membuktikan bahwa mimpi tetap bisa diwujudkan selama tidak menyerah pada keadaan.
(Sumber: Unair)
