Defisit APBN Semester I 2026 Tembus Rp196,5 Triliun, Menkeu Purbaya Pastikan Tetap Aman di Bawah Batas 3%

 

Defisit APBN semester I 2026 mencapai Rp196,5 triliun. Menkeu Purbaya memastikan kondisi fiskal tetap aman dan target defisit di bawah 3%. ( Foto: kemenkeu) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA– Pemerintah mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester I 2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal nasional masih berada dalam koridor yang aman.

Dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026), Purbaya mengatakan besaran defisit pada enam bulan pertama tidak mencerminkan kondisi APBN hingga akhir tahun karena pola belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua.

"Defisit APBN dijaga di batas aman. Kalau kita pakai cara sama enam bulan 0,7 persen berarti kalau setahun 1,52 persen. Mereka akan tetap bilang anggaran parah. Ini angka terjadi betulan," ujar Purbaya. 

Ia menambahkan, meski belanja negara diproyeksikan meningkat pada paruh kedua 2026, pemerintah tetap optimistis defisit APBN tidak akan melampaui batas maksimal 3 persen terhadap PDB sebagaimana menjadi komitmen pengelolaan fiskal pemerintah. 

Pendapatan Negara Tumbuh Dua Digit

Dari sisi penerimaan, kinerja APBN menunjukkan tren positif. Pendapatan negara hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun, atau 46,3 persen dari target APBN 2026. Realisasi tersebut tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontributor terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang mencapai Rp1.187,8 triliun, setara 44,1 persen dari target tahunan dan meningkat 21,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). 

Peningkatan penerimaan dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menjaga ruang fiskal pemerintah di tengah meningkatnya kebutuhan belanja negara.

Belanja Negara Meningkat

Sementara itu, realisasi belanja negara hingga semester I 2026 mencapai Rp1.656 triliun, atau 43,1 persen dari pagu APBN. Angka tersebut tumbuh 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp1.296,8 triliun atau 41,2 persen dari pagu, dengan pertumbuhan mencapai 29,4 persen (yoy). Kenaikan ini mencerminkan percepatan pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah sepanjang 2026. 

Outlook Defisit Diperkirakan Naik pada Akhir Tahun

Meski kondisi semester pertama masih terkendali, Kementerian Keuangan memperkirakan defisit APBN akan meningkat pada semester II seiring percepatan belanja pemerintah.

Dalam paparannya di Banggar DPR, Purbaya memproyeksikan outlook defisit APBN 2026 mencapai sekitar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB. Angka tersebut masih berada di bawah ambang batas 3 persen sehingga dinilai tetap menjaga kredibilitas fiskal Indonesia. 

Sebelumnya, pemerintah dan DPR juga telah menegaskan komitmen untuk mempertahankan disiplin fiskal dengan menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara. 

Pemerintah berharap kombinasi pertumbuhan penerimaan negara dan pengelolaan belanja yang terukur dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

( berbagai sumber)