![]() |
| PLN akan membangun PLTS terapung di 10.000 hektare waduk di Jawa untuk menghasilkan listrik hijau 10,3 GWp dengan dukungan BESS. ( Foto: esdm) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – PT PLN (Persero) menyiapkan langkah besar dalam mempercepat transisi energi nasional dengan memanfaatkan sekitar 10.000 hektare permukaan waduk di Pulau Jawa untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung. Proyek tersebut menjadi bagian dari target pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan pemerintah.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan pemanfaatan waduk menjadi solusi atas keterbatasan lahan darat yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berskala besar.
Menurutnya, pemanfaatan waduk tidak hanya menghemat kebutuhan lahan, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing biaya pembangkitan listrik karena tidak memerlukan pembebasan tanah yang mahal.
"Ditambah juga ada pembangunan PLTS dengan Battery Energy Storage System (BESS) di waduk-waduk yaitu sebesar 10.000 hektare. Ini hanya di Pulau Jawa saja, artinya menambah sekitar 10 gigawatt peak," kata Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.
PLN memperkirakan pemanfaatan permukaan waduk tersebut dapat menghasilkan kapasitas listrik mencapai sekitar 10,3 gigawatt peak (GWp). Untuk menjaga keandalan pasokan listrik yang dihasilkan panel surya, proyek ini akan dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas total 30 gigawatt hour (GWh).
Darmawan menjelaskan, pihaknya kini terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar pemanfaatan aset negara berupa waduk dapat segera direalisasikan.
Harga Lahan Jadi Tantangan
PLN menilai biaya lahan menjadi salah satu faktor yang paling menentukan keekonomian proyek PLTS. Semakin tinggi harga tanah, semakin besar pula biaya produksi listrik yang harus ditanggung.
Menurut perhitungan perusahaan, setiap kenaikan harga lahan sebesar Rp200 ribu per meter persegi dapat meningkatkan biaya listrik sekitar 1 sen dolar AS per kWh. Jika harga lahan mencapai Rp600 ribu per meter persegi, biaya pembangkitan dapat naik hingga sekitar 3 sen dolar AS per kWh.
Karena itu, penggunaan waduk milik pemerintah dinilai mampu memangkas biaya investasi secara signifikan sehingga proyek PLTS dengan BESS menjadi lebih kompetitif dibandingkan pembangunan di lahan komersial.
Pemerintah Siapkan Lahan Darat 28.000 Hektare
Selain memanfaatkan waduk, pemerintah juga menyiapkan lahan darat sekitar 28.000 hektare di Pulau Jawa guna mendukung pembangunan PLTS 100 GW.
PLN bersama Kementerian ATR/BPN dan Kementerian ESDM tengah melakukan pemetaan lokasi dengan mengintegrasikan usulan lahan terhadap jaringan transmisi dan gardu induk yang telah tersedia.
Dari total lahan yang diusulkan tersebut, sekitar 8.500 hektare dinilai telah siap dimanfaatkan untuk membangun PLTS berkapasitas sekitar 8,5 GWp. Seluruh proyek tersebut juga direncanakan menggunakan sistem penyimpanan energi berbasis baterai agar pasokan listrik tetap stabil ketika produksi listrik tenaga surya menurun.
Percepat Target Energi Bersih
Program pembangunan PLTS terapung dan PLTS darat merupakan bagian dari strategi pemerintah mempercepat bauran energi baru terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Sejumlah proyek PLTS terapung juga telah berjalan di Indonesia, termasuk pengembangan PLTS Terapung Karangkates di Jawa Timur berkapasitas sekitar 133 MWp, yang menjadi salah satu proyek percontohan optimalisasi waduk untuk pembangkitan energi bersih.
(berbagai sumber)
