![]() |
| Anak-anak sekolah dari Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. (Foto: Humas Kemendikdasmen) |
GEBRAK.ID; TELUK BINTUNI – Penantian panjang yang berlangsung hingga puluhan tahun akhirnya berbuah manis bagi sejumlah sekolah di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Ruang kelas baru, laboratorium, perpustakaan, area bermain hingga fasilitas sanitasi yang layak kini hadir dan membawa harapan baru bagi ribuan siswa serta tenaga pendidik di wilayah tersebut.
Program revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan pemerintah sepanjang 2025 telah rampung 100 persen pada akhir Mei 2026. Sebanyak 10 satuan pendidikan berhasil direvitalisasi dengan total anggaran mencapai Rp17,5 miliar. Sementara pada 2026, cakupan program terus diperluas dengan 25 satuan pendidikan yang telah masuk dalam perjanjian kerja sama revitalisasi senilai lebih dari Rp20,7 miliar.
Peningkatan tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan pemerataan infrastruktur pendidikan di kawasan timur Indonesia yang didorong pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Namun di balik angka-angka itu, tersimpan kisah perjuangan dan penantian panjang dari sekolah-sekolah yang selama bertahun-tahun berharap mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak.
Menunggu Tiga Dekade untuk Toilet dan UKS yang Layak
Salah satu kisah datang dari SD Negeri 1 Bintuni Timur. Sekolah yang memiliki 149 siswa dan 15 guru itu telah menunggu sekitar 30 tahun untuk mendapatkan pembangunan fasilitas baru.
Kepala Sekolah Nirmawati mengaku sekolahnya berkali-kali mengajukan permohonan bantuan, namun selama bertahun-tahun belum membuahkan hasil.
Kini, harapan tersebut akhirnya terwujud. Dua bangunan baru berupa ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan toilet yang layak telah berdiri di lingkungan sekolah.
"Setelah hadir bangunan baru di sekolah kami, siswa dan guru-guru merasa sangat senang dan nyaman di sekolah, karena sudah ada tempat untuk berobat ketika kurang sehat dan fasilitas sanitasi yang memadai," ujar Nirmawati pada akhir Mei 2026.
Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut membuat proses belajar mengajar menjadi lebih nyaman. Siswa tidak lagi harus keluar lingkungan sekolah ketika membutuhkan pertolongan pertama atau fasilitas kesehatan sederhana.
Meski demikian, ia masih menyimpan harapan agar revitalisasi berikutnya dapat menghadirkan laboratorium komputer beserta perangkat pendukungnya untuk menunjang pembelajaran digital.
Sekolah di Pulau Terpencil Dapat Tujuh Bangunan Baru
Kisah serupa juga dirasakan SMA Negeri Babo yang berada di wilayah kepulauan dan hanya dapat dijangkau menggunakan kapal maupun perahu.
Selama sekitar 10 tahun, pihak sekolah terus mengajukan proposal bantuan revitalisasi. Berulang kali menunggu tanpa kepastian, hingga akhirnya pemerintah menyetujui pembangunan tujuh fasilitas sekaligus.
Kepala Sekolah Slamet Riyadi mengatakan bantuan tersebut melampaui harapan yang selama ini mereka bayangkan.
Kini SMA Negeri Babo memiliki dua ruang kelas baru, laboratorium komputer, ruang UKS, ruang OSIS, dua unit toilet, serta kantor guru yang telah direhabilitasi.
Kehadiran fasilitas tersebut langsung berdampak pada aktivitas belajar mengajar. Sekolah mampu membuka dua rombongan belajar baru, menyediakan ruang praktik komputer, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman.
"Guru dan siswa sangat senang dengan adanya penambahan ruang dan rehabilitasi kantor guru. Ini menambah semangat baru dan motivasi bagi siswa serta membantu guru mengoptimalkan proses pembelajaran," kata Slamet.
Anak-Anak TK Kini Punya Area Bermain yang Layak
Kebahagiaan juga dirasakan keluarga besar TK Negeri Pertiwi Barma Baru. Sejak mulai beroperasi pada 2010, sekolah tersebut belum pernah menerima fasilitas permanen.
Baru pada 2026, sekolah yang melayani 32 anak didik itu memperoleh empat fasilitas baru sekaligus, yakni ruang administrasi, ruang UKS, toilet, dan area bermain.
Kepala Sekolah Supriyanti menyebut perubahan itu membawa dampak langsung terhadap kenyamanan dan semangat belajar anak-anak.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo dan Kemendikdasmen atas program revitalisasi ini. Lingkungan sekolah menjadi lebih nyaman, aman, bersih, dan anak-anak lebih senang datang ke sekolah," ujarnya.
Menurut Supriyanti, anak-anak yang sebelumnya kurang antusias kini lebih ceria dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar karena memiliki lingkungan yang lebih ramah dan menyenangkan.
Pertama Kali Punya Laboratorium dan Perpustakaan
Di Distrik Moskona Barat, SMP Satu Atap Meyerga juga merasakan perubahan besar setelah 16 tahun berdiri tanpa fasilitas permanen yang memadai.
Melalui program revitalisasi, sekolah tersebut kini memiliki laboratorium IPA, perpustakaan, ruang UKS, dan toilet siswa.
Pelaksana Tugas Kepala Sekolah Sepianus Rumbino mengatakan fasilitas baru tersebut langsung dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih interaktif.
Siswa kini dapat melakukan praktik sains di laboratorium, memanfaatkan perpustakaan untuk membaca dan riset, hingga mengikuti pelatihan kesehatan bekerja sama dengan Puskesmas setempat.
"Dengan adanya program revitalisasi ini kami sangat bersyukur karena ini pertama kalinya sekolah kami mendapatkan fasilitas permanen yang memadai," kata Sepianus.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, sebelumnya menegaskan bahwa revitalisasi sekolah bukan sekadar membangun gedung baru. Tujuan utamanya adalah menghadirkan layanan pendidikan yang lebih bermutu dan merata bagi seluruh anak Indonesia, termasuk di daerah terdepan dan terpencil.
Di Teluk Bintuni, makna revitalisasi kini terlihat nyata. Bukan hanya pada bangunan yang berdiri kokoh, tetapi pada senyum siswa yang belajar lebih nyaman, guru yang dapat mengajar dengan lebih optimal, serta sekolah yang perlahan menjadi rumah kedua yang aman dan menyenangkan bagi generasi penerus bangsa.
(Sumber: Kemendikdasmen)
