Purbaya Tunda Terbitkan Panda Bond, RI Raup Minat Besar dari Investor China

 

Gedung kemenkeu. ( Foto: Wikipedia) 


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA---Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan untuk mengundurkan jadwal penerbitan surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bonds dari rencana awal awal Juli 2026 menjadi akhir Juli 2026. Penundaan ini diambil setelah pemerintah menerima sinyal tingginya minat dari para investor di China. 

Dalam konferensi pers di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (26/6), Purbaya mengungkapkan bahwa sejumlah manajer investasi (fund manager) dan bank-bank besar di China mengaku terlambat mengetahui rencana penerbitan ini. Mereka meminta agar pemerintah memberi tambahan waktu untuk mengajukan proposal ke komite investasi internal masing-masing. 

"Panda bond itu tadinya mau dikeluarkan awal Juli, tapi rupanya ada beberapa fund manager besar atau bank-bank besar sana yang terlambat tahu. Jadi, mereka minta kita untuk undur sedikit supaya mereka punya waktu untuk mengajukan proposal mereka ke investment committee mereka," ujar Purbaya. 

Pemerintah menyambut positif permintaan tersebut. Alih-alih menganggapnya sebagai hambatan, Menkeu menilai antusiasme yang tinggi ini sebagai peluang untuk menyerap dana yang lebih besar. "Saya pikir sudah bagus lah. Berarti minatnya besar tuh, jadi saya tunda sampai akhir Juli. Akhir Juli baru akan kita keluarkan supaya yang beli makin banyak," tambahnya. 

Target Naik di Atas 1 Miliar Dolar AS

Lonjakan minat ini bahkan mendorong pemerintah untuk menaikkan target penerbitan. Purbaya menyampaikan bahwa target awal sekitar 1 miliar dolar AS akan dinaikkan melebihi angka tersebut, tergantung pada kondisi pasar dan besarnya permintaan yang masuk. 

"Kita lihat market-nya seperti apa. Kalau demand-nya besar, ya kita perbesar sekalian," tegas Purbaya dalam taklimat media yang sama. 

Kebutuhan penerbitan obligasi global pemerintah tahun ini masih tersisa sekitar 3 miliar dolar AS. Jika pasar China menunjukkan respons yang kuat, pemerintah akan memaksimalkan penerbitan Panda Bond untuk menutupi sebagian besar kebutuhan tersebut. 

Perluasan Skema LCT dan Dukungan Penuh dari China

Selain menaikkan target, Purbaya juga menyiapkan skema transaksi yang lebih strategis. Pemerintah akan mengaktifkan mekanisme Local Currency Transaction (LCT) dalam penerbitan ini. Dengan skema ini, investor China membayar dalam mata uang Renminbi, dan melalui kerja sama antara Bank Indonesia dengan People's Bank of China (PBOC), pemerintah akan menerima dana langsung dalam bentuk Rupiah. 

"Jadi ketergantungan kita ke dolar akan semakin sedikit dan akan mengurangi tekanan ke rupiah," jelas Purbaya. 

Menkeu juga mengungkapkan bahwa pemerintah China dan PBOC telah memberikan dukungan penuh serta berkomitmen untuk mempercepat proses perizinan penerbitan. Bahkan, sejumlah bank besar di China telah menyatakan minatnya untuk menjadi penjamin emisi (underwriter) guna memperluas pemasaran surat utang Indonesia di pasar Negeri Tirai Bambu. 

"Next time saya izinkan mereka jadi underwriter sehingga yang jualan bond kita semakin banyak di sana," ujar Purbaya menambahkan. 

( berbagai sumber)