Editor: Devona R
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, saat kunjungan di Aceh. (Foto: Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, PIDIE – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa waktu lalu tidak hanya merusak infrastruktur dan permukiman warga. Ratusan sekolah ikut terdampak, memaksa ribuan siswa menjalani proses belajar mengajar di ruang kelas yang jauh dari kata layak.
Kini, melalui program revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi yang digulirkan pemerintah, harapan baru mulai tumbuh dari ruang-ruang kelas yang kembali berdiri kokoh.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Pemerintah Aceh dan TNI terus mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan agar siswa dapat kembali belajar dengan aman, nyaman, dan berkualitas.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan percepatan pembangunan menjadi prioritas agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan normal pada tahun ajaran baru 2026/2027.
"Kami menargetkan pada tahun ajaran baru 2026/2027 sebagian besar sekolah sudah selesai dibangun. Untuk sekolah yang lokasinya masih dapat digunakan, sebagian besar sudah dibangun dan bahkan ada yang telah selesai dikerjakan," ujar Abdul Mu'ti dalam keterangan persnya, Selasa (23/6/2026).
Menurut data Kemendikdasmen, sebanyak 3.120 sekolah di Aceh terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 2.920 sekolah telah masuk dalam proses penanganan, sementara 188 sekolah mengalami kerusakan berat dan 63 sekolah harus direlokasi karena kondisi bangunan maupun lokasi yang tidak lagi aman.
Selama proses pembangunan berlangsung, pemerintah juga menyiapkan ruang kelas darurat agar aktivitas belajar siswa tidak terhenti.
"Proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi harus diselesaikan secepatnya sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar sebagaimana mestinya di sekolah," tambah Abdul Mu'ti.
Dari Ruang Kelas Rusak Menuju Lingkungan Belajar yang Nyaman
Perubahan besar kini dirasakan para siswa yang sebelumnya harus belajar di ruang kelas dengan kondisi memprihatinkan.
Tazkiya Zahurah, siswi SD Negeri 3 Teupin Raya, masih mengingat suasana sekolahnya sebelum direnovasi. "Dulu plafonnya rusak, banyak kotoran kelelawar yang berbau, jendela pecah, lantai retak, dan toiletnya terbatas. Kami kurang nyaman belajar," kenangnya.
Pengalaman serupa juga dialami Khayla Syakira, siswi SMP Negeri 1 Mila. Menurutnya, setiap hujan turun proses belajar sering terganggu akibat atap bocor dan bangunan yang mulai rusak. "Sebelumnya atap bocor, jendela pecah, dinding dan lantai retak, serta kamar mandi kurang memadai," ujarnya.
Kini kondisi tersebut berubah. Setelah proses rehabilitasi selesai, ruang kelas menjadi lebih aman dan nyaman. Bahkan sekolahnya kini memiliki musala baru yang dimanfaatkan siswa untuk melaksanakan salat Zuhur berjamaah setiap hari.
"Setelah direnovasi, ruang belajar kami jauh lebih baik. Kami juga sudah memiliki musala dan dapat melaksanakan salat Zuhur berjamaah setiap hari," kata Khayla.
Pemerintah Pastikan Pembelajaran Tetap Berjalan
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan penggunaan ruang kelas darurat merupakan solusi sementara agar hak belajar peserta didik tetap terpenuhi.
Menurutnya, langkah tersebut bukan berarti sekolah yang rusak diabaikan, melainkan menjadi bagian dari strategi percepatan penanganan.
"Supaya proses pembelajaran tetap terjadi, kami melakukan langkah-langkah darurat bagi sekolah yang bangunannya tidak dapat digunakan. Jadi, bukan berarti tidak ada intervensi pemerintah," jelasnya.
Revitalisasi Tingkatkan Kualitas Pendidikan Vokasi
Program revitalisasi juga membawa dampak positif bagi pendidikan kejuruan. Salah satunya dirasakan SMKN 3 Sigli, Kabupaten Pidie.
Sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi senilai Rp2,6 miliar pada 2025 dan kembali menerima Rp1,6 miliar pada 2026. Dana tersebut digunakan untuk membangun berbagai fasilitas, termasuk Ruang Praktik Siswa (RPS) yang mendukung pembelajaran vokasi.
Kepala SMKN 3 Sigli, Iskandar, mengatakan fasilitas baru membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih efektif.
"Kami sangat bersyukur atas program revitalisasi ini. Sarana dan prasarana yang dibangun sangat mendukung proses pembelajaran sehingga murid lebih nyaman belajar."
Ruang praktik tersebut menjadi fasilitas penting bagi Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI), salah satu program keahlian yang hanya tersedia di tiga sekolah di Aceh, yakni SMKN 3 Sigli, SMKN 1 Jeunieb, dan SMKN 4 Langsa.
Ketua Jurusan TKPI, Safrina, menjelaskan keberadaan ruang praktik beserta peralatan industri membuat siswa lebih siap menghadapi dunia kerja.
"Keberadaan fasilitas praktik sangat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan di bidang permesinan kapal, sehingga mereka memiliki bekal yang lebih baik untuk memasuki dunia kerja."
Safrina menambahkan bantuan trainer praktik yang diterima sekolah pada 2025 mempercepat proses pembelajaran karena siswa dapat mempelajari langsung teknologi yang digunakan di industri maritim.
Fasilitas Baru Bangkitkan Semangat Belajar
Perubahan fisik sekolah juga membawa dampak psikologis bagi para siswa.
Fairuz, siswa kelas XI Jurusan TKPI, mengaku kini lebih nyaman mengikuti pelajaran karena lingkungan belajar menjadi lebih bersih dan luas.
"Dengan adanya gedung baru, kami jadi lebih enak belajar karena tidak banyak debu lagi dan ruangannya lebih luas."
Hal senada disampaikan Cut Indah Sari. Menurutnya, fasilitas yang semakin baik membuat para siswa lebih optimistis menatap masa depan.
"Pembangunan gedung ini membuat kami memiliki harapan dan peluang yang lebih besar untuk masa depan. Dengan fasilitas yang lebih baik, kami semakin semangat belajar dan meningkatkan keterampilan."
Program revitalisasi sekolah di Aceh bukan sekadar membangun kembali gedung yang rusak akibat bencana. Lebih dari itu, upaya ini menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memulihkan semangat belajar generasi muda. Dari ruang kelas yang kembali berdiri tegak, harapan baru bagi masa depan anak-anak Aceh pun mulai tumbuh.
(Sumber: Kemendikdasmen)