SPMB 2026 di Padang Dinilai Makin Ramah dan Transparan, Orang Tua Murid Berkebutuhan Khusus Merasa Terlayani

Pepi Mulyasari (kanan) yang mendaftarkan putranya, seorang anak penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), ke SLBN 1 Padang, Sumatera Barat. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, PADANG – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di sejumlah sekolah menengah di Kota Padang, Sumatera Barat, mendapat apresiasi dari masyarakat. Proses penerimaan peserta didik dinilai berlangsung lebih transparan, akuntabel, dan inklusif sehingga memberikan rasa nyaman bagi calon murid maupun orang tua.

Penerapan layanan yang ramah terlihat di berbagai satuan pendidikan, mulai dari Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tidak hanya mengedepankan keterbukaan informasi, sekolah juga memberikan pendampingan kepada calon murid agar dapat mengikuti seluruh tahapan pendaftaran dengan baik.

Salah satu pengalaman positif datang dari Pepi Mulyasari yang mendaftarkan putranya, seorang anak penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), ke SLBN 1 Padang.

Bagi Pepi, proses pendaftaran bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi. Ia berharap putranya memperoleh layanan pendidikan yang mampu mendukung perkembangan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Sebelumnya, Pepi sempat dihantui kekhawatiran mengenai stigma terhadap anak berkebutuhan khusus. Namun, pelayanan yang diberikan pihak sekolah membuat rasa cemas itu perlahan menghilang.

"Kami merasa sangat diperhatikan. Semua dijelaskan dengan rinci dan tidak terburu-buru. Harapan saya sederhana, anak saya bisa belajar dengan nyaman dan mendapatkan pelayanan yang sesuai hingga bisa menggali kemampuannya serta berkembang sesuai minat dan bakatnya. Keistimewaan yang dititipkan akan saya rawat hingga ia meraih masa depannya," ujar Pepi seperti dalam siaran pers Kemendikdasmen, Minggu (5/7/2026).

Pengalaman tersebut menjadi gambaran bagaimana pelaksanaan SPMB Ramah di Sumatera Barat mulai menghadirkan layanan pendidikan yang lebih berpihak kepada kebutuhan setiap peserta didik, termasuk penyandang disabilitas.

Tidak hanya di SLBN 1 Padang, pelayanan serupa juga diterapkan di SMKN 6 Padang. Panitia memastikan seluruh informasi mengenai mekanisme pendaftaran dapat diakses secara terbuka sehingga memudahkan masyarakat memahami setiap tahapan seleksi.

Guru SMKN 6 Padang yang juga menjadi panitia SPMB, Annisa Fitria, mengatakan proses administrasi berjalan lancar. Meski demikian, pihak sekolah masih menghadapi tantangan dalam memberikan pendampingan kepada calon murid yang belum mantap menentukan pilihan jurusan.

"Secara prosedur administrasi, pelaksanaan SPMB di SMKN 6 Padang berjalan lancar. Pihak sekolah berupaya memberikan pelayanan yang membantu orang tua dan calon murid. Tantangan kami adalah mengarahkan calon murid karena masih banyak yang bimbang menentukan salah satu dari dua konsentrasi keahlian yang mereka pilih," jelas Annisa.

Kesan positif juga disampaikan calon murid SMAN 12 Padang, Zahran Ai Syerky. Menurutnya, keterbukaan informasi dari pihak sekolah membuat proses pendaftaran berlangsung lebih mudah dipahami.

"Informasinya lengkap dan mudah dipahami. Kalau ada yang kurang jelas, guru langsung membantu menjelaskan sehingga kami lebih tenang mengikuti proses pendaftaran. Kendalanya hanya antrean yang cukup panjang karena banyak pendaftar, tetapi secara keseluruhan prosesnya aman dan lancar," kata Zahran.

Pemerintah pun menegaskan bahwa penyelenggaraan SPMB tidak hanya berfokus pada proses seleksi, tetapi juga menjadi pintu pertama dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan kepercayaan publik terhadap sistem penerimaan murid baru dibangun melalui pelayanan yang profesional, komunikasi yang terbuka, serta pelaksanaan seleksi sesuai ketentuan.

"SPMB merupakan pintu masuk layanan pendidikan. Karena itu, seluruh satuan pendidikan harus memastikan proses penerimaan berjalan secara terbuka, jelas, dan inklusif. Pelaksanaan SPMB Ramah bukan hanya proses penerimaan calon murid baru, tetapi juga menjadi gerbang pertama pengalaman positif bagi murid dan orang tua untuk memperoleh pendidikan yang bermutu," tegas Tatang.

Pelaksanaan SPMB Ramah di Kota Padang menunjukkan bahwa proses penerimaan peserta didik tidak lagi sekadar menjadi tahapan administratif. 

Dengan pelayanan yang terbuka, pendampingan yang humanis, serta kesempatan yang setara bagi seluruh calon murid, termasuk anak berkebutuhan khusus, sekolah dapat membangun kepercayaan masyarakat sekaligus mewujudkan sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan berkualitas.

(Sumber: Kemendikdasmen)