AI Ubah Cara Kerja, Menaker Minta Mahasiswa Siapkan Skill Sejak Kuliah agar tak Tersingkir Dunia Kerja

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli (tengah) sesuai memberikan kuliah umum bertajuk Menyiapkan SDM Unggul Masa Depan di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Sumatera Barat, Rabu (8/7/2026). (Foto: Humas Kemnaker)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, MEDAN – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, hingga perubahan kebutuhan industri mulai mengubah cara dunia kerja beroperasi. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri dengan keterampilan yang relevan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, kemajuan teknologi bukan berarti menghilangkan seluruh profesi. Sebaliknya, yang berubah adalah cara seseorang bekerja sehingga kemampuan beradaptasi menjadi faktor penentu di masa depan.

"Perubahan teknologi saat ini banyak mengubah hal di industri, tetapi sebenarnya bukan menghilangkan profesinya, melainkan menghilangkan cara bekerjanya," kata Yassierli saat memberikan kuliah umum bertajuk Menyiapkan SDM Unggul Masa Depan di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Sumatera Barat, Rabu (8/7/2026).

Menurut Yassierli, tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak lagi sebatas menciptakan lapangan pekerjaan. Pemerintah juga harus memastikan angkatan kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri yang terus berkembang.

Karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus memperkuat program pelatihan vokasi melalui skema upskilling dan reskilling agar tenaga kerja Indonesia mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Yassierli menjelaskan, pemerintah membangun ekosistem ketenagakerjaan yang menyeluruh, mulai dari menyiapkan calon pekerja, membantu mereka memperoleh pekerjaan, hingga mendampingi selama menjalani karier.

"Saya bertanggung jawab mulai dari penyiapan angkatan kerja, mereka mencari kerja di industri, sampai kemudian mengantarkan mereka selesai bekerja. Itu adalah ekosistem yang harus kita bangun bersama," ujar Yassierli.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kemnaker mengembangkan platform digital SIAPkerja yang mengintegrasikan layanan pelatihan, sertifikasi kompetensi, informasi lowongan kerja, hingga program pemagangan dalam satu sistem.

Selain itu, pemerintah juga memperluas Program Pemagangan Nasional dengan target 150 ribu peserta agar lebih banyak calon tenaga kerja memiliki pengalaman kerja sebelum memasuki dunia industri.

Yassierli menilai langkah tersebut penting karena perkembangan AI, digitalisasi, dan ekonomi hijau (green economy) terus melahirkan jenis pekerjaan baru sekaligus mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai sektor.

Mengacu pada laporan World Economic Forum, ia menyebut transformasi teknologi akan membentuk struktur baru pasar kerja global. Sejumlah pekerjaan memang akan berkurang, tetapi profesi baru juga terus bermunculan sehingga pekerja dituntut terus belajar dan meningkatkan keterampilan.

Yassierli pun mendorong perguruan tinggi agar lebih cepat menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Lulusan, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan akademik, tetapi juga harus memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan.

Yassierli juga menyoroti perubahan pola rekrutmen di berbagai sektor. Kini perusahaan semakin mengutamakan kemampuan yang bisa dibuktikan dibanding sekadar latar belakang pendidikan formal.

"Saat ini industri semakin mengutamakan keterampilan. Yang dinilai bukan hanya ijazah, tetapi apa yang benar-benar mampu dikerjakan oleh seseorang," katanya.

Karena itu, Yassierli mengajak mahasiswa mulai mempersiapkan karier sejak masih duduk di bangku kuliah melalui pengalaman magang, pelatihan, sertifikasi kompetensi, kegiatan organisasi, hingga membangun portofolio.

"CV itu bukan dibuat ketika akan melamar pekerjaan, tetapi direncanakan sejak awal. Bangun pengalaman dan kumpulkan kompetensi. Itulah yang akan membuat seseorang siap bersaing di pasar kerja," tutup Yassierli.

(Sumber: Biro Humas Kemnaker)