Honda Kehilangan Taji Penjualan Anjlok Hampir 60 Persen dalam Empat Tahun

Produsen otomotif Jepang, Honda, tengah menghadapi tekanan besar di pasar China. Dalam empat tahun terakhir, penjualan perusahaan tersebut tercatat merosot hampir 60 persen di tengah semakin ketatnya persaingan dengan produsen kendaraan listrik lokal. (Foto: Honda Sukun Malang)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Produsen otomotif Jepang, Honda, tengah menghadapi tekanan besar di pasar China. Dalam empat tahun terakhir, penjualan perusahaan tersebut tercatat merosot hampir 60 persen di tengah semakin ketatnya persaingan dengan produsen kendaraan listrik lokal.

Meski menghadapi penurunan penjualan yang signifikan, Honda justru memutuskan memperpanjang kerja sama usaha patungannya dengan Guangzhou Automobile Group (GAC) selama 10 tahun. Langkah ini diambil sebagai upaya mempertahankan posisi di pasar otomotif terbesar di dunia.

Berdasarkan laporan CarsCoops, Kamis (23/7/2026), kolaborasi Honda dan GAC yang telah terjalin sejak 1999 kini diperpanjang hingga 2038. Selama lebih dari dua dekade, kemitraan tersebut telah menghasilkan dan menjual lebih dari 11 juta kendaraan di China.

Namun, kinerja bisnis Honda dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan. Pada 2020, Honda masih mampu membukukan penjualan sekitar 1,62 juta unit melalui GAC Honda dan Dongfeng Honda.

Angka tersebut terus menyusut hingga pada 2025 hanya tersisa sekitar 640 ribu unit. Dari total tersebut, sekitar 340 ribu unit berasal dari GAC Honda, sementara sisanya disumbangkan Dongfeng Honda.

Juru bicara Honda menjelaskan keputusan memperpanjang kemitraan dengan GAC dilakukan setelah perusahaan mempertimbangkan perubahan yang berlangsung sangat cepat di industri otomotif China.

Perubahan tersebut terutama dipicu meningkatnya dominasi produsen lokal yang agresif mengembangkan kendaraan listrik dengan teknologi modern, fitur melimpah, dan harga yang lebih kompetitif dibandingkan merek global.

Perubahan Preferensi Konsumen

Penurunan penjualan Honda juga mencerminkan bergesernya selera konsumen di China. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin memilih merek domestik yang dinilai mampu menawarkan inovasi lebih cepat serta harga yang lebih terjangkau.

Untuk merespons kondisi tersebut, Honda mulai memperkenalkan lini kendaraan listrik khusus pasar China melalui seri Ye pada 2024. Model P7 diproduksi bersama GAC, sedangkan S7 dikembangkan melalui Dongfeng Honda.

Namun hingga kini, kedua model tersebut belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan ataupun menarik minat konsumen dalam skala besar.

Tantangan Bisnis Semakin Berat

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan Honda di China bukan hanya mempertahankan eksistensi, tetapi juga mengembangkan produk yang benar-benar mampu bersaing dengan merek lokal yang kini mendominasi segmen kendaraan listrik.

Keberhasilan strategi elektrifikasi dan penguatan kolaborasi dengan mitra lokal akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah Honda mampu kembali meningkatkan penjualannya di pasar otomotif paling kompetitif di dunia.

Bagi Honda, China tetap menjadi pasar strategis. Namun, tanpa inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen lokal, tekanan terhadap kinerja bisnis diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

(Sumber: Carscoops)