593 Titik Panas Terdeteksi di Kalteng, Pemadaman Karhutla Terkendala Medan dan Minim Air

Karhutla meluas di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Tim gabungan memperkuat operasi darat dan udara untuk mengendalikan titik api.

1786348643685



Editor: Damar Pratama


GEBRAK.ID,PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi perhatian serius memasuki puncak musim kemarau. Upaya pemadaman di sejumlah lokasi menghadapi kendala berupa medan yang sulit dijangkau serta terbatasnya sumber air.


Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, terdeteksi 593 titik panas (hotspot) di Kalteng berdasarkan pemantauan satelit pada 7 Agustus 2026.
Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot cukup tinggi di sejumlah kabupaten. Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 149 titik.


Selanjutnya, hotspot terdeteksi di Kabupaten Kapuas sebanyak 78 titik, Kota Palangka Raya 59 titik, Pulang Pisau 57 titik, Seruyan 54 titik, dan Sukamara 53 titik. BMKG juga mendeteksi sebaran asap di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.


Medan sulit dan sumber air terbatas


Kondisi tersebut membuat operasi pengendalian karhutla membutuhkan strategi khusus. Tim di lapangan tidak hanya menghadapi luasnya wilayah yang harus dipantau, tetapi juga lokasi kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.


Keterbatasan sumber air menjadi persoalan lain, terutama ketika petugas harus melakukan pembasahan pada lahan gambut. Di sejumlah lokasi, tim gabungan memanfaatkan sumur bor sebagai sumber air alternatif untuk mendukung proses pemadaman dan pembasahan lahan.


ANTARA sebelumnya melaporkan pemadaman karhutla di Palangka Raya menghadapi persoalan minimnya sumber air. Tim gabungan kemudian menggunakan sumur bor agar proses pembasahan lahan gambut dapat dilakukan secara lebih efektif.


Operasi darat dan udara diperkuat
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat operasi pengendalian karhutla melalui pengerahan satuan tugas gabungan. Penanganan dilakukan melalui patroli dan pemadaman dari darat maupun udara.


Dalam operasi tersebut, unsur BPBPK, TNI, Polri, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur terkait lainnya dilibatkan.
Sebelumnya, pemerintah daerah juga telah menyiapkan dukungan personel, logistik dan peralatan untuk menghadapi peningkatan ancaman karhutla.

Empat helikopter disiapkan untuk mendukung patroli udara dan operasi penanganan di wilayah rawan. Pemprov Kalteng menyebut operasi gabungan terus diperkuat dengan mengoptimalkan pemantauan hotspot, patroli udara dan patroli darat. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi sekaligus mencegah api meluas ke wilayah lain.


Ancaman karhutla meningkat saat musim kemarau


Peningkatan hotspot terjadi di tengah kondisi musim kemarau yang semakin terasa di berbagai wilayah Indonesia. BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa kondisi kering pada awal Agustus 2026 masih berlanjut. Analisis BMKG menunjukkan musim kemarau telah meluas, sementara pengaruh El Niño turut meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla di sejumlah daerah.


Dalam prakiraan periode 7–13 Agustus 2026, BMKG juga menyebut sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan. Namun, kondisi kering tetap perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan kemudahan terjadinya kebakaran, khususnya pada lahan yang mudah terbakar.


Dengan tingginya jumlah hotspot dan kondisi lapangan yang menantang, pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan pemantauan dan pemadaman. Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran di tengah kondisi cuaca yang relatif kering.

(berbagai sumber )




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *