![]() |
| Pasangan menikah. (Foto:Ilustrasi Freepik) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA – Sebuah pengakuan pasangan suami istri asal India menjadi perbincangan di media sosial setelah mereka mengungkapkan telah menjalani pernikahan tanpa hubungan seksual selama lima tahun terakhir. Meski terdengar tidak biasa bagi sebagian orang, keduanya mengaku justru menemukan kebahagiaan dan kedekatan emosional yang lebih dalam.
Sanchari Sajith dan suaminya, Niranjan Sajith, membagikan kisah tersebut melalui akun Instagram mereka. Pasangan yang dikenal sebagai praktisi wellness dan spiritualitas itu menyebut pilihan hidup mereka sebagai conscious celibacy atau selibat secara sadar.
"Kami sudah bersama selama lima tahun. Dan selama lima tahun itu, kami secara sadar menjalani selibat," ujar keduanya dalam unggahan yang kemudian viral.
Berawal dari Proses Penyembuhan Diri
Sanchari dan Niranjan menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak melakukan hubungan seksual bukanlah kesepakatan yang dibuat sejak awal pernikahan. Awalnya, mereka menjalani praktik tersebut sebagai bagian dari perjalanan spiritual dan proses penyembuhan diri.
Seiring waktu, mereka merasakan manfaat yang menurut mereka melampaui aspek fisik dalam hubungan. Keduanya mengaku menjadi lebih sadar terhadap emosi, kebutuhan pribadi, serta kualitas komunikasi satu sama lain.
Menurut mereka, keintiman dalam hubungan tidak selalu harus diwujudkan melalui aktivitas seksual. Bentuk kedekatan lain seperti komunikasi yang jujur, dukungan emosional, perhatian, dan kebersamaan sehari-hari dianggap memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Apa Itu Conscious Celibacy?
Conscious celibacy merupakan pilihan untuk tidak melakukan aktivitas seksual secara sukarela dan sadar, biasanya didasari alasan pribadi, spiritual, kesehatan mental, atau tujuan pengembangan diri.
Praktik ini berbeda dengan kondisi tidak aktif secara seksual karena keterpaksaan atau masalah hubungan. Dalam conscious celibacy, keputusan tersebut diambil atas kesepakatan bersama dan dijalani tanpa tekanan.
Dalam sejumlah tradisi spiritual, pengendalian hasrat seksual diyakini dapat membantu seseorang meningkatkan fokus, refleksi diri, serta keseimbangan emosional. Namun praktik ini bukanlah pendekatan yang harus diterapkan oleh semua orang.
Pandangan Ahli Soal Pernikahan Tanpa Seks
Para pakar hubungan menilai tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua pasangan. Hubungan seksual memang sering dianggap sebagai salah satu komponen penting dalam pernikahan karena dapat memperkuat ikatan emosional dan fisik.
Namun, psikolog dan terapis pasangan menekankan bahwa kualitas hubungan lebih ditentukan oleh komunikasi, rasa saling menghormati, kepercayaan, serta kesepakatan yang dibangun bersama.
Sebuah hubungan dapat tetap sehat meski frekuensi hubungan seksual rendah atau bahkan tidak ada sama sekali, selama kedua pihak merasa nyaman dan kebutuhan emosional masing-masing terpenuhi.
Sebaliknya, masalah dapat muncul apabila salah satu pasangan merasa tertekan, tidak didengar, atau memiliki harapan yang berbeda terkait kehidupan seksual dalam rumah tangga.
Tidak Cocok untuk Semua Pasangan
Meski kisah Sanchari dan Niranjan menuai banyak perhatian, para ahli mengingatkan bahwa pilihan untuk hidup tanpa seks bukanlah ukuran keberhasilan sebuah pernikahan.
Setiap pasangan memiliki kebutuhan, nilai, dan dinamika hubungan yang berbeda. Karena itu, yang terpenting bukanlah seberapa sering melakukan hubungan seksual, melainkan apakah kedua pihak merasa bahagia, dihargai, dan terhubung secara emosional.
Bagi Sanchari dan Niranjan, keputusan menjalani conscious celibacy selama lima tahun menjadi bagian dari perjalanan hidup yang mereka yakini membawa ketenangan dan kebahagiaan. Namun bagi pasangan lain, keintiman seksual bisa tetap menjadi elemen penting dalam menjaga kedekatan dan keharmonisan rumah tangga.
(berbagai sumber)
