Editor: Devona R
SMP Maritim Mola, di Kampung Mola, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang berdiri di atas laut. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, JAKARTA -- Pemandangan berbeda terlihat di Kampung Mola, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di kawasan yang didominasi perairan ini, rumah-rumah masyarakat Suku Bajo berdiri di atas laut.
Uniknya, SMP Maritim Mola, tempat anak-anak melanjutkan pendidikan menengah, juga berada di lingkungan yang sama. Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi momen istimewa bagi para murid baru.
Mereka mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah dengan suasana yang hangat dan inklusif, sekaligus menikmati berbagai fasilitas pendidikan yang kini jauh lebih baik berkat dukungan pemerintah.
Ruang kelas hasil revitalisasi, perpustakaan baru, papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP), Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga toilet baru menjadi pengalaman pertama yang dirasakan para siswa saat memasuki sekolah.
Suasana semakin akrab ketika Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengunjungi sekolah tersebut pada Kamis (16/7/2026). Alih-alih memberikan pidato formal, ia memilih berdialog santai dengan sekitar 30 murid baru.
Wamen Fajar mengajukan pertanyaan sederhana, mulai dari asal daerah, teman baru, hingga menu makan siang yang mereka nikmati. Cara itu membuat para siswa lebih rileks dan berani berinteraksi.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari semangat MPLS Ramah yang diterapkan di SMP Maritim Mola. Sekolah tidak hanya mengenalkan lingkungan belajar dan tata tertib, tetapi juga menanamkan nilai saling menghormati sejak hari pertama.
"Kami sangat menekankan anti bullying saat MPLS. Hal ini juga agar mereka merasa tidak terintimidasi dan merasa diterima di sekolah," ujar Satria, salah seorang guru SMP Maritim Mola.
Perubahan besar juga tampak pada kondisi fisik sekolah. Sebelum direvitalisasi, ruang kelas mengalami banyak kerusakan, mulai dari atap bocor, lantai yang rapuh hingga bangunan yang mulai lapuk sehingga mengganggu proses belajar mengajar.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,96 miliar untuk membangun empat ruang kelas baru, perpustakaan, ruang administrasi, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), dua unit toilet, serta merehabilitasi laboratorium IPA.
"Sebelum rehabilitasi, ruang kelas kami memang luar biasa rusak. Saat ini kami lebih nyaman melaksanakan pembelajaran dan murid juga merasa lebih aman. Dulu kalau hujan proses belajar sering terganggu, tetapi sekarang sekolah jauh lebih nyaman," kata Satria.
Selain fasilitas belajar, Program Makan Bergizi Gratis juga memberikan pengalaman baru bagi para siswa. Dalam dialog bersama Wamen, beberapa murid mengaku baru pertama kali mencicipi buah melon dan semangka yang disajikan dalam menu makan siang sekolah.
Menurut Wamen Fajar, pengalaman sederhana tersebut menunjukkan bahwa Program MBG bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga memperluas pengetahuan mereka mengenai makanan sehat dan bergizi.
Transformasi pembelajaran juga diperkuat dengan hadirnya papan interaktif digital atau IFP. Teknologi tersebut membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.
"Kalau pakai IFP, pelajaran bisa lebih jelas, nyaman, dan lebih nampak. Kalau dulu belajar biasanya harus maju ke depan untuk melihat gambar," ujar salah seorang murid.
Wamen Fajar menegaskan bahwa letak geografis bukan lagi penghalang bagi anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan berkualitas. "Adik-adik yang tinggal di Wakatobi bisa jadi orang-orang hebat di Indonesia. Jangan kalah sama orang Jakarta," ujar dia.
Wamen Fajar menambahkan, materi pembelajaran yang dipelajari siswa melalui IFP di Wakatobi sama dengan yang diterima anak-anak di Jakarta, Bandung maupun Surabaya.
SMP Maritim Mola berada di tengah permukiman masyarakat Suku Bajo. Banyak siswanya membantu orang tua melaut atau memancing sepulang sekolah. Karena itu, kehadiran sekolah yang aman, nyaman, dan didukung fasilitas memadai menjadi langkah penting untuk memastikan anak-anak di wilayah kepulauan memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Usai mengunjungi SMP Maritim Mola, Wamen Fajar melanjutkan peninjauan ke SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi yang juga berdiri di atas perairan dan telah menerima program revitalisasi pada 2025. Kunjungan tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat pemerataan pendidikan hingga ke wilayah terluar Indonesia.
(Sumber: Kemendikdasmen)
