GEBRAK.ID -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Iran masih memiliki kemampuan militer meski sebelumnya menjadi sasaran serangkaian serangan militer Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara.
Berbicara di hadapan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency/EPA) pada Kamis (23/7/2026), Trump menilai Iran tetap menjadi kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh.
"Mereka tangguh, dan mereka cerdas, serta mereka masih memiliki sebagian kemampuan," kata Trump.
Meski demikian, Trump membantah sejumlah laporan media di Amerika Serikat yang menyebut posisi Iran kini lebih kuat dibandingkan beberapa bulan lalu.
Menurut Trump, situasi justru berkembang lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat daripada yang diperkirakan sebelumnya. "Saya pikir keadaan bagi Amerika Serikat berkembang lebih baik daripada yang diperkirakan siapa pun," ujarnya.
Pernyataan Trump muncul setelah hubungan Washington dan Teheran kembali memanas. Sebelumnya, kedua negara sempat menandatangani memorandum penghentian konflik pada malam menjelang 18 Juni, yang mengatur upaya meredakan ketegangan setelah konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, situasi kembali berubah ketika Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran sejak 8 Juli.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis dunia untuk distribusi minyak dan gas.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah, sehingga eskalasi konflik kembali meningkat.
Dalam kesempatan itu, Trump juga menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sudah tidak lagi berlaku.
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa hubungan kedua negara masih berada dalam fase yang penuh ketidakpastian, meski sebelumnya sempat ada upaya meredakan konflik melalui jalur diplomasi.
(Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA)
