Editor: Saeful Imam
Motor KTM Duke 390. (Foto: KTM)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Produsen sepeda motor asal Austria, KTM, kembali menjadi sorotan di industri otomotif global. Setelah sempat menghadapi tekanan finansial dan ancaman kebangkrutan pada akhir 2024, kini perusahaan tersebut diterpa isu baru terkait dugaan praktik penjualan motor off-road yang dinilai tidak sesuai regulasi di sejumlah negara Eropa.
Laporan tersebut pertama kali mencuat dari hasil investigasi gabungan sejumlah media ternama Eropa, termasuk Spiegel dan Manager Magazin. Investigasi yang berlangsung selama beberapa bulan itu dilakukan dengan menyamar sebagai calon pembeli untuk menelusuri proses penjualan beberapa model motor KTM yang beredar di pasar.
Dalam laporan tersebut, salah satu model yang menjadi perhatian adalah KTM 350 EXC-F. Motor yang dirancang untuk kebutuhan off-road dan kompetisi itu diduga didaftarkan sebagai kendaraan legal untuk jalan raya melalui proses yang dianggap kontroversial.
Berdasarkan hasil investigasi, motor tersebut disebut lebih dahulu dibatasi performanya hingga sekitar 15 tenaga kuda (hp) agar memenuhi standar registrasi kendaraan serta regulasi emisi yang berlaku. Setelah seluruh proses administrasi selesai, motor kemudian dikembalikan ke spesifikasi aslinya yang menghasilkan tenaga sekitar 51 hp melalui penyesuaian perangkat lunak dan pemasangan komponen tertentu.
Temuan tersebut memunculkan perdebatan di kalangan pengamat otomotif dan regulator. Pasalnya, kendaraan yang telah kembali ke spesifikasi penuh dinilai memiliki karakteristik yang berbeda dibanding kondisi saat pertama kali mendapatkan izin penggunaan di jalan raya.
Tak hanya menyangkut legalitas kendaraan, isu ini juga menyeret aspek lingkungan hidup. Data yang dikutip dari International Council on Clean Transportation (ICCT) menunjukkan bahwa motor dengan konfigurasi tenaga penuh menghasilkan tingkat kebisingan dan emisi yang lebih tinggi dibandingkan saat masih dalam kondisi yang telah disesuaikan untuk memenuhi regulasi.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan terhadap kendaraan yang telah memperoleh sertifikasi jalan raya namun kemudian mengalami perubahan spesifikasi.
Meski demikian, KTM membantah tuduhan yang berkembang. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menegaskan bahwa seluruh sepeda motor off-road yang dikirim ke jaringan dealer berada dalam kondisi legal dan telah memenuhi persyaratan yang berlaku untuk penggunaan di jalan raya.
Pabrikan yang dikenal melalui berbagai ajang balap motor dunia tersebut juga menegaskan bahwa setiap perubahan atau pelepasan pembatas performa dilakukan berdasarkan permintaan konsumen.
"Kendaraan yang telah mengalami modifikasi lebih lanjut tidak lagi memenuhi persyaratan penggunaan di jalan umum dan hal tersebut telah diinformasikan kepada pembeli," demikian penjelasan KTM sebagaimana dikutip dari laporan media Eropa, Senin (1/6/2026).
Hingga kini belum ada keputusan hukum ataupun sanksi resmi yang dijatuhkan kepada KTM terkait dugaan tersebut. Namun kasus ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian regulator otomotif di Eropa mengingat isu yang diangkat tidak hanya berkaitan dengan prosedur registrasi kendaraan, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan, kepatuhan regulasi, dan dampak lingkungan.
Bagi KTM, isu ini menjadi tantangan baru di tengah upaya perusahaan untuk memperkuat kembali posisinya di pasar global setelah melewati masa sulit dalam beberapa tahun terakhir. Publik kini menantikan hasil penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui apakah praktik yang dipersoalkan tersebut benar-benar melanggar aturan atau masih berada dalam koridor hukum yang berlaku.
(Sumber: KTM)