Era Robotika Dimulai, Kemendikdasmen Siapkan Lulusan SMK Rebut Peluang Kerja Masa Depan

Direktur SMK Kemendikdasmen, Arie Wibowo, mengatakan perkembangan teknologi membuat robotika tidak lagi sekadar menjadi inovasi masa depan. Saat ini, teknologi tersebut telah diterapkan secara luas di berbagai industri sehingga kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan di bidang otomasi dan robotika terus meningkat. (Foto ilustrasi: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi agar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) siap menghadapi transformasi industri berbasis teknologi. Salah satu fokus yang kini didorong adalah penguasaan kompetensi robotika yang dinilai membuka peluang karier baru di berbagai sektor.

Direktur SMK Kemendikdasmen, Arie Wibowo, mengatakan perkembangan teknologi membuat robotika tidak lagi sekadar menjadi inovasi masa depan. Saat ini, teknologi tersebut telah diterapkan secara luas di berbagai industri sehingga kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan di bidang otomasi dan robotika terus meningkat.

"Robotika telah digunakan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, otomotif, makanan dan minuman, elektronik, hingga pergudangan. Kebutuhan tenaga kerja pun bergeser dari pekerjaan manual menuju pekerjaan yang menuntut kemampuan mengoperasikan, memelihara, hingga mengembangkan sistem otomatis," ujar Arie dalam webinar bertajuk Menciptakan Masa Depan: Robotika sebagai Peluang Karier bagi Murid SMK di Jakarta, seperti dikutip dalam siaran pers Kemendikdasmen, Minggu (19/7/2026).

Menurut Arie, lulusan SMK sebenarnya telah memiliki bekal kompetensi melalui berbagai program keahlian, seperti Teknik Mekatronika, Teknik Elektronika Industri, Teknik Otomasi Industri, Teknik Pemesinan, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), hingga Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Namun, dunia kerja saat ini membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya menguasai satu bidang, melainkan mampu mengintegrasikan berbagai kompetensi sekaligus. "Ini adalah era multi-skill. Kompetensi yang telah dimiliki SMK perlu semakin diperkuat agar selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri," kata Arie.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Direktorat SMK terus melakukan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Langkah yang ditempuh antara lain meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat kompetensi guru dan tenaga kependidikan, serta melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran di sekolah.

Selain itu, kolaborasi dengan industri juga diperluas melalui keterlibatan praktisi sebagai pengajar serta penyelenggaraan program magang bagi siswa maupun lulusan SMK di bidang robotika dan otomasi industri.

Meski demikian, Arie mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi. Di antaranya belum meratanya laboratorium robotika dengan standar industri di berbagai SMK serta masih terbatasnya jumlah guru yang memiliki pengalaman praktik langsung di bidang robotika.

Kendati demikian, Arie optimistis tantangan tersebut dapat diatasi melalui kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah, sekolah, dan dunia industri. "Kami meyakini membangun ekosistem pendidikan vokasi bukan hanya sebuah program, melainkan gerakan bersama. SMK harus adaptif, industri harus kolaboratif, dan pemerintah harus memberikan dukungan," jelasnya.

Arie menambahkan, kehadiran robot bukan berarti menggantikan seluruh peran manusia. Sebaliknya, perkembangan teknologi justru melahirkan profesi baru yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti integrator sistem robotika, programmer otomasi, teknisi pemeliharaan robot, analis data industri, hingga pengembang solusi berbasis otomatisasi.

Dengan penguatan kompetensi tersebut, Kemendikdasmen berharap lulusan SMK semakin siap memasuki dunia kerja sekaligus mampu bersaing di era industri digital yang terus berkembang.

(Sumber: Kemendikdasmen)