Editor: A. Rayyan K
Pelepasan 18 dai ke Pulau Buru, Maluku dalam Program Ustad Garis Depan (UGD) VIII di Pondok Pesantren Modern Al Fath, Sukabumi, Rabu (17/6/2026). (Foto: Baznas RI)
GEBRAK.ID, JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI kembali memperkuat program dakwah dan pembinaan umat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kali ini, sebanyak 18 dai diberangkatkan ke Pulau Buru, Maluku, melalui Program Ustad Garis Depan (UGD) VIII untuk mendampingi masyarakat mualaf sekaligus memperkuat pembinaan keagamaan secara berkelanjutan.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Baznas RI dengan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al Fath Sukabumi, Jawa Barat, yang selama ini aktif mencetak kader-kader dai untuk bertugas di berbagai daerah pelosok Indonesia.
Wakil Ketua Baznas RI, Zainut Tauhid Sa'adi, mengatakan pengiriman para dai merupakan bagian dari komitmen Baznas dalam memastikan dana zakat memberikan manfaat yang luas, tidak hanya melalui bantuan ekonomi, tetapi juga penguatan akidah dan pendidikan keagamaan bagi masyarakat yang membutuhkan.
"Baznas berperan sebagai jembatan yang menghubungkan para muzaki dengan mustahik. Salah satu kelompok yang menjadi perhatian kami adalah mualaf dan fisabilillah. Karena itu, program kemitraan dakwah ini menjadi bagian penting dalam menghadirkan manfaat zakat bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan keagamaan," ujar Zainut dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, sinergi antara Baznas RI dan Ponpes Modern Dzikir Al Fath menjadi contoh kolaborasi strategis dalam memperluas jangkauan dakwah di Indonesia. Pesantren berperan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, sementara Baznas memberikan dukungan melalui pembiayaan program dan pemberdayaan masyarakat.
Zainut menegaskan, para dai yang ditugaskan tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga harus mampu menjadi pendamping dan sahabat masyarakat. Karena itu, pendekatan dakwah bil hikmah atau dakwah yang mengedepankan kebijaksanaan, dialog yang santun, dan keteladanan menjadi prinsip utama selama menjalankan tugas.
"Dakwah tidak dilakukan dengan cara menghakimi atau menyalahkan. Tugas dai adalah merangkul, membimbing, dan mendampingi masyarakat dengan penuh kearifan agar mereka semakin memahami dan mencintai ajaran Islam," kata Zainut.
Zainut juga mengingatkan bahwa kondisi sosial masyarakat di setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh sebab itu, para dai dituntut mampu memahami budaya lokal serta membangun komunikasi yang humanis, khususnya ketika mendampingi para mualaf yang masih berada pada tahap awal mempelajari ajaran Islam.
"Jika menghadapi masyarakat yang belum banyak mengenal ajaran Islam, maka pendekatan yang harus dikedepankan adalah pendekatan yang humanis dan membangun kedekatan. Dai hadir untuk membimbing, bukan menghakimi," tegas Zainut.
Program Ustad Garis Depan selama ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan dana zakat di bidang dakwah dan pendidikan yang dijalankan Baznas. Selain memberikan pembinaan keagamaan, para dai juga diharapkan dapat berkontribusi dalam kegiatan pendidikan Al-Qur'an, pemberdayaan masyarakat, penguatan nilai-nilai kebersamaan, hingga membangun kemandirian umat di wilayah penugasan.
Melalui penempatan 18 dai di Pulau Buru, Baznas berharap pembinaan terhadap para mualaf dapat berlangsung secara lebih intensif dan berkesinambungan. Kehadiran para dai juga diharapkan mampu mempererat ukhuwah Islamiah, meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat, serta menjadi model kolaborasi dakwah yang dapat diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia.
Program ini sekaligus menegaskan komitmen Baznas dalam mengoptimalkan pemanfaatan dana zakat untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan dan pembinaan keagamaan.
(Sumber: Baznas RI)