Editor: Yogi Ardhi
Model SADAR Helmet yang dirangcang oleh tim iConic ITB dengan sensor PPG, akselerometer dan giroskop, tombol respons, serta LED peringatan. (Foto: Tim iConic ITB)
GEBRAK.ID; BANDUNG – Inovasi keselamatan berkendara kembali lahir dari kampus. Tiga mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim iConic berhasil merancang SADAR Helmet, sebuah helm pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi gejala microsleep atau kantuk sesaat pada pengendara sepeda motor.
Inovasi tersebut sukses mengantarkan Tim iConic meraih Juara II Nasional dalam ajang Smart Safety Competition (SASECOM) 2026 yang diselenggarakan oleh OSH Forum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip).
Perwakilan Tim iConic, Mahesya Friemay Romadhoni, mengatakan ide pengembangan SADAR Helmet berangkat dari tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara roda dua di Indonesia. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah microsleep atau kondisi tertidur sesaat saat berkendara.
“Kami memilih topik ini karena microsleep merupakan masalah nyata dan sangat relevan di Indonesia, terutama bagi pengguna sepeda motor yang mendominasi angka kecelakaan nasional,” ujar Mahesya dalam keterangannya di Bandung, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Mahesya, perkembangan teknologi IoT dan konsep smart mobility membuka peluang besar untuk menghadirkan sistem keselamatan yang lebih preventif, mudah diterapkan, dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Bisa Dipasang pada Helm SNI yang Sudah Ada
Salah satu keunggulan utama SADAR Helmet adalah desainnya yang bersifat retrofit sehingga perangkat dapat dipasang langsung pada helm berstandar SNI yang sudah beredar di pasaran tanpa perlu mengubah struktur asli helm.
Pendekatan tersebut membuat biaya implementasi menjadi lebih murah dibandingkan teknologi pendeteksi kantuk lain yang umumnya menggunakan kamera khusus atau perangkat Electroencephalography (EEG).
Secara teknis, sistem ini memadukan sensor Photoplethysmography (PPG) untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability (HRV), serta sensor akselerometer dan giroskop yang memantau pergerakan kepala pengendara secara real time.
Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan metode machine learning dan sensor fusion untuk mengidentifikasi tingkat kewaspadaan pengendara. Ketika sistem mendeteksi tanda-tanda pramicrosleep, helm akan memberikan peringatan berupa getaran, suara, hingga notifikasi digital agar pengendara segera beristirahat sebelum terjadi kecelakaan.
Dikembangkan di Tengah Kesibukan Kuliah
Anggota Tim iConic lainnya, Rizky Miftah Alfiah, mengungkapkan proses pengembangan prototipe tidak dilakukan secara instan. Tim harus melalui berbagai tahapan riset, diskusi, dan validasi keamanan yang mengacu pada sejumlah jurnal ilmiah.
Dalam proses desain, mereka memanfaatkan perangkat lunak SolidWorks dan AutoCAD untuk menghasilkan rancangan yang sesuai standar.
“Prosesnya memakan banyak waktu karena kami benar-benar melakukan brainstorming berhari-hari untuk mendapatkan ide SADAR Helmet. Kebetulan kami juga sedang mengambil mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, sementara K3 menjadi salah satu objek kajian di Teknik Industri,” ujar Rizky.
Sementara itu, anggota tim lainnya, Muhammad Yasser Saputro, berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh melalui integrasi aplikasi gawai, fitur pelacakan GPS, pemantauan berbasis cloud, hingga analisis menggunakan kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan akurasi sistem.
Saat ini, Tim iConic tengah membuka peluang kerja sama dengan industri helm nasional, sektor otomotif, maupun pemerintah agar teknologi keselamatan tersebut dapat diproduksi secara massal dan berkontribusi menekan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia.
“Kami belajar bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya berasal dari ide yang bagus, tetapi juga dari proses riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat,” kata Yasser.
(Sumber: ITB)