Rekor Buruk Penalti Piala Dunia

Tendangan penalti selama ini identik dengan peluang emas untuk mencetak gol. Namun, fakta yang tersaji di Piala Dunia 2026 justru menunjukkan hal sebaliknya. Turnamen edisi kali ini mencatat tingkat keberhasilan penalti terendah sepanjang sejarah Piala Dunia modern. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID – Tendangan penalti selama ini identik dengan peluang emas untuk mencetak gol. Namun, fakta yang tersaji di Piala Dunia 2026 justru menunjukkan hal sebaliknya. Turnamen edisi kali ini mencatat tingkat keberhasilan penalti terendah sepanjang sejarah Piala Dunia modern.

Berdasarkan data Opta Analyst, Kamis (9/7/2026) hingga berakhirnya babak 16 besar, termasuk adu penalti, telah terjadi 59 eksekusi dari titik putih. Dari jumlah tersebut, hanya 39 yang berhasil dikonversi menjadi gol, sementara 20 lainnya gagal.

Artinya, tingkat keberhasilan penalti di Piala Dunia 2026 hanya mencapai 66,1 persen. Angka itu menjadi yang terendah sejak pencatatan statistik dimulai pada Piala Dunia 1966.

Tren Penurunan Terus Berlanjut

Fenomena ini ternyata bukan terjadi secara tiba-tiba. Dalam beberapa edisi terakhir, efektivitas tendangan penalti memang terus mengalami penurunan.

Berikut persentase keberhasilan penalti di Piala Dunia sejak 1990:

- 1990: 73,2 persen

- 1994: 75,0 persen

- 1998: 80,4 persen (tertinggi)

- 2002: 70,3 persen

- 2006: 68,0 persen

- 2010: 69,7 persen

- 2014: 77,6 persen

- 2018: 70,6 persen

- 2022: 67,2 persen

- 2026: 66,1 persen (terendah)

Jika melihat lebih jauh ke belakang, seluruh 13 penalti yang terjadi pada Piala Dunia 1966 dan 1970 bahkan sukses dikonversi menjadi gol tanpa satu pun kegagalan.

Mengapa Penalti Kini Makin Sulit?

Secara teori, kehadiran teknologi Video Assistant Referee (VAR) seharusnya memberi keuntungan bagi para penendang penalti. VAR mampu mengawasi posisi kiper yang meninggalkan garis gawang lebih awal maupun pelanggaran pemain yang memasuki kotak penalti sebelum bola ditendang. Jika terjadi pelanggaran, tendangan dapat diulang.

Namun, realitas di lapangan justru memperlihatkan hasil yang berbeda.

Salah satu faktor yang dinilai paling berpengaruh adalah pesatnya perkembangan analisis data dalam sepak bola modern. Hampir seluruh tim kini memiliki bank data yang sangat detail mengenai kebiasaan para eksekutor penalti lawan.

Mulai dari arah tendangan favorit, pola ancang-ancang, kecepatan bola, hingga tingkat keberhasilan setiap pemain telah dipelajari secara mendalam sebelum pertandingan berlangsung.

Dengan bekal informasi tersebut, para penjaga gawang menjadi jauh lebih siap membaca arah bola dan mengambil keputusan saat menghadapi duel satu lawan satu dari titik putih.

Tak Lagi Menjamin Gol

Data Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa penalti tidak lagi bisa dianggap sebagai gol yang hampir pasti tercipta. Meskipun peluangnya masih lebih besar dibanding situasi permainan terbuka, perkembangan kualitas kiper, analisis data, dan persiapan taktik membuat eksekusi dari titik putih kini semakin sulit ditaklukkan.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana sepak bola modern terus berkembang, di mana kecanggihan teknologi dan analisis statistik ikut mengubah jalannya pertandingan hingga ke detail sekecil tendangan penalti.

(Sumber: Opta Analyst)