GEBRAK.ID; JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyatakan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan tidak dapat diukur hanya dari banyaknya rekomendasi atau dokumen yang dihasilkan. Menurutnya, ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi murid, guru, dan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Wamen Atip saat memberikan sambutan penutup dalam SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Forum pendidikan tingkat regional Asia Tenggara tersebut mengangkat tema “Research and Practice: Ways Toward an Inclusive, Equitable, and Sustainable Future” dan mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, akademisi, serta pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai negara anggota Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO).
Dalam pidatonya, Wamen Atip mengingatkan bahwa berbagai hasil diskusi, penelitian, dan rekomendasi yang lahir dari forum internasional tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif semata.
"Tolok ukur keberhasilan SEAMEO CPRN Summit 2026 tidak akan ditemukan hanya pada presentasi yang disampaikan atau rekomendasi yang dihasilkan. Keberhasilan ini akan tercermin dalam kebijakan yang lebih responsif, program yang lebih efektif, kemitraan yang lebih kuat, dan pada akhirnya, dampak positif yang dialami oleh para murid, guru, dan masyarakat di seluruh wilayah kita," ujar Wamen Atip.
Kebijakan Pendidikan Harus Berbasis Bukti
Dalam kesempatan tersebut, Wamendikdasmen menekankan pentingnya menyatukan tiga elemen utama dalam pembangunan pendidikan, yakni riset, kebijakan, dan praktik di lapangan.
Menurut Wamen Atip, kebijakan pendidikan yang baik tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi atau pendekatan yang bersifat spekulatif. Sebaliknya, setiap keputusan harus bertumpu pada data, penelitian, dan bukti ilmiah yang kuat agar mampu menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Wamen Atip menilai pendekatan evidence-based policy atau kebijakan berbasis bukti menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
"Kebijakan yang lebih baik membutuhkan bukti yang kuat, implementasi yang lebih baik membutuhkan kolaborasi yang bermakna, dan kemajuan yang berkelanjutan membutuhkan pembelajaran serta adaptasi yang tiada henti," kata Wamen Atip.
Singgung Pesan Albert Einstein tentang Perubahan
Untuk menggambarkan pentingnya perubahan dalam dunia pendidikan, Wamen Atip mengutip pandangan ilmuwan terkenal Albert Einstein mengenai definisi kegilaan, yakni melakukan hal yang sama berulang kali tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.
Menurutnya, dunia pendidikan tidak bisa terus bertahan dengan cara-cara lama apabila ingin menghasilkan kualitas pembelajaran yang lebih baik.
"Perubahan adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa dihindari, dan sangat penting untuk masa depan yang lebih baik," ujar Wamen Atip.
Wamendikdasmen menambahkan bahwa tantangan pendidikan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu. Karena itu, sistem pendidikan harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Asia Tenggara Hadapi Tantangan Pendidikan yang Kian Kompleks
Dalam forum tersebut, Kemendikdasmen juga menyoroti berbagai tantangan yang sedang dihadapi negara-negara Asia Tenggara.
Tantangan tersebut mencakup perkembangan teknologi yang sangat cepat, perubahan kebutuhan pasar kerja, isu lingkungan hidup, hingga kesenjangan akses pendidikan yang masih dirasakan sebagian kelompok masyarakat.
Perubahan teknologi, misalnya, telah mengubah cara belajar, cara bekerja, dan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan. Di sisi lain, masih terdapat anak-anak yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas.
Menurut Wamen Atip, situasi tersebut menuntut adanya kolaborasi yang lebih luas dan lebih kuat antarpemangku kepentingan.
Gotong Royong Jadi Kunci Pendidikan Inklusif
Wamen Atip menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan pemerintah semata. Keberhasilan pembangunan pendidikan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, Indonesia menawarkan nilai gotong royong sebagai fondasi utama dalam membangun kolaborasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut mencakup keterlibatan pendidik, keluarga, masyarakat, perguruan tinggi, mitra pembangunan, hingga sektor swasta.
Menurutnya, kerja sama multipihak menjadi faktor penting untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas.
"Kita harus bekerja bersama untuk memastikan setiap anak, tanpa memandang latar belakang atau kondisinya, memiliki akses ke pendidikan berkualitas dan kesempatan untuk memenuhi potensi mereka," tegas Wamen Atip.
Wamen Atip secara khusus menyoroti pentingnya memberikan perhatian kepada kelompok peserta didik rentan (vulnerable learners) yang kerap menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan.
Awal Kolaborasi Baru Pendidikan Asia Tenggara
SEAMEO CPRN Summit 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 Juni 2026.
Dalam penutupan acara, Wamen Atip menyampaikan apresiasi kepada SEAMEO Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP) selaku tuan rumah penyelenggara, SEAMEO Secretariat, seluruh pusat SEAMEO, serta para peneliti yang telah berkontribusi dalam memperkaya diskusi selama forum berlangsung.
Menurut Wamen Atip, pertemuan tersebut tidak boleh dipandang sebagai akhir dari sebuah agenda diskusi, melainkan sebagai titik awal untuk memperkuat kerja sama regional dalam membangun masa depan pendidikan Asia Tenggara yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Kemendikdasmen berharap berbagai hasil pemikiran dan rekomendasi yang lahir dari forum tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik di seluruh kawasan.
Dengan demikian, transformasi pendidikan tidak berhenti pada tataran konsep, melainkan hadir dalam bentuk perubahan nyata yang meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperluas akses pendidikan bagi semua anak.
(Sumber: Kemendikdasmen)
