Menkeu Purbaya Telah Mendengar Keluhan Pedagang Tahu Tempe, Janji Dua Hal Ini di Tengah Pelemahan Rupiah


Pedagang tahu dan tempe  saat ini tengah terimpit oleh pelemahan nilai tukar rupiah. (Foto: istimewa).


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa telah mendengar keluhan dari para pedagang tahu dan tempe yang saat ini tengah terimpit oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Menteri Purbaya mengakui bahwa tekanan pada kurs dolar AS yang menembus level Rp18.000 telah menyebabkan harga bahan baku kedelai impor melonjak drastis, menggerus margin keuntungan para pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pangan tersebut. 

Menanggapi situasi tersebut, Purbaya menjanjikan dua langkah konkret kepada para pedagang. Pertama, pemerintah akan berupaya menjaga daya beli dan permintaan masyarakat tetap kuat agar roda usaha tidak berhenti. Kedua, ia berkomitmen menggencarkan koordinasi dengan Bank Indonesia untuk memperkuat nilai tukar rupiah. "Dengan rupiah yang menguat, biaya produksi bisa turun dan beban hidup tidak akan naik signifikan," janji Menkeu di Kompleks Parlemen, Sabtu (6/6/2026). 

Bukan Hanya Kedelai, Harga Susu & Gandum Juga Terancam

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada komoditas kedelai. Mengingat Indonesia masih sangat tergantung pada pasar impor untuk sejumlah bahan pangan pokok, kenaikan biaya produksi mengintai berbagai sektor.

Selain kedelai yang 90% masih diimpor, data menunjukkan Indonesia juga menggantungkan pasokan gandum (100% impor), bawang putih (95% impor), serta gula dan daging sapi yang masing-masing masih mengandalkan impor lebih dari 50% . Komoditas lain yang mulai merasakan tekanan adalah industri susu. 

Pengusaha mengeluhkan biaya bahan baku yang naik karena 80% kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Para pelaku industri saat ini memilih melakukan efisiensi ketimbang menaikkan harga jual secara ekstrem. 

Ancaman Mogok Produksi dan Inflasi Impor

Dampak pelemahan ini sudah terasa hingga ke tingkat pabrik. Di Bandung, Jawa Barat, sebanyak 140 perajin tahu yang tergabung dalam Sentra Industri Tahu Cibuntu mengancam akan mogok produksi. Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M. Zamaludin, mengungkapkan harga kedelai yang biasanya Rp8.000-Rp9.000 per kg kini menyentuh Rp11.000 per kg. "Keuntungan kami semakin berkurang, bahkan ada yang sudah merugi. Jika harga terus naik, aksi mogok massal seperti tahun 2023 bisa terulang," tegasnya. 

Para ekonom menilai fenomena ini sebagai awal dari imported inflation (inflasi impor), di mana pelemahan kurs langsung merambat ke harga pangan olahan seperti mi instan, roti, serta tahu tempe. Anggota DPR RI, Azis Subekti, juga mengingatkan bahwa medan pertempuran ekonomi sesungguhnya saat ini bukan hanya di pasar keuangan, tetapi di pasar rakyat, mengingat inflasi tahunan per Mei 2026 tercatat 3,08% dengan pangan sebagai penyumbang tertinggi. 

Langkah Sinkronisasi Fiskal Moneter

Sebagai respons atas gejolak ini, Menteri Purbaya menegaskan bahwa pihaknya bersama Gubernur BI Perry Warjiyo telah menyepakati sinkronisasi penuh kebijakan fiskal dan moneter. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan meningkatkan nilai tukar rupiah secara signifikan dalam waktu dekat, sehingga tekanan terhadap sektor riil dan hajat hidup orang banyak dapat segera mereda. 

( berbagai sumber)