![]() |
| Harga minyak dunia turun tajam setelah damai AS-Iran memulihkan pasokan global dan memicu kekhawatiran kelebihan suplai minyak. ( Foto: pertamina) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuka kembali arus pasokan minyak global. Perubahan situasi geopolitik tersebut membuat kekhawatiran pasar bergeser dari ancaman kekurangan pasokan menjadi risiko kelebihan suplai.
Mengutip Bloomberg, Minggu (5/7/2026), harga minyak turun setelah pelaku pasar menilai meredanya ketegangan di Timur Tengah akan memperlancar distribusi minyak dari kawasan Teluk, termasuk melalui Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi titik kekhawatiran utama perdagangan energi dunia.
Beberapa bulan lalu, konflik di Timur Tengah sempat memicu lonjakan harga minyak akibat terganggunya pasokan global. Saat itu, pasar khawatir penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan menghambat distribusi hampir seperlima perdagangan minyak dunia.
Kini, kondisi berbalik. Kembalinya aktivitas pengiriman minyak serta membaiknya hubungan diplomatik antara AS dan Iran memicu ekspektasi pasokan akan meningkat dalam waktu dekat.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi rencana peningkatan produksi dari negara-negara produsen minyak. Kombinasi pasokan yang bertambah dengan pertumbuhan permintaan yang melambat membuat harga minyak berada dalam tekanan.
Hasil jajak pendapat Reuters terhadap para analis menunjukkan proyeksi harga minyak tahun 2026 direvisi turun untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir. Penurunan tersebut didorong oleh pulihnya arus pasokan melalui Selat Hormuz serta berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Di sisi lain, prospek permintaan minyak juga belum sepenuhnya kuat. Perlambatan konsumsi di sejumlah negara, terutama China sebagai importir minyak terbesar dunia, menjadi faktor yang turut membatasi kenaikan harga minyak global.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) telah kehilangan sebagian besar kenaikan yang sempat terjadi saat konflik memanas. Bahkan, harga keduanya kembali mendekati level sebelum perang pecah.
Meski demikian, analis menilai pasar masih akan mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran. Jika implementasi kesepakatan damai berjalan lancar dan ekspor minyak Iran terus meningkat, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, apabila terjadi kembali gangguan pasokan atau ketegangan geopolitik baru di kawasan Timur Tengah, harga minyak masih berpeluang berbalik menguat karena kawasan tersebut tetap menjadi pusat produksi energi dunia.
( berbagai sumber)
