Tatapan tak Puas Veda Ega Pratama Usai Finis Kelima di Moto3 Ceko, Pertanda Pembalap Indonesia Ini Selalu Bidik Podium

Pembalap muda Indonesia di Moto3, Veda Ega Pratama, berdiskusi dengan para kru Honda Team Asia. (Foto: Honda Team Asia)
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID, JAKARTA – Bagi sebagian besar pembalap rookie, finis di posisi lima besar setelah memulai balapan dari urutan ke-20 tentu layak dirayakan. Namun, tidak demikian dengan Veda Ega Pratama.

Pembalap muda Indonesia itu justru menunjukkan ekspresi datar usai menyelesaikan Moto3 Grand Prix Ceko di Sirkuit Automotodrom Brno, Minggu (21/6/2026). Tidak ada selebrasi berlebihan. Tak ada luapan kegembiraan. Yang terlihat hanyalah wajah penuh evaluasi dari seorang pembalap yang merasa masih bisa meraih hasil lebih baik.

Sesaat setelah mengembalikan motor Honda Team Asia bernomor 9 bercorak pink ke paddock, Veda turun dari motornya dan langsung berjalan menuju garasi tim. Sementara para kru menyambutnya dengan penuh antusias karena berhasil membawa pulang hasil terbaik Honda pada balapan tersebut, pembalap berusia 17 tahun itu justru memilih fokus melakukan evaluasi.

Masih mengenakan wearpack balap, Veda segera melepas helm dan duduk bersama para insinyur serta mekanik Honda Team Asia. Ia menguraikan secara rinci setiap bagian balapan, mulai dari karakter motor, strategi menyalip, hingga perilaku ban sepanjang lomba.

Di tengah diskusi itu, seorang anggota tim media sosial Honda Team Asia sempat mengajaknya melakukan selebrasi sederhana.

"Give me five," ucapnya sambil mengangkat tangan, merujuk pada posisi finis kelima yang diraih Veda.

Ajakan tersebut dibalas sekadarnya. Setelah melakukan high five singkat, Veda kembali tenggelam dalam pembahasan teknis bersama tim.

Momen itu menggambarkan satu hal yang jelas. Finis kelima belum cukup memuaskan bagi pembalap asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersebut.

Bangkit dari Penalti, Tembus Lima Besar

Hasil finis kelima sebenarnya merupakan pencapaian luar biasa.

Veda semula berhak memulai balapan dari posisi kedelapan setelah tampil kompetitif pada sesi kualifikasi. Namun, penalti turun 12 posisi akibat dianggap memperlambat laju motor di lintasan membuatnya harus start dari posisi ke-20.

Situasi itu membuat peluang meraih podium terlihat semakin sulit.

Akan tetapi, begitu lampu start padam, Veda langsung memperlihatkan kelasnya.

Hanya dalam satu putaran, ia melesat sembilan posisi hingga berada di urutan ke-11. Dua lap berikutnya, ia sudah masuk tujuh besar. Memasuki lap kelima, Veda bergabung dengan rombongan pembalap yang bertarung memperebutkan podium.

Yang menarik, hampir seluruh rival di kelompok terdepan menggunakan motor KTM.

Dominasi KTM musim ini memang begitu nyata. Dari 10 besar klasemen sementara Moto3 2026, delapan di antaranya mengendarai motor pabrikan Austria tersebut. Sementara Honda hanya diwakili Veda yang berada di posisi keenam klasemen dan Guido Pini di peringkat ke-10.

Artinya, Veda menjadi satu-satunya pembalap Honda yang secara konsisten mampu mengganggu dominasi KTM sepanjang musim.

Pecahkan Rekor Lap Brno

Salah satu bukti kualitas Veda terlihat pada lap-lap akhir balapan.

Ketika berada di tengah rombongan pembalap yang saling berebut posisi, ia mencatatkan waktu tercepat 2 menit 04,524 detik.

Catatan tersebut bukan hanya menjadi fastest lap balapan, tetapi juga memecahkan rekor lap Moto3 sepanjang sejarah di Sirkuit Brno.

Yang membuat pencapaian itu semakin istimewa, rekor tersebut dicetak bukan saat melaju sendirian di lintasan yang bersih, melainkan ketika Veda harus bertarung di tengah kepadatan motor dan mencari celah untuk menyalip lawan.

Kecepatan itu menjadi bukti bahwa kemampuan Veda tidak kalah dari para kandidat juara dunia musim ini.

Late Braking Jadi Senjata Mematikan

Aksi paling dramatis terjadi menjelang garis finis.

Memasuki dua tikungan terakhir, Veda memperlihatkan teknik late braking yang sudah menjadi ciri khasnya sejak tampil di Red Bull Rookies Cup.

Saat para rival mulai mengurangi kecepatan untuk memasuki tikungan, Veda justru menunda pengereman selama mungkin.

Motor Honda miliknya meluncur sangat cepat, menyelinap di antara pembalap-pembalap KTM yang berada di depannya.

Manuver agresif tersebut membuat Alvaro Carpe yang berada di posisi kelima harus sedikit mengubah racing line agar tidak terjadi kontak.

Veda berhasil menyalip.

Namun, Carpe mampu melakukan akselerasi lebih cepat saat keluar tikungan terakhir. Selisih keduanya di garis finis hanya 0,006 detik, salah satu duel paling ketat sepanjang musim Moto3 2026.

Meski gagal merebut posisi keempat, aksi tersebut kembali menunjukkan keberanian sekaligus kemampuan membaca situasi balapan yang jauh melampaui usianya.

Masih Ingin Motor Honda Lebih Kompetitif

Usai balapan, Veda tidak mencari alasan atas kegagalannya naik podium.

Sebaliknya, ia memberikan evaluasi yang sangat teknis mengenai performa motor Honda SF250RW.

Menurutnya, masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan agar Honda mampu benar-benar bersaing melawan dominasi KTM. Meski demikian, ia juga menilai motor Honda memiliki keunggulan tersendiri yang masih bisa dimaksimalkan dalam kondisi balapan tertentu.

Selain itu, Veda mengakui dirinya juga masih harus belajar, terutama dalam mengatur manajemen ban, ritme balapan, dan strategi menyerang pada lap-lap terakhir.

Sikap tersebut menunjukkan kedewasaan seorang pembalap profesional yang tidak hanya mengandalkan keberanian di lintasan, tetapi juga mampu mengevaluasi diri secara objektif.

Harapan Besar Motorsport Indonesia

Hingga seri kesembilan Moto3 musim 2026, Veda mengoleksi 82 poin dan menempati peringkat keenam klasemen sementara.

Ia juga menjadi pembalap Honda dengan raihan poin terbanyak musim ini.

Dalam sembilan balapan pertamanya di kelas Moto3, Veda telah memperlihatkan kombinasi kecepatan, mental bertanding, kemampuan late braking, serta kontrol motor yang mengundang pujian banyak pengamat.

Yang paling menarik justru bukan hasil finis kelimanya di Brno, melainkan ekspresi tidak puas yang ditunjukkannya setelah balapan berakhir.

Bagi Veda, finis lima besar bukanlah garis akhir. Ambisinya lebih besar dari sekadar membawa pulang poin.

Ia ingin berdiri di podium. Bahkan, menjadi pemenang.

Mentalitas itulah yang membuat publik Indonesia memiliki alasan kuat untuk terus memberikan dukungan kepada salah satu talenta terbaik yang dimiliki dunia balap nasional saat ini.

(Berbagai Sumber)

JANGAN TERLEWATKAN Start dari Posisi 20, Veda Ega Cetak Aksi Sensasional di Moto3 Ceko 2026, Finis Lima Besar